Indonesia dalam Peta Perebutan Mineral Kritis Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Dunia kembali tersentak, ketika lagi-lagi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bernafsu menganeksasi negara lain. Kali ini Greenland, kawasan di bawah otoritas Denmark. Resistensi masif datang dari penduduk kawasan kutub utara itu yang menolak penjualan Greenland.
Keinginan Trump menguasai Greenland bukan sekadar ingin menancapkan pengaruh, karena Rusia dan China sudah lebih dulu investasi di kawasan tersebut. Di balik itu, AS berniat menguasai logam tanah jarang yang konon banyak terpendam di bumi Greenland. Logam tanah jarang (rare earth elements/REE) atau ada yang menyebut mineral kritis (critical mineral) kini menjadi rebutan dunia, karena menjadi basis atau bahan dasar berbagai produk industri strategis berteknologi tinggi baik sipil maupun militer.
Di pasar global, suplai logam tanah jarang kini didominasi oleh China, baik dari sisi produksi maupun pasokan, dengan penguasaan sekitar 90%. Perseteruan China dengan Amerika antara lain juga dipicu pembatasan ekspor produk maupun turunan logam tanah jarang oleh Negeri Tirai Bambu itu ke AS. Kini dan ke depan, material bernilai tambah tinggi ini bakal menjadi penentu kekuatan teknologi dan ekonomi masa depan, bahkan juga memengaruhi geopolitik global.
Lantas, apa sebenarnya logam tanah jarang itu dan apa manfaatnya dalam dunia modern? Negara mana saja yang memiliki kekayaan sumber daya alam tersebut dan negara mana yang sudah sangat maju dalam industri turunan material langka itu? Bagaimana posisi Indonesia dalam peta kekayaan logam tanah jarang global?
Logam tanah jarang (REE) adalah material yang masuk dalam kelompok 17 unsur kimia di tabel periodik – dari total 118 unsur kimia di bumi. REE terdiri atas 15 unsur lantanida (seperti neodymium, dysprosium, cerium, terbium, dsb) ditambah scandium dan yttrium. Kita semua tentu pernah belajar tentang tabel periodik saat di SMA dalam mata pelajaran kimia.
Material tersebut merupakan bahan dasar bagi magnet dan baterai kendaraan listrik serta turbin angin, komponen dalam laptop, smartphone, dan layar digital. Mineral langka ini juga dipakai untuk produk elektronik canggih, dan pendeteksi bawah laut, pertahanan antirudal, alat pelacak, pembangkit energi pada satelit.
Logam tersebut juga dimanfaatkan dalam sistem persenjataan canggih pada jet tempur, radar, dan misil. Bahkan, industri penerbangan komersial ataupun militer menjadi konsumen utama unsur tanah jarang, antara lain karena bisa tahan terhadap suhu sangat tinggi.
Peta Cadangan Dunia
Dunia menjadi gaduh oleh REE gara-gara China membatasi ekspor mineral langka itu ke Negeri Paman Sam. Sekitar 80% kebutuhan REE Amerika dipasok oleh China yang memiliki cadangan sekitar 44 juta ton. AS bukannya tidak memiliki cadangan REE, namun cadangan yang dimiliki cuma 1,5 juta ton sehingga butuh pasokan negara lain. Vietnam diam-diam memiliki cadangan 22 juta ton, Brasil 21 juta ton, Rusia 12 juta ton, dan India 6,9 juta ton. Berapa cadangan Greenland yang diincar Trump? Ternyata hanya 1,5 juta ton.
Pada 2023, total produksi logam tanah jarang dunia mencapai 353 ribu ton. Dari jumlah ini, China memproduksi hampir 70% atau setara 240.000 ton, Amerika Serikat 43.000 ton (12%), Australia 18.000 ton (5%), sisanya diproduksi negara lain dalam jumlah kecil-kecil. Saat ini, China disebut-sebut menguasai 90% pasokan logam tanah jarang dunia.
Kebutuhan domestik yang tinggi dan pembatasan ekspor REE oleh China tentu membuat Amerika kalang kabut. Maka, hanya berselang sehari setelah pasukan AS mencokok Presiden Venezuela Nicolas Maduro, pada 5 Januari 2026, Trump dengan entengnya mengatakan bahwa Amerika membutuhkan Greenland demi keamanan nasional.
Greenland memang disebut-sebut kaya bahan tambang seperti bijih besi, grafit, tungsten, paladium, vanadium, seng, emas, uranium, tembaga, dan minyak bumi. Kandungan REE lah yang menjadi daya tarik utama bagi Trump. Apalagi sejumlah data juga mengungkap potensi REE jauh di atas yang dipublikasi sebesar 1,5 juta ton.
Sebelumnya, Rusia sebenarnya juga sudah menawarkan kepada Amerika Serikat untuk menambang logam tanah jarang di wilayahnya. Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan kepada AS untuk berkolaborasi dalam eksplorasi endapan logam tanah jarang yang banyak dimiliki negeri itu. Mengacu pada data Survei Geologi AS, Rusia memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar kelima di dunia setelah China, Brasil, India, dan Australia.
Namun menambang logam tanah jarang bukan upaya mudah. Jangan bayangkan seperti menambang batu bara atau nikel yang cukup mengerahkan alat berat lantas mendapatkan berbongkah-bongkah material tersebut. Sifat logam tanah jarang menempel atau terikat di material lain atau bebatuan yang kompleks, sehingga membuat eksploitasi dan ekstraksi REE bukan hal mudah.
