Permintaan Turun, Laba Perusahaan Tiongkok Terus Merosot
JAKARTA, Investortrust.id - Laba perusahaan-perusahaan industri Tiongkok terus merosot, seiring dengan lemahnya permintaan.
Data dari Biro Statistik China menunjukkan, laba perusahaan industri Juli turun 6,7% dibanding tahun sebelumnya.
Turunnya laba pada Juli memperpanjang kemerosotan industri tahun ini hingga bulan ketujuh. Tak ayal, hal ini membuat tersendatnya pemulihan ekonomi China pasca-pandemi.
Pendapatan selama tujuh bulan menyusut 15,5% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Sedangkan, selama semester pertama tahun ini, pendapatan industri merosot 16,8% .Pada Juni, laba turun 8,3%.
Angka keuntungan industri mencakup perusahaan dengan pendapatan tahunan setidaknya 20 juta yuan ($2,77 juta) dari operasi utama mereka.
“Harga komoditas semakin rendah, tekanan terhadap biaya bahan baku di industri menengah dan hilir sudah mereda. Biaya unit perusahaan industri telah meningkat secara keseluruhan,” kata ahli statistik NBS Sun Xiao dalam pernyataannya, dikutip dari CNBC.com, Senin (28/8/2023). Ditambahkan, biaya unit pada Juli mencatat penurunan tahun-ke-tahun pertama sejak awal tahun ini.
Pabrikan besar Tiongkok membukukan kerugian pada semester pertama, dengan perusahaan teknik China Aluminium International melaporkan kerugian bersih sebesar 830,6 juta yuan ($114,2 juta), dibandingkan dengan laba bersih tahun sebelumnya sebesar 123,6 juta yuan.
Baca Juga
Raksasa Properti Evergrande Ajukan Pailit, Pasar Saham Asia Terpuruk
Revisi Perkiraan Pertumbuhan
Bank-bank besar telah menurunkan perkiraan pertumbuhan mereka tahun ini menjadi di bawah target pemerintah yaitu sekitar 5%. Pemulihan terhambat karena kemerosotan properti, lemahnya belanja konsumen dan jatuhnya pertumbuhan kredit, sehingga mendorong pemerintah untuk memangkas suku bunga dan menjanjikan dukungan lebih lanjut.
Perusahaan-perusahaan milik negara mengalami penurunan pendapatan sebesar 20,3% dalam tujuh bulan pertama tahun ini, perusahaan-perusahaan asing mencatat penurunan sebesar 12,4% dan perusahaan-perusahaan swasta mencatat penurunan sebesar 10,7%, berdasarkan rincian data yang ditunjukkan.
Laba merosot pada 28 dari 41 sektor industri besar selama periode tersebut, dengan industri peleburan logam besi dan pengolahan rolling melaporkan penurunan terdalam sebesar 90,5%.
Bank sentral menyatakan akan menjaga kebijakannya “tepat dan kuat” untuk mendukung pemulihan. Masih harus dilihat apakah langkah-langkah yang lebih signifikan akan diambil untuk menopang pertumbuhan.
Pekan lalu, 21 Agustus 2023, Bank Sentral Tiongkok memangkas suku bunga pinjaman satu tahun 10 basis poin dan mempertahankan suku bunga pinjaman lima tahun. Keduanya di bawah ekspektasi pemangkasan sebesar masing-masing 15 basis poin. Kalangan ekonom memandang langkah People's Bank of China (PBOC) terhambat oleh pelemahan nilai tukar yuan.
Suku bunga dasar pinjaman (loan prime rate/LPR) satu tahun diturunkan 10 basis poin (bps) dari 3,55% menjadi 3,45%. Sedangkan LPR lima tahun dipertahankan di kisaran 4,20%.
Baca Juga
Tak Sesuai Ekspektasi, Bank Sentral China Hanya Pangkas Suku Bunga 1 Tahun
Dalam jajak pendapat kantor berita Reuters terhadap 35 pengamat pasar, kesemuanya memprediksi penurunan atas kedua suku bunga tersebut. Penurunan 10 bps untuk suku bunga satu tahun lebih kecil daripada ekspektasi pengurangan 15 bps oleh sebagian besar responden.
Tiongkok saat ini dihadapkan pada perlambatan pemulihan pascapandemi, akibat kemerosotan di sektor properti. Kondisi ini diperparah dengan lesunya belanja konsumen dan jatuhnya pertumbuhan kredit. Sehingga menambah alasan bagi pihak berwenang untuk mengeluarkan lebih banyak stimulus kebijakan.
“Tetapi, tekanan yang dialami mata uang yuan berarti (otoritas) Tiongkok punya ruang terbatas untuk pelonggaran moneter lebih dalam. Jika diferensial imbal hasil Tiongkok dengan negara-negara besar lain makin lebar, dapat memicu aksi jual yuan dan pelarian modal,” demikian disampaikan para analis yang dilansir Reuters.
Presiden Xi Jinping pada hari Selasa mengatakan pada sebuah forum di Afrika Selatan bahwa perekonomiannya tangguh dan fundamental pertumbuhan jangka panjang tetap tidak berubah.

