Netanyahu Tolak Hentikan Serangan ke Gaza, Sebut Palestina Negara Berbahaya
JAKARTA, Investortrust.id - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menolak persyaratan yang diajukan oleh Hamas pada Minggu (21/1/2024) untuk mengakhiri perang dan membebaskan sandera, termasuk penarikan total tentara Israel dari Gaza.
“Sebagai imbalan atas pembebasan sandera kami, Hamas menuntut diakhirinya perang, penarikan pasukan kami dari Gaza, pembebasan semua pembunuh dan pemerkosa. Saya langsung menolak syarat penyerahan monster Hamas,” kata Netanyahu, dilansir dari The New Arab, Senin (22/1/2024).
Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 25.000 warga Palestina. Israel dituduh melakukan kejahatan perang dan genosida, karena serangan militer brutal dan kekejaman yang dilakukan di wilayah tersebut.
“Saya tidak akan berkompromi mengenai kendali penuh keamanan Israel atas seluruh wilayah sebelah barat Sungai Yordan,” kata Netanyahu.
Baca Juga
100 Hari Perang Hamas – Israel, China Minta Pendirian Negara Palestina
Lebih lanjut, Netanyahu pun menjelaskan alasannya tidak menghentikan serangan terhadap Hamas dan warga Palestina. Menurutnya, Palestina adalah negara yang menimbulkan bahaya bagi Israel.
“Desakan saya adalah hal yang selama bertahun-tahun menghalangi pembentukan negara Palestina yang akan menimbulkan bahaya nyata bagi Israel,” tegas dia.
Netanyahu sendiri disebut menghadapi tekanan besar dari pihak internasional maupun internal. Pada akhir November 2023 Amerika Serikat, Qatar dan Mesir mencoba menengahi persoalan ini agar menghasilkan kesepakatan pembebasan lebih 100 orang dari sekitar 240 sandera yang ditawan di Gaza oleh militan Hamas.
Sebagai timbal baliknya, Israel mesti membebaskan 240 wanita dan anak-anak Palestina yang ditahan di penjara-penjara mereka. Namun, sejak perjanjian itu berakhir, Netanyahu menghadapi tekanan yang semakin besar untuk menjamin pembebasan 136 orang yang masih disandera.

