Iran Masih dalam Situasi Perang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda meski upaya diplomasi terus digencarkan. Pemerintah Iran menegaskan negaranya masih berada dalam situasi perang, sementara negosiasi dengan Amerika Serikat terkait pembukaan kembali Selat Hormuz masih menemui jalan buntu.
Laporan Al Jazeera yang dipublikasikan Selasa (28/04/2026),menyebutkan juru bicara militer Iran menegaskan negaranya masih dalam “situasi perang”, dengan Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam perundingan. Pada saat yang sama, para pemimpin Teluk berkumpul di Arab Saudi untuk membahas eskalasi konflik, di mana Qatar memperingatkan agar jalur strategis tersebut tidak dijadikan alat tekanan politik dan menghindari risiko konflik beku (frozen conflict).
Baca Juga
Di Washington, Presiden Donald Trump disebut tengah meninjau proposal terbaru dari Iran yang menawarkan penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz, dengan syarat pembahasan program nuklir ditunda. Namun, perkembangan ini masih belum memberikan kepastian. Laporan CBS News pada 28 April 2026 mencatat Trump bahkan menyebut Iran berada dalam kondisi “state of collapse”, meski tanpa penjelasan rinci, di tengah pembahasan internal pemerintah AS terkait proposal tersebut.
Sementara itu, konflik di Lebanon terus menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan damai yang lebih luas. Pertempuran antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran masih berlangsung, meski sebelumnya telah diumumkan gencatan senjata pada 17 April 2026. Data yang dihimpun berbagai laporan menyebutkan serangan Israel di wilayah selatan Lebanon telah menewaskan sedikitnya 40 orang sejak kesepakatan tersebut.
Baca Juga
Reli Wall Street Terhenti, Saham Chip Anjlok Terseret Sentimen OpenAI
Ketidakpastian geopolitik ini langsung tercermin pada pasar energi global. Harga minyak mentah dunia terus merangkak naik, dengan Brent dilaporkan menembus level di atas US$112 per barel akibat terganggunya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz—jalur vital yang mengalirkan sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia. Tanpa terobosan diplomasi yang konkret, pasar memperkirakan tekanan harga energi masih akan berlanjut.
Dengan demikian, meski berbagai kanal diplomasi terus dibuka, realitas di lapangan menunjukkan konflik masih jauh dari penyelesaian. Selat Hormuz tetap menjadi titik tarik-menarik kepentingan global—antara tekanan militer, kepentingan ekonomi, dan upaya menjaga stabilitas kawasan.

