Warsh Siapkan Revolusi Sunyi di The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id—Ketua baru Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh diperkirakan tidak akan langsung mengguncang pasar melalui perubahan drastis suku bunga atau perombakan besar personel bank sentral AS. Namun, perubahan yang disiapkan justru dinilai lebih mendasar dan berpotensi besar memengaruhi sistem keuangan global—yakni merombak cara The Fed mengelola "plumbing" atau infrastruktur likuiditas pasar keuangan Amerika Serikat.
Laporan CNBC yang ditulis Jeff Cox dan terbit pada hari Jumat (22/5/2026) dengan pembaruan pada hari yang sama, menyebutkan bahwa konsep “regime change” yang diusung Warsh kemungkinan berfokus pada penataan ulang penggunaan neraca (balance sheet) The Fed senilai sekitar US$ 6,8 triliun. Perdebatan utama bukan lagi sekadar soal naik-turun suku bunga, melainkan apakah neraca raksasa The Fed tetap digunakan sebagai alat rutin menopang pasar keuangan atau hanya dipakai saat krisis dan disfungsi pasar terjadi.
Baca Juga
Trump Ingin Suku Bunga Turun, The Fed Justru Bahas Potensi Kenaikan
Perubahan itu dinilai sangat penting karena sejak krisis keuangan global 2008, The Fed secara agresif menggunakan kepemilikan obligasi pemerintah (treasury) dan surat utang berbasis hipotek (mortgage-backed securities/MBS) untuk menstabilkan pasar sekaligus memengaruhi kondisi keuangan secara luas. Sebelum krisis 2008, neraca The Fed hanya sekitar US$ 800 miliar, tetapi sempat membengkak mendekati US$ 9 triliun dan kini masih setara sekitar 23% dari produk domestik bruto (PDB) AS.
Warsh sebelumnya telah memberi sinyal kritik terhadap ukuran neraca tersebut. Dalam artikel opini di Wall Street Journal tahun 2025, ia menyebut neraca The Fed telah menjadi “bloated” atau terlalu gemuk dan berpendapat bahwa pengurangan neraca dapat dilakukan bersamaan dengan penurunan suku bunga acuan.
Sejumlah ekonom menilai pendekatan Warsh dapat mengubah “buku pedoman” kebijakan moneter AS. Kepala ekonom Wrightson ICAP, Lou Crandall, mengatakan perdebatan mengenai masa depan neraca The Fed akan mengemuka pada paruh kedua tahun ini, namun tidak akan dilakukan secara tergesa-gesa. Menurut dia, reformasi tersebut merupakan proyek jangka menengah yang memerlukan implementasi hati-hati dan bertahap.
Informasi senada juga muncul dari berbagai sumber riset Wall Street. Ekonom kepala AS di TS Lombard, Steve Blitz, memperkirakan The Fed di bawah Warsh bisa menggeser fokus kebijakan dari federal funds rate menuju pasar repo semalam (overnight repo market)—pasar pendanaan jangka pendek yang menopang perdagangan obligasi pemerintah AS. Dalam catatan kliennya, Blitz bahkan menyebut, “repo rate becomes the policy rate.”
Jika skenario ini terjadi, Warsh berpotensi memenuhi dorongan Presiden Donald Trump untuk menurunkan suku bunga tanpa harus melonggarkan kondisi pembiayaan secara berlebihan di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi. Langkah semacam itu dapat berdampak luas terhadap imbal hasil Treasury, suku bunga kredit perumahan, hingga berbagai instrumen berbasis bunga di AS.
Namun gagasan tersebut tidak diterima bulat di internal The Fed. Gubernur Federal Reserve Michael Barr dalam pidatonya pekan lalu menolak menjadikan penyusutan neraca sebagai tujuan utama kebijakan. Barr memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat melemahkan ketahanan perbankan, mengganggu fungsi pasar uang, bahkan mengancam stabilitas keuangan. Menurut dia, yang lebih penting bukan sekadar ukuran neraca, melainkan komposisi aset dan struktur jatuh temponya.
