Trump: Waktu Tidak di Pihak Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon resmi diperpanjang selama tiga minggu di tengah eskalasi konflik kawasan, sementara tekanan terhadap Iran semakin meningkat seiring berlanjutnya blokade laut oleh Amerika Serikat (AS). Presiden Donald Trump mengatakan, saat ini, waktu tidak di pihak Iran.
Mengutip laporan Al Jazeera yang dipublikasikan Jumat (24/4/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada Minggu. Trump bahkan menyatakan harapannya untuk segera mempertemukan pemimpin Israel dan Lebanon dalam waktu dekat guna mendorong stabilitas kawasan.
Namun pada saat yang sama, Trump mengirim pesan keras kepada Teheran. Dalam pernyataannya di media sosial, ia menegaskan bahwa waktu tidak berpihak pada Iran. “Saya punya seluruh waktu di dunia, tetapi Iran tidak. Waktu terus berjalan,” tulisnya.
Baca Juga
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan militer AS di kawasan, termasuk pengerahan kekuatan laut besar-besaran. Tiga kapal induk—USS George H. W. Bush, USS Gerald R. Ford, dan USS Abraham Lincoln—kini berada di Timur Tengah, menandai salah satu konsentrasi kekuatan laut terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Ketegangan juga meningkat di jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Trump memerintahkan militer AS untuk “menembak dan menghancurkan” kapal Iran yang mencoba memasang ranjau laut di kawasan tersebut. Kebijakan ini mempertegas keberlanjutan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang hingga kini masih menjadi hambatan utama bagi pembicaraan damai.
Saling Serang
Laporan NBC News yang diperbarui Kamis (23/4/2026) waktu AS juga mengonfirmasi bahwa militer AS kembali menaiki sebuah tanker yang diduga terlibat dalam penyelundupan minyak Iran. Insiden ini menjadi bagian dari kebuntuan maritim yang semakin intens dan secara efektif membuat arus perdagangan di Selat Hormuz nyaris terhenti.
Dalam perkembangan terkait, Iran dilaporkan menyerang tiga kapal komersial dan menyita dua di antaranya sehari sebelumnya. Teheran menyebut blokade laut AS sebagai “hambatan utama” bagi dimulainya kembali negosiasi damai.
Data korban jiwa juga terus bertambah. Otoritas forensik Iran melaporkan hampir 3.400 orang tewas sejak serangan AS-Israel dimulai pada 28 Februari 2026. Sementara itu, lebih dari 2.200 korban jiwa tercatat di Lebanon, 32 di negara-negara Teluk, 23 di Israel, serta 13 personel militer AS tewas dalam konflik ini.
Wakil Presiden Quincy Institute, Trita Parsi, menilai bahwa meskipun AS memiliki posisi tawar lebih kuat karena tidak terlalu membutuhkan kesepakatan, kebijakan Trump justru berisiko merusak keunggulan tersebut.
Baca Juga
Trump Ancam Tembak Kapal Iran dan Klaim Kendalikan Selat Hormuz
“Trump memiliki leverage, tetapi ia melemahkan sinyal kepada Iran dengan menunjukkan bahwa dirinya tidak dapat dipercaya, terutama dengan menolak mencabut blokade,” ujar Parsi kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan, Iran sebelumnya telah menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz, tetapi langkah itu tidak mendapat respons positif dari Washington.
Dengan gencatan senjata yang diperpanjang tetapi tanpa kemajuan berarti dalam diplomasi, konflik kini memasuki fase abu-abu di mana tekanan militer, perang ekonomi, dan kebuntuan politik berjalan bersamaan, sementara stabilitas kawasan dan jalur perdagangan global tetap berada di ujung ketidakpastian.

