PM Qatar: Sistem Global Perlu Pembaharuan Signifikan
DAVOS, investortrust.id -- Tatanan dan sistem global mengalami perubahan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan kecepatan semakin tinggi. Untuk itu, sistem global kini membutuhkan pembaruan yang signifikan.
Khusus di kawasan Timur Tengah, ketidakpastian masih sangat besar. Potensi konflik bisa terjadi kapan saja jika tidak ditangani secara hati-hati. Itulah sebabnya, perlu pemikiran ulang arsitektur keamanan kawasan dan mulai membangun kembali kepercayaan satu sama lain. Sebab, ketidakpercayaan yang terus berlanjut bakal memperbesar risiko konflik. Sudah saatnya kawasan ini bersatu dan memastikan tidak ada satu pun negara yang menjadi ancaman bagi negara lainnya.
Demikian pandangan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani saat menjadi pembicara dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Selasa (20/1/2026). Berikut diskusi selengkapnya President and CEO of the World Economic Forum (WEF), Borge Brende dengan Sheikh Mohammed.
Menurut Anda, apakah kondisi dunia saat ini lebih baik atau justru lebih buruk dibandingkan tahun lalu?
Jika harus menjelaskannya secara jujur, saya melihat dunia saat ini jauh lebih kompleks. Kita berada pada momen yang sangat menentukan. Perubahan terjadi dengan kecepatan yang belum pernah kita alami sebelumnya.
Ini adalah saat di mana kita perlu bersikap tenang dan bijaksana, memahami apa yang sedang terjadi, serta mencari cara untuk menghadapi perubahan tersebut agar kita menjadi lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih cerdas dalam menangani persoalan maupun konflik.
Sejak Perang Dunia II, dunia memiliki tatanan dan sistem global yang relatif stabil selama beberapa dekade. Namun dalam beberapa dekade terakhir, kita menyaksikan perubahan besar yang belum pernah kita alami sebelumnya. Perubahan ini sebenarnya telah berlangsung lama, tetapi baru benar-benar terasa dalam beberapa tahun terakhir karena kecepatannya yang semakin tinggi.
Baca Juga
Macron Tegaskan Eropa Harus Lindungi Perekonomiannya agar Keluar dari Stagnasi
Inilah sebabnya mengapa banyak orang kini merasa bahwa “sesuatu sedang terjadi.” Sistem global saat ini membutuhkan pembaruan yang signifikan, sesuatu yang tidak kita lihat selama dua dekade terakhir.
Jika kita fokus ke Timur Tengah, kita melihat banyak dinamika: potensi eskalasi dengan Iran, presiden baru di Suriah, pemerintahan baru di Lebanon, ketidakpastian di Yaman, serta situasi di Gaza. Menurut Anda, apa tantangan terbesar di kawasan ini dalam setahun ke depan? Dan di mana Anda paling optimistis?
Ada cukup banyak perkembangan positif di kawasan ini dalam setahun terakhir, bahkan lebih banyak dibandingkan hal-hal negatif. Di Suriah, kita kini memiliki presiden. Di Lebanon, pemerintahan baru telah terbentuk. Perang di Gaza juga hampir berhenti, meskipun masih terjadi kekerasan dan korban jiwa, tetapi kondisinya lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Namun, ini tidak berarti kawasan telah stabil atau benar-benar bergerak menuju stabilitas. Ketidakpastian masih sangat besar. Hal yang paling mengkhawatirkan bagi saya adalah meningkatnya ketegangan di kawasan, baik terkait Gaza, Iran, maupun potensi konflik lain yang bisa terjadi kapan saja jika tidak ditangani secara hati-hati.
Kita perlu memikirkan ulang arsitektur keamanan kawasan dan mulai membangun kembali kepercayaan satu sama lain. Setiap negara berhak melindungi dirinya sendiri, tetapi ketidakpercayaan yang terus berlanjut justru memperbesar risiko konflik. Inilah saatnya kawasan ini bersatu dan memastikan bahwa tidak ada satu pun negara yang menjadi ancaman bagi negara lainnya.
Kita mengetahui bahwa Presiden Trump akan memulai fase kedua dari kesepakatan keamanan terkait stabilisasi Gaza. Bagaimana pandangan Anda?
Kesepakatan gencatan senjata yang telah dicapai memberikan banyak pelajaran penting. Inisiatif ini menunjukkan sebuah jalan ke depan, dan Presiden Trump telah membuka jalur tersebut.
Namun, tahap pertama kesepakatan tidak berarti seluruh proses telah selesai. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Semua pihak yang terlibat harus bekerja keras agar kesepakatan ini benar-benar berfungsi dan menjadi faktor stabilisasi.
Qatar terlibat dalam upaya ini karena kami percaya tidak ada alternatif lain saat ini. Fokus utama adalah menstabilkan Gaza, memastikan penarikan pasukan Israel dilakukan secepat mungkin, serta memungkinkan warga Gaza kembali menjalani kehidupan mereka. Itulah tujuan utama dari kesepakatan ini.
Baca Juga
Beredar penilaian bahwa saat ini Gaza masih terbagi antara kendali Israel dan Hamas. Apakah itu penilaian yang akurat?