Apalagi wilayah Greenland yang hampir selalu diselimuti es, secara teknik jelas memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Selain lokasi kandungan REE yang terpencil, kondisi alamnya juga sangat keras dengan infrastruktur utama yang masih minim.
Kesulitan mengekstrak logam tanah jarang digambarkan oleh Direktur Pusat Penelitian dan Geologi Ekonomi di Universitas Nevada, AS, Ralph J Roberts. Menurut dia, hanya 1% potensi keberhasilan dari setiap 100 proyek eksplorasi mineral di berbagai belahan dunia. Bahkan, jika eksplorasi itu sudah mengindikasikan adanya potensi tambang, masih dibutuhkan minimal 10 tahun untuk pengolahan mineralnya.
Selain itu, pemrosesan logam tanah jarang tertentu bisa menghasilkan limbah beracun dan mengandung unsur radioaktif, seperti thorium dan uranium. Karena itu, kegiatan ini berpotensi mendapat tentangan dari aktivis lingkungan.
Tapi namanya juga Donald Trump, apapun akan dilakukan demi memuluskan obsesi dan ambisinya. Kebijakan China membatasi ekspor REE sekaligus menginspirasi Trump untuk mematahkan dominasi negeri pesaingnya itu dalam mendominasi pasar REE. Itulah sebabnya, AS juga disebut-sebut sedang gencar menginvestasikan dana baru di pengembangan industri logam tanah jarang, serta membeli saham beberapa perusahaan existing.
China sendiri telah memimpin pasar global REE karena kebijakan negerinya yang mengerahkan segala daya upaya. Negeri itu di masa lalu memberi subsidi besar-besaran untuk pertambangan dan pemrosesan REE serta melakukan konsolidasi industri di bawah perusahaan negara. Strategi lain juga ditempuh, yakni dumping alias banting harga ketika mencium pesaingnya bakal mengusik dominasinya. Tidak mengherankan jika di akhir 1990an hingga 2000-an banyak tambang REE di beberapa negara kolaps, seperti di Australia, Amerika Serikat, dan juga Eropa.
Bagaimana Indonesia?
Indonesia yang dikenal nomor #1 dunia dalam cadangan berbagai bahan tambang dan mineral, ternyata khusus logam tanah jarang ini hanya memiliki cadangan sekitar 300 ribu ton. Ini tentu di luar dugaan. Belum ada angka cadangan pasti, itu masih sebatas perkiraan menurut sejumlah ahli geologi.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat pertama dunia untuk cadangan nikel dan timah, peringkat keempat untuk cadangan bauksit, peringkat ke-7 untuk cadangan batu bara, peringkat ke-8 dunia untuk emas, serta peringkat ke-9 global untuk cadangan tembaga.
Menurut Yunita Siti Indarwati, Subkoordinator Pengembangan Investasi dan Kerjasama Sektor Batubara Kementerian ESDM, tercatat ada 47 mineral kritis yang diatur dalam Kepmen ESDM No 296.K tahun 2023, di mana Indonesia memiliki 18 jenis, 6 jenis memiliki sumber daya, dan 23 jenis tidak memiliki cadangan dan sumber daya sama sekali. Masuk kategori yang tidak dimiliki adalah grafit dan lithium yang digunakan sebagai sebagai bahan baku industri pembuatan panel surya, turbin angin, dan baterai.
Dia menyebut mineral kritis sangat penting untuk mendukung transisi energi. Tapi, eksplorasi mineral kritis untuk mendukung pengembangan ekosistem energi terbarukan tidak bisa dilakukan tanpa adanya kerja sama dengan negara lain. Sebab, Indonesia tidak memiliki cadangan yang memadai untuk beberapa mineral kritis sehinga diperlukan kerja sama dengan negara yang punya cadangan mineral kritis tersebut.
Karena itu, Indonesia beraliansi dengan Australia yang memiliki 24% cadangan lithium dunia untuk memasok kebutuhan lithium di dalam negeri. Timbal baliknya, Indonesia yang memiliki 42% cadangan nikel dunia akan memasok Australia. Selain itu, Indonesia dan Inggris telah menandatangani MoU kemitraan strategis mineral kritis, khususnya dalam hal transfer teknologi.
Sementara itu, langkah Indonesia untuk mengoptimalisasi sumber daya mineral, termasuk mineral kritis atau REE, antara lain dilakukan melalui pembentukan Badan Industri Mineral pada September 2025. Lembaga ini bakal fokus pada pengembangan mineral strategis yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri berbasis teknologi tinggi.
Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto menyatakan, Indonesia sangat kaya bahan mineral, antara lain nikel, bauksit, dan mineral potensial lainnya. Yang menarik, di dalam nikel dan bauksit terdapat logam tanah jarang jenis skandiumyang sangat mahal dan langka.
“Berbagai sumber daya mineral kita menarik dieksplorasi dan dihilirisasi menjadi kekuatan ekonomi. Saat ini banyak industri yang berburu logam tanah jarang yang bernilai ekonomi tinggi dan penting untuk pertahanan negara,“ tegasnya.
Ke depan, Badan Industri Mineral akan mulai dengan kegiatan R&D (riset dan pengembangan), antara lain dengan mengonsolidasikan riset-riset yang sudah ada di kampus ataupun lembaga-lembaga riset lainnya. Pihaknya juga tengah menginventarisasi industri-industri mineral yang sudah ada.
Patut disayangkan bahwa Indonesia belum memiliki peta sebaran logam tanah jarang (REE). Jika benar bahwa mineral langka ini banyak terdapat dalam nikel atau bauksit, alangkