Kontrak Berjangka Saham AS Melemah, Investor Cermati Perkembangan Geopolitik
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Kontrak berjangka saham AS sedikit melemah pada Minggu malam (11/1/2026) waktu setempat. Investor bersiap menghadapi pekan krusial yang berpotensi menentukan arah pasar pada awal tahun baru. Pasar juga mencermati perkembangan geopolitik yang memanas seiring ancaman Trump terkait Iran, Kuba, dan Greenland.
Futures Dow Jones Industrial Average turun 40 poin. Sementara itu, futures S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing melemah tipis 0,1%.
Baca Juga
Iran Membara, Korban Tewas Kerusuhan Dilaporkan Mencapai 500 Orang
Pasar baru saja mencatat rekor tertinggi baru. Indeks S&P 500 dan Dow Jones 30 saham sama-sama ditutup pada level puncak baru pada perdagangan Jumat, menutup pekan yang positif bagi indeks utama. S&P 500 naik lebih dari 1% sepanjang pekan, sementara Dow dan Nasdaq Composite masing-masing melonjak 2,3% dan 1,9%.
Pelaku pasar bersiap menyambut dimulainya musim laporan keuangan, dengan sejumlah bank besar Wall Street dijadwalkan merilis kinerja dalam beberapa hari ke depan. JPMorgan Chase, Bank of America, Morgan Stanley, dan Goldman Sachs akan menyampaikan laporan kuartalan, yang diharapkan memberi gambaran terbaru mengenai belanja konsumen, aktivitas dealmaking, dan pendapatan perdagangan.
Agenda penting lainnya adalah rilis data inflasi terbaru pada Selasa, yang menjadi semakin krusial setelah laporan ketenagakerjaan Desember dirilis Jumat lalu. Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja terus mendingin, namun masih cukup tangguh untuk menopang stabilitas ekonomi.
Angka-angka tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve kemungkinan besar akan menahan diri untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat, meski momentum ekonomi mulai melambat.
“Sentimen risk-on untuk saat ini masih terjaga dalam portofolio, tetapi data tersebut secara efektif menghilangkan peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Januari,” ujar Lara Castleton, Kepala Konstruksi Portofolio dan Strategi AS di Janus Henderson Investors, dikutip CNBC.
Investor juga mencermati risiko geopolitik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi untuk melakukan intervensi di Iran, menurut sejumlah laporan pada Minggu.
Baca Juga
Trump Pertimbangkan Opsi Militer ke Iran di Tengah Aksi Protes yang Makin Meluas
Trump juga memperingatkan Kuba bahwa tidak akan ada lagi aliran minyak atau dana dari Venezuela kecuali para pemimpin Kuba mencapai kesepakatan dengan Washington. Selain itu, pada Jumat, Trump mengancam akan mengambil tindakan terkait Greenland “suka atau tidak suka,” seiring upayanya untuk mengakuisisi wilayah Denmark tersebut bagi Amerika Serikat.