Sebagian besar wilayah Gaza masih berada di bawah kendali pasukan Israel. Dalam kesepakatan awal sebenarnya sudah ditentukan parameter yang jelas untuk tahap pertama penarikan pasukan. Sayangnya, parameter tersebut tidak sepenuhnya dihormati di lapangan.
Hal ini menciptakan banyak titik tekanan dan menyebabkan insiden yang terus berulang. Jadi meskipun ada gencatan senjata, situasinya belum sepenuhnya aman. Kita masih menghadapi tantangan besar dan perlu memastikan komitmen penuh dari pihak Israel untuk menarik pasukan sesuai kesepakatan.
Bagaimana dengan situasi kemanusiaan di Gaza?
Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kondisinya mungkin sedikit lebih baik, tetapi masih jauh dari cukup. Banyak bantuan kemanusiaan belum bisa masuk karena berbagai pembatasan.
Kami bekerja sama dengan mitra kami di Amerika Serikat, Mesir, dan Turki untuk memastikan adanya mekanisme yang mendukung pemerintahan teknokratis baru agar mampu membantu masyarakat dan memulihkan kehidupan sehari-hari.
Bagaimana pandangan Anda mengenai Iran dalam beberapa tahun ke depan?
Saya tidak ingin berspekulasi mengenai skenario suatu negara. Namun yang jelas, ketegangan di kawasan ini saling terkait, termasuk yang melibatkan Iran.
Dalam situasi seperti ini, kita membutuhkan ketenangan dan kebijaksanaan. Selalu ada ruang untuk diplomasi, dan Qatar akan terus mendorong penyelesaian damai. Setiap eskalasi militer akan membawa konsekuensi besar, seperti yang telah kita pelajari dari pengalaman Irak dua dekade lalu, yang dampaknya masih dirasakan hingga hari ini.
Ada pandangan bahwa negara-negara Teluk berupaya mencegah Amerika Serikat menyerang Iran. Apakah itu benar?
Kami tidak melobi siapa pun untuk menyerang atau tidak menyerang Iran. Yang kami lakukan adalah memberikan nasihat yang jujur, baik kepada Amerika Serikat maupun Iran. Kami tidak ingin melihat eskalasi militer di kawasan ini.
Pendekatan terbaik adalah solusi diplomatik terhadap isu nuklir dan keamanan kawasan. Kami ingin semua pihak—termasuk Iran, Palestina, dan Israel—merasa aman dan terlindungi.
Mengenai Suriah, kita akan melihat Presiden Suriah hadir di Davos untuk pertama kalinya. Apakah Anda melihat peluang bagi Suriah untuk bersatu kembali?
Suriah telah mengalami konflik selama 15 tahun. Membangun kembali negara, institusi, dan sistem pemerintahan setelah perang bukanlah hal mudah. Pemerintah Suriah membutuhkan dukungan, dan mereka telah memintanya.
Tantangan tentu besar, tetapi kekuatan utama Suriah terletak pada struktur sosialnya yang telah terbentuk selama berabad-abad. Kontribusi kawasan dan komunitas internasional adalah membantu Suriah membangun negara yang inklusif dan melindungi hak semua warganya.
Bagaimana dengan Yaman?
Kebijakan kami jelas sejak awal: kami mendukung legitimasi dan hak rakyat Yaman untuk menentukan masa depan mereka. Dialog nasional yang pernah dicapai sebenarnya merupakan model yang baik, tetapi sayangnya tidak diimplementasikan.
Semua kelompok, termasuk Houthi, adalah bagian dari masyarakat Yaman dan harus dilibatkan dalam solusi yang inklusif. Stabilitas Yaman berarti stabilitas kawasan Teluk dan Semenanjung Arab secara keseluruhan.
Terakhir, meskipun geopolitik semakin rumit, ekonomi global justru terlihat tangguh. Bagaimana Anda menjelaskannya?
Efek penuh dari ketegangan geopolitik mungkin belum sepenuhnya tercermin dalam angka ekonomi saat ini. Dampaknya bisa baru terasa dalam satu atau dua tahun ke depan.
Kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan memang mendorong pertumbuhan, tetapi tidak semua sektor merasakan manfaat yang sama. Beberapa sektor tetap terdampak langsung oleh ketidakpastian geopolitik.
Baca Juga
Di Davos CEO Microsoft Sebut Talenta AI Jakarta Tak Beda dengan Talenta AS, Bedanya Cuma Ini
Dan bagaimana dengan ekonomi Qatar ke depan?
Ekonomi Qatar terus tumbuh dengan baik. Tahun ini, pertumbuhan diperkirakan sekitar 2,9%, dengan potensi meningkat seiring ekspansi sektor energi. Lebih dari 60% PDB kami kini berasal dari sektor non-hidrokarbon.
Kami percaya energi adalah kekuatan kami, diversifikasi adalah ketahanan kami, dan teknologi adalah masa depan kami. Qatar telah membangun merek global seperti Qatar Airways dan QNB, dan kami berharap dapat terus memperluas peran kami sebagai pemain global.

