Krisis Evergrande Tak Tuntas, Saham Properti di China Berguguran
JAKARTA, Investortrust.id - Gagalnya upaya perumusan rencana restrukturisasi utang raksasa properti China Evergrande Group, mengakibatkan penjualan saham perusahaan termasuk emiten industri sejenis rontok di bursa setempat, Senin (25/9/2023). Anjloknya saham properti di China muncul akibat kekhawatiran bahwa sektor properti tengah mengalami krisis, kendati sebelummya sempat mendapatkan relaksasi.
Evergrande, pengembang properti yang dengan utang terbesar di dunia telah menjadi simbol krisis properti di China. Perusahaan dilaporkan telah berusaha mendapatkan persetujuan kreditornya untuk rencana restrukturisasi utang, menyusul gagal bayar pada tahun 2021.
Dalam rencana restrukturisasi yang diumumkan pada Maret tahun ini, Evergrande mengusulkan opsi kepada kreditornya di luar negeri, menukarkan kepemilikan utang mereka saat ini dengan obligasi baru yang jatuh tempo dalam jangka waktu 10 hingga 12 tahun.
Namun pada perkembangan terakhirnya yang di luar ekspektasi, pengembang yang sedang berjuang menyelesaikan kewajibannya ini mengumumkan bahwa mereka tidak dapat menerbitkan utang baru. Pasalnya tengah berlangsung penyelidikan terhadap anak perusahaan domestik utamanya, Hengda Real Estate Group Co Ltd, demikian Evergrande Group dalam pernyataan yang dilansir Channelnewsasia.com, Senin (25/9/2023).
Manajemen Hengda mengatakan pada Agustus lalu bahwa mereka sedang diselidiki oleh regulator sekuritas China, atas dugaan pelanggaran pengungkapan informasi.
Harga saham Evergrande pun merosot hingga 24% pada Senin (25/9/2023), sementara indeks sektor properti di Hang Seng Hong Kong turun sebanyak 3,7%.
"Rencana restrukturisasi utangnya sekarang terhenti dan tidak dapat berlanjut lagi," kata Steven Leung, direktur penjualan di UOB Kay Hian di Hong Kong. "Pilihan lain, seperti mengkonversi utang menjadi saham dari unit-unit terdaftar lainnya, juga dinilai tidak memungkinkan saat ini," kata Leung.
Restrukturisasi utang Evergrande di luar negeri melibatkan total US$31,7 miliar, yang mencakup obligasi, jaminan, dan repo obligasi yang berpotensi menjadikannya salah satu restrukturisasi utang terbesar di dunia.
Masalah terbaru yang dialami pengembang ini membalikkan relaksasi yang tengah diupayakan bagi sektor properti China, yang menyumbang sekitar seperempat dari ekonomi. Dukungan pemerintah Beijing juga diberikan kepada dua pengembang besar lainnya yang telah mencapai kesepakatan utang dengan kreditornya.
"Kekhawatiran terhadap kesehatan keuangan (pengembang) masih menghantui sektor properti, terutama pengembang properti kecil yang memiliki tingkat utang tinggi tetapi proyek properti yang sangat sedikit," kata Leung.
Seperti diberitakan, sejumlah pengembang properti terkemuka di Tiongkok telah mengalami gagal bayar utang luar negeri mereka sejak sektor properti terkena krisis likuiditas di tahun 2021, menyusul langkah regulator mengendalikan booming pembangunan yang digerakkan lewat utang.
Banyak dari pengembang yang gagal bayar mencoba mendapatkan persetujuan kreditornya di luar negeri untuk rencana restrukturisasi, guna menghindari kejatuhan atau likuidasi.
Namun, tidak banyak dari rencana tersebut yang berhasil. Pengembang China Oceanwide Holdings Ltd, gagal memenuhi kewajiban utangnya, mengumumkan lewat pengumuman di bursa pada hari Senin 925/9/2023) bahwa pengadilan di Bermuda telah memerintahkan pembubaran perusahaan dan telah menunjuk likuidator provisional bersama.
Rintangan terbaru dalam rencana restrukturisasi utang Evergrande membuka front baru bagi pengembang tersebut, hanya sepekan setelah polisi menahan beberapa staf di unit manajemen kekayaannya, yang mengakibatkan sahamnya turun drastis.
Pada awal bulan ini, Evergrande mengatakan bahwa mereka telah menunda pengambilan keputusan mengenai restrukturisasi utang luar negeri dari bulan September menjadi bulan Oktober untuk memberi lebih banyak waktu kepada kreditornya untuk mempertimbangkan proposalnya. Evergrande memerlukan persetujuan dari lebih dari 75% pemegang setiap kelas utang untuk menyetujui rencananya.
Sementara itu, pengembang terkemuka seperti Country Garden berusaha keras untuk menghindari gagal bayar, yang membuat sentimen pembeli rumah tetap rendah meskipun pemerintah Beijing telah mengeluarkan sejumlah langkah dukungan untuk mendukung sektor properti dan mendorong permintaan properti.
Hingga akhir Agustus, luas lantai gabungan rumah yang belum terjual mencapai 648 juta meter persegi, menurut data terbaru dari Biro Statistik Nasional (NBS).

