Bagikan

Iran Siap Runding Jika AS Cabut Blokade Hormuz

Poin Penting

Iran menolak hadir di perundingan Islamabad kecuali AS mencabut blokade militer, sementara Washington hanya memberikan waktu diplomasi yang sangat terbatas.
Jalur vital minyak dunia ini menjadi pusat ketegangan setelah Iran melakukan penutupan jalur sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh AS.
Inggris dan Prancis memimpin koalisi 30 negara untuk mengamankan pelayaran global, sementara Garda Revolusi Iran bersiaga penuh menghadapi potensi eskalasi.

JAKARTA, Investortrust.id — Upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali menghadapi kebuntuan, meski gencatan senjata telah diperpanjang. Iran menyatakan hanya akan menghadiri putaran lanjutan perundingan di Islamabad jika Amerika Serikat mencabut blokade, sementara ketegangan di Selat Hormuz terus menjadikan kawasan itu sebagai “medan perang senyap” yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Perkembangan ini dirangkum dalam laporan live updates yang dipublikasikan Rabu (22/04/2026), serta dikonfirmasi oleh berbagai sumber internasional seperti Al Jazeera, Axios, dan media pemerintah Iran. Ketegangan antara Washington dan Teheran tetap tinggi meskipun Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata untuk memberi ruang diplomasi. Namun, perbedaan mendasar terkait sanksi, keamanan maritim, program nuklir Iran, serta tekanan militer membuat kesepakatan damai masih jauh dari jangkauan.

Fokus utama konflik tetap berada di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui hampir 20% pasokan minyak global. Penutupan sementara jalur ini oleh Iran selama konflik telah memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran akan gangguan pasokan global. Meski sempat dibuka kembali, Iran kembali menutup jalur tersebut dengan alasan Amerika Serikat melanggar gencatan senjata melalui aksi militer di laut, termasuk penyitaan kapal yang terkait dengan Iran.

Baca Juga

Selat Hormuz Membara di Tengah Tersumbatnya Jalan Damai AS–Iran

Kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut AS, USS Porter (DDG 78) melintasi Selat Hormuz untuk melakukan operasi keamanan maritim. Foto: US Navy/Specialist 3rd Class Alex R. Forster

Presiden Trump mempertahankan kebijakan blokade sebagai alat tekanan utama. Ia menyatakan Iran kehilangan ratusan juta dolar setiap hari akibat terhambatnya ekspor minyak, dan menegaskan blokade akan tetap berlaku sampai Teheran menyampaikan proposal damai yang “serius dan terpadu”.

Namun, pendekatan tersebut ditolak keras oleh Iran. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, dalam pernyataannya yang dikutip Al Jazeera (22/4/2026), menegaskan bahwa Amerika Serikat harus terlebih dahulu menghentikan pelanggaran gencatan senjata sebelum negosiasi dapat dilanjutkan.

“Begitu mereka mencabut blokade, putaran berikutnya akan digelar di Islamabad,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa Iran siap menghadapi semua skenario, baik diplomasi maupun konflik militer.

Pernyataan ini mempertegas posisi Teheran yang menolak tekanan sepihak dan menilai Washington berusaha memaksakan “meja penyerahan”, bukan perundingan yang setara. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Ghalibaf bahkan memperingatkan bahwa Iran siap membuka “kartu baru di medan perang” jika konflik kembali pecah.

Senada, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding Amerika Serikat melakukan “aksi provokatif dan pelanggaran gencatan senjata berulang”, sementara Presiden Masoud Pezeshkian menekankan bahwa negosiasi hanya dapat berjalan jika dilandasi kepercayaan dan konsistensi.

Di tengah tarik-menarik tersebut, Pakistan muncul sebagai mediator utama dan bersiap menjadi tuan rumah perundingan lanjutan di Islamabad. Amerika Serikat dilaporkan akan mengirim Wakil Presiden JD Vance, namun kehadiran Iran masih belum pasti.

Laporan media Iran menyebut Teheran mempertimbangkan untuk memboikot pertemuan tersebut karena menilai tuntutan Amerika Serikat terlalu berlebihan dan tidak konsisten.

Sementara itu, laporan Axios (22/4/2026) mengungkap bahwa Washington hanya memberikan “jendela waktu terbatas” bagi Iran untuk merespons. Bahkan, sumber pejabat AS menyebut Trump hanya bersedia memperpanjang gencatan senjata selama tiga hingga lima hari tambahan, menandakan bahwa waktu diplomasi semakin sempit.

Di lapangan, situasi tetap tegang. Garda Revolusi Iran (IRGC), seperti dilaporkan kantor berita Mehr (22/4/2026), memperingatkan bahwa jika konflik kembali pecah, mereka akan memberikan “pukulan telak” terhadap musuh. IRGC juga menyebut situasi saat ini sebagai “silent battlefield” atau medan perang senyap, di mana kewaspadaan penuh tetap diperlukan meskipun tidak terjadi pertempuran terbuka.

Sebuah foto yang diunggah ke media sosial X oleh Dryad Global berasal dari Tasnim News memperlihatkan sebuah kapal tanker yang sedang melintasi Selat Hormuz dicegat oleh kapal-kapal patroli AL Iran, baru-baru ini. Foto: Tasnim News

Baca Juga

Diplomasi Kandas, Trump Ancam Bombardir Iran

Istilah ini mencerminkan kondisi konflik saat ini: gencatan senjata secara formal berlaku, tetapi aktivitas militer, tekanan ekonomi, dan manuver strategis terus berlangsung di balik layar.

Di sisi lain, kekhawatiran global terhadap stabilitas Selat Hormuz semakin meningkat. Lebih dari 30 negara dijadwalkan bertemu di markas militer Inggris di Northwood dalam konferensi yang dipimpin Inggris dan Prancis untuk menyusun rencana pembukaan kembali jalur tersebut.

Menurut Kementerian Pertahanan Inggris, pertemuan yang dimulai 22 April 2026 ini bertujuan merumuskan operasi multinasional guna mengamankan pelayaran dan mendukung gencatan senjata jangka panjang. Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyatakan fokus utama adalah menerjemahkan kesepakatan diplomatik menjadi rencana operasional konkret untuk menjaga stabilitas perdagangan global.

Dengan demikian, konflik AS–Iran kini memasuki fase kritis: diplomasi masih berjalan, tetapi tekanan militer dan ekonomi tetap intens. Selat Hormuz menjadi simbol dari kebuntuan tersebutjalur vital dunia yang berubah menjadi titik paling rawan dalam geopolitik global. Jika blokade tidak dicabut dan kepercayaan tidak dibangun, maka jalan damai berisiko tetap tersumbat, sementara bara konflik terus menyala di bawah permukaan.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024