Wall Street Menguat Setelah Trump Singkirkan Opsi Militer Terkait Greenland
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham Amerika Serikat (AS) menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) 2026, Davos, Swiss bahwa ia tidak akan menggunakan kekuatan untuk memperoleh Greenland. Hal ini meredakan kekhawatiran pasar yang sebelumnya sempat terguncang.
Baca Juga
Trump di Davos: AS Tak Akan Gunakan Kekuatan untuk Ambil Greenland, Dahulukan Negosiasi
Dikutip dari CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 331 poin, atau 0,7%. S&P 500 menguat 0,8%, sementara Nasdaq Composite naik 0,7%.
Harga obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berbalik menguat dan imbal hasilnya turun setelah pernyataan Trump. Indeks dolar AS memangkas penurunannya terhadap mata uang lain.
Meski menyingkirkan opsi aksi militer, Trump mengatakan bahwa ia sedang “mencari perundingan segera untuk kembali membahas akuisisi Greenland oleh Amerika Serikat.”
Presiden juga mengatakan dalam pidatonya di Davos bahwa ia akan meminta Kongres untuk menerapkan usulan batas suku bunga kartu kredit sebesar 10%, sebuah prospek yang belum pasti mengingat minimnya dukungan dari para anggota parlemen. Pernyataan tersebut mendorong saham-saham perbankan naik. Saham Citigroup menguat sekitar 2%, sementara Capital One naik lebih dari 1%.
Kekhawatiran Pasar
Saham-saham membukukan penurunan tajam pada Selasa setelah Trump meningkatkan ancaman tarif terkait Greenland dan gagal menyingkirkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil wilayah yang dikuasai Denmark tersebut. Ketiga indeks acuan mencatat kinerja harian terburuk sejak 10 Oktober. Aksi jual itu juga menyeret S&P 500 dan Nasdaq ke wilayah negatif untuk tahun 2026.
Apa yang disebut sebagai perdagangan “jual Amerika” pada Selasa disertai lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pelemahan dolar AS. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun melonjak dan sempat menembus 4,3% pada titik tertinggi hari itu.
Baca Juga
Ancaman Tarif Trump Picu Aksi ‘Jual Amerika’: Dolar dan Obligasi AS Jatuh, Emas Tembus Rekor Baru
“America First secara diam-diam mendorong diversifikasi menjauh dari aset dolar, terutama di kalangan entitas pemerintah,” tulis Joyce Chang, ketua riset global JPMorgan, dalam sebuah catatan. “Meski kami telah lama berpendapat bahwa dolar mempertahankan dominasi transaksi valasnya, narasi ‘Jual Amerika’ tentang diversifikasi menjauh dari aset dolar telah muncul kembali secara senyap namun terus-menerus.”
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada para wartawan di Davos pada Rabu bahwa pemerintahan Trump “tidak khawatir” dengan aksi jual sehari sebelumnya.
Pada Selasa, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut proposal tarif baru Trump sebagai sebuah “kesalahan” yang akan menyeret Eropa dan Amerika Serikat ke dalam “spiral penurunan yang berbahaya.” Ia mengatakan, “Respons kami akan tegas, bersatu, dan proporsional,” seraya menambahkan bahwa Uni Eropa berdiri dalam “solidaritas penuh” dengan Greenland dan Denmark.
Berbicara di WEF pada Selasa, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa salah satu kemungkinan respons terhadap tarif baru AS adalah menggunakan Instrumen Anti-Koersi (Anti-Coercion Instrument/ACI) Uni Eropa, yang akan membatasi akses bisnis AS ke pasar tunggal Eropa. Pemicu ACI dapat mengecualikan pemasok Amerika dari partisipasi dalam tender publik Uni Eropa, memberlakukan pembatasan ekspor dan impor atas barang dan jasa, serta membatasi investasi asing langsung.

