Bagikan

Meski Ekonomi Resesi, Iran Bersumpah Perangi AS Hingga Titik Darah Terakhir

Poin Penting

Ekonomi Iran diprediksi kontraksi 6,1% akibat perang dan sanksi AS.
Pemadaman internet rugikan dunia usaha Iran hingga US$80 juta per hari.
Garda Revolusi bersumpah lawan AS hingga titik darah terakhir.

JAKARTA, Investortrust.id — Iran menghadapi tekanan multidimensi yang semakin dalam di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat (AS). Di satu sisi, ekonomi nasional terjerembab ke jurang resesi akibat kerusakan perang, gangguan internet, dan lonjakan inflasi. Di sisi lain, elite militer —terutama Garda Revolusi— menegaskan sikap keras: tidak akan tunduk pada tekanan Washington dan siap melanjutkan perlawanan hingga titik darah terakhir.

Mengutip laporan Mansoureh Galestan, Euronews, yang dipublikasikan pada 16 April 2026, Iran tengah menghadapi resesi ekonomi dan sosial yang semakin dalam. Kombinasi tekanan eksternal berupa serangan militer dan kebijakan internal seperti pembatasan internet telah menciptakan tekanan luar biasa terhadap infrastruktur, dunia usaha, dan kehidupan masyarakat.

Gangguan internet menjadi salah satu faktor paling merusak. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa pemadaman internet meningkat drastis dari rata-rata 12 hari per bulan menjadi hingga 22 hari sepanjang Maret 2026. Wakil Menteri Komunikasi Iran mengakui gangguan ini telah mengacaukan lebih dari 60% pendapatan perusahaan yang bergantung pada konektivitas global. Bahkan, sejumlah perusahaan mulai kesulitan membayar gaji karyawan.

Kerugian ekonomi yang ditimbulkan pun tidak kecil. Afshin Kolahi, perwakilan dunia usaha Iran, pada 14 April 2026 menyebutkan kerugian langsung akibat pemadaman internet mencapai US$30–40 juta per hari, dan bisa melonjak menjadi US$70–80 juta jika memperhitungkan dampak tidak langsung. Dampak ini menghantam tidak hanya korporasi besar, tetapi juga pelaku usaha kecil, pekerja lepas, hingga sektor ekonomi digital yang selama ini menjadi penopang alternatif di tengah sanksi internasional.

Di saat yang sama, sektor industri strategis Iran ikut terpukul. Pada 16 April 2026, perusahaan milik negara National Petrochemical Company mengumumkan penghentian seluruh ekspor petrokimia menyusul serangan terhadap fasilitas utama di Assaluyeh dan Mahshahr, dua kawasan yang menyumbang sebagian besar produksi nasional. Sebelum konflik, sektor ini menghasilkan devisa sekitar US$13–15 miliar per tahun, menjadikannya tulang punggung ekonomi setelah minyak. Kini, dengan produksi terganggu dan ekspor terhenti, pemerintah menghadapi risiko penurunan pendapatan tajam, bahkan potensi ketergantungan impor jika pemulihan berjalan lambat.

Baca Juga

Diplomasi Kandas, Trump Ancam Bombardir Iran

Perekonomian Iran kian terperosok ke dalam krisis resesi yang dalam di tengah tekanan perang dan sanksi internasional. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) Iran akan terkontraksi sebesar 6,1% sepanjang 2026, menandai salah satu penurunan paling tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Mengutip laporan BBC pada April 2026, kontraksi ini dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dan domestik, mulai dari konflik militer yang berkepanjangan, sanksi internasional, pelemahan mata uang, hingga terganggunya ekspor minyak sebagai tulang punggung ekonomi negara tersebut. Blokade militer terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran disebut telah melumpuhkan arus ekspor energi, memperparah tekanan terhadap penerimaan negara.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Inflasi di Iran dilaporkan telah melampaui 40% pada akhir 2025, sementara berbagai estimasi menunjukkan antara 22% hingga 50% populasi kini hidup di bawah garis kemiskinan. Lonjakan harga kebutuhan pokok dan menyusutnya lapangan kerja mempersempit daya beli masyarakat, memperdalam ketimpangan sosial di tengah situasi perang.

Dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Inflasi tinggi dan kehilangan pekerjaan menggerus daya beli, sementara pembatasan internet melumpuhkan banyak sumber penghasilan, terutama di sektor digital. Ketidakpuasan ekonomi pun memicu gelombang protes di berbagai wilayah, menciptakan suasana sosial yang tegang dan penuh ketidakpastian.

Meski IMF memperkirakan adanya potensi pemulihan ekonomi sebesar 3,2% pada 2027, proyeksi tersebut sangat bergantung pada cepat atau lambatnya konflik saat ini berakhir. Tanpa deeskalasi, tekanan terhadap ekonomi Iran diperkirakan akan terus berlanjut, dengan risiko krisis berkepanjangan yang semakin membebani stabilitas nasional.

Kerusakan infrastruktur akibat perang —mulai dari fasilitas minyak, pembangkit listrik, hingga jaringan transportasi— diperkirakan menembus lebih dari US$270 miliar. Pada saat yang sama, hubungan dagang dengan negara-negara Teluk terganggu, membuat jalur pemulihan ekonomi semakin sempit.

Baca Juga

Iran Tolak Negosiasi di Bawah Tekanan, Trump Tegaskan Blokade Tetap Berlaku

Di tengah tekanan tersebut, Iran tetap menunjukkan ketahanan demografis yang signifikan. Berdasarkan data Worldometer yang mengolah proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa per April 2026, jumlah penduduk Iran mencapai sekitar 93,1 juta jiwa, atau sekitar 1,12% populasi dunia, menjadikannya negara dengan populasi terbesar ke-17 secara global. Sekitar 73,5% penduduk tinggal di kawasan urban, dengan usia median 34,5 tahun—menunjukkan struktur demografi yang relatif produktif, namun kini menghadapi tekanan ekonomi berat.

Namun, alih-alih melunak, sikap politik dan militer Iran justru mengeras. Sejumlah laporan media internasional seperti Al Jazeera, BBC, dan The New York Times dalam berbagai pemberitaan sepanjang April 2026 mencatat bahwa elite Iran, termasuk Garda Revolusi, menolak berunding di bawah tekanan militer AS. Iran secara konsisten menegaskan bahwa negosiasi hanya dapat dilakukan dalam kondisi setara, bukan di bawah ancaman serangan atau blokade.

Garda Revolusi, sebagai kekuatan militer ideologis utama Iran, bahkan disebut bersumpah untuk terus melawan hingga titik darah terakhir. Retorika ini mencerminkan posisi strategis Iran yang melihat konflik bukan sekadar pertarungan militer, tetapi juga soal kedaulatan nasional dan harga diri politik.

Sikap keras tersebut juga tercermin dalam ancaman Iran untuk memperluas tekanan ke jalur pelayaran strategis jika blokade AS terus berlanjut, sebagaimana dilaporkan oleh BBC dan The New York Times. Ini menunjukkan bahwa konflik berpotensi meluas, tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga terhadap stabilitas energi dan perdagangan global.

Dengan ekonomi yang tertekan, masyarakat yang menghadapi tekanan hidup, dan elite militer yang memilih jalan konfrontasi, Iran kini berada di persimpangan krusial. Jalan diplomasi masih terbuka, namun selama tekanan militer tetap menjadi pendekatan utama, Teheran tampaknya lebih memilih bertahan dan melawan—apa pun konsekuensinya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024