Bagikan

Dunia Waspada Krisis Energi Besar Jika Perang AS vs Iran Dilanjutkan

Poin Penting

Eskalasi militer AS-Iran di Timur Tengah picu kekhawatiran PBB akan terjadinya kekacauan harga bahan bakar dunia.
Diplomasi buntu seiring penolakan negosiasi Iran, sementara korban jiwa terus bertambah di Gaza, Lebanon, dan Teluk.
Harga Brent bertahan di level US$94 per barel; pasar energi global waspadai gangguan pasokan di Selat Hormuz.

JAKARTA, Investortrust.id — Ketidakpastian perang antara Amerika Serikat dan Iran kian menekan stabilitas global, dengan risiko lonjakan harga energi yang semakin nyata. Associated Press dalam laporan live update yang diperbarui Selasa (21/04/2026) pukul 17.33 WIB menyoroti peringatan pejabat iklim PBB bahwa konflik ini berpotensi memicu kekacauan harga bahan bakar dunia.

Dalam perkembangan terbaru, jalur diplomasi masih belum menunjukkan titik terang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut pesimistis terhadap perpanjangan gencatan senjata, sementara Iran melalui Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan menolak negosiasi di bawah tekanan dan bersiap membuka “kartu baru” di medan perang. Pakistan pun memperketat keamanan di Islamabad untuk mengantisipasi kemungkinan perundingan lanjutan, meski hingga kini belum ada delegasi resmi Iran yang hadir. Dukungan China terhadap upaya mediasi juga mengemuka, menandakan konflik telah memasuki fase yang semakin krusial.

Di lapangan, eskalasi terus berlangsung. Serangan Israel dilaporkan menewaskan lima orang di Gaza, sementara di Lebanon sedikitnya 15 jembatan hancur sejak perang dimulai. Total korban jiwa telah mencapai sedikitnya 3.375 orang di Iran dan lebih dari 2.290 orang di Lebanon, serta puluhan korban di Israel dan negara-negara Teluk.

Baca Juga

AS–Iran di Ambang Konflik Baru, Harga Minyak Naik Tajam

Dampak langsung mulai terasa di pasar energi global. Mengacu data OilPrice.com per 21 April 2026, harga minyak mentah dunia bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah tipis di tengah ketidakpastian negosiasi. Harga Brent berada di kisaran US$94,81–US$94,95 per barel (turun sekitar 0,5%–0,7%), sementara West Texas Intermediate (WTI) di level US$86,40–US$86,63 per barel (turun sekitar 0,9%–1,0%). Minyak acuan Murban tercatat sekitar US$92,66 per barel.

Pergerakan ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak sempat melonjak akibat eskalasi geopolitik. Laporan Al Jazeera menyebutkan pelemahan harga terjadi dalam perdagangan awal di Eropa dan Asia, seiring pasar mencermati peluang —atau kegagalan— perundingan AS dan Iran.

Kekhawatiran terhadap pasokan energi juga mendorong para menteri transportasi Eropa menggelar pertemuan darurat untuk membahas dampak terhadap bahan bakar, khususnya avtur. Sementara itu, Sky News memperingatkan konflik ini berpotensi menjadi salah satu krisis energi terbesar dalam sejarah modern jika eskalasi terus berlanjut. Senada, laporan Reuters sebelumnya menegaskan bahwa gangguan di kawasan Teluk —terutama jalur strategis seperti Selat Hormuz— dapat mengganggu pasokan energi global secara signifikan.

Dengan diplomasi yang masih tersendat dan konflik yang terus memanas, dunia kini berada di persimpangan antara stabilisasi dan krisis. Harga minyak yang mulai berfluktuasi menjadi sinyal awal: pasar sedang menimbang risiko. Jika ketegangan meningkat, lonjakan harga energi bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024