Pandangan Barr mendapat dukungan dari sebagian pejabat bank sentral. Mantan Presiden Federal Reserve Cleveland, Loretta Mester, menilai The Fed selama ini belum memiliki kerangka komunikasi yang jelas terkait kapan kebijakan quantitative easing (QE) maupun quantitative tightening (QT) digunakan. QE merujuk pada ekspansi neraca melalui pembelian aset, sedangkan QT adalah proses pengurangannya. Menurut Mester, pasar selama ini lebih banyak menebak-nebak karena The Fed belum pernah memberikan pedoman eksplisit mengenai penggunaan kedua instrumen tersebut.
Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, yang sebelumnya memimpin meja perdagangan The Fed New York, juga menekankan pentingnya pendekatan bertahap. Dalam pidato 2 April 2026, Logan menyatakan setiap perubahan neraca harus dilakukan perlahan dan direncanakan secara matang agar tidak mengganggu aliran likuiditas pasar.
Sinyal reformasi Warsh juga mendapat perhatian dari analis global. Kepala penasihat ekonomi Allianz, Mohamed El-Erian, dalam wawancara CNBC menilai warisan utama Warsh kemungkinan bukan sekadar pengaturan suku bunga, melainkan reformasi struktural terhadap cara The Fed bekerja dan berkomunikasi dengan pasar.
Sejumlah riset internal The Fed bahkan menunjukkan pekerjaan itu telah dimulai. Para peneliti bank sentral baru-baru ini menerbitkan kajian berjudul “A User’s Guide to Reducing the Federal Reserve’s Balance Sheet”, yang menyimpulkan bahwa pengurangan neraca hingga US$ 2,1 triliun masih dapat dilakukan dalam kerangka kebijakan saat ini, sementara pemangkasan lebih besar memerlukan perubahan sistem menuju rezim cadangan bank yang lebih terbatas (scarce reserves). Namun, studi tersebut juga menegaskan prosesnya membutuhkan setidaknya satu tahun dan kemungkinan beberapa tahun sebelum benar-benar dapat diterapkan.
Informasi senada dilaporkan Reuters dan sejumlah analis Wall Street yang menilai kepemimpinan Warsh membuka fase baru perdebatan mengenai peran The Fed di pasar keuangan. Reuters mencatat tekanan politik dari Gedung Putih terhadap bank sentral tetap tinggi, terutama setelah Presiden Trump berulang kali mengkritik mantan Ketua Jerome Powell karena dianggap terlambat menurunkan suku bunga.
Meski demikian, para mantan pejabat The Fed mengingatkan agar pasar tidak mengharapkan revolusi instan. Sistem pengambilan keputusan di Federal Open Market Committee (FOMC) dibangun atas dasar konsensus dan biasanya bergerak lambat setelah debat internal panjang. Mester menegaskan bahwa pertimbangan politik tidak pernah menjadi bagian dari ruang rapat FOMC.
Dengan demikian, “regime change” ala Kevin Warsh mungkin tidak hadir lewat gebrakan besar di hari pertama, melainkan melalui revolusi sunyi di jantung sistem likuiditas Wall Street—sebuah perubahan teknis yang justru bisa lebih menentukan arah pasar global dalam jangka panjang.
Baca Juga
Yield Obligasi AS Tembus 5,18%, The Fed Bisa Naikkan Bunga Lagi
Kevin Warsh resmi menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) setelah dilantik pada 22 Mei 2026 di Washington. Sebelumnya, Senat AS telah mengonfirmasi Warsh pada 13 Mei 2026, menandai berakhirnya masa kepemimpinan Powell sebagai Chair bank sentral AS.
Meski tak lagi memimpin The Fed, Powell tidak sepenuhnya keluar dari bank sentral. Ia masih tetap menjabat sebagai anggota Board of Governors atau Dewan Gubernur The Fed.
Pergantian kepemimpinan ini menjadi sorotan pasar global karena Warsh diperkirakan membawa agenda “regime change”, termasuk penataan ulang neraca The Fed dan pengurangan intervensi rutin ke pasar keuangan.

