Berbagai Faktor Ini Mendorong Harga Minyak Bergerak Naik
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak naik pada hari Selasa (24/9/2024) di tengah berita stimulus moneter dari importir utama Tiongkok dan kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat mempengaruhi pasokan regional. Sementara itu, badai lainnya mengancam pasokan di Amerika Serikat, produsen minyak mentah terbesar di dunia.
Baca Juga
Badai Francine Melanda, Transaksi Kontrak Minyak Mentah di ICDX Melonjak
Minyak mentah berjangka Brent naik 92 sen, atau 1,24%, menjadi $74,82 per barel. Minyak mentah berjangka WTI AS naik 89 sen, atau 1,26%, menjadi $71,26.
“Pasar minyak mentah sangat menantikan otoritas Tiongkok untuk mengambil tindakan pelonggaran lebih lanjut guna melawan perlambatan ekonomi,” kata analis pasar IG Tony Sycamore, dilansir CNBC.
Sebelumnya, bank sentral Tiongkok mengumumkan stimulus terbesarnya sejak pandemi Covid-19 untuk menarik perekonomian keluar dari kondisi deflasi dan kembali menuju target pertumbuhan pemerintah.
Paket yang lebih luas dari perkiraan yang menawarkan lebih banyak pendanaan dan penurunan suku bunga merupakan upaya terbaru Beijing untuk memulihkan kepercayaan setelah serangkaian data yang mengecewakan menimbulkan kekhawatiran akan perlambatan struktural yang berkepanjangan.
“Pengumuman ini akan menghilangkan risiko penurunan harga minyak mentah,” kata Sycamore.
Namun agar kenaikan harga minyak dapat bertahan lama, kebijakan moneter Tiongkok yang akomodatif perlu diimbangi dengan kebijakan fiskal ekspansif untuk meningkatkan permintaan internal, kata Kelvin Wong, analis pasar senior di OANDA.
Di Timur Tengah, wilayah penghasil minyak utama, militer Israel mengatakan pihaknya melancarkan serangan udara terhadap situs Hizbullah di Lebanon pada hari Senin, yang menurut pihak berwenang Lebanon menewaskan 492 orang dan menyebabkan puluhan ribu orang melarikan diri.
Serangan ini berisiko membuat produsen OPEC, Iran, yang mendukung Hizbullah, semakin terlibat konflik dengan Israel dan dapat memicu perang yang lebih luas di kawasan.
Serangan ini berisiko membuat produsen OPEC, Iran, yang mendukung Hizbullah, semakin terlibat konflik dengan Israel dan dapat memicu perang yang lebih luas di kawasan.
Sementara itu, produsen minyak AS berusaha mengevakuasi staf dari anjungan produksi minyak di Teluk Meksiko karena badai kedua dalam dua minggu ini diperkirakan akan melanda ladang minyak lepas pantai. Beberapa perusahaan minyak menghentikan sebagian produksinya.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Akibat Melemahnya Permintaan Eropa dan China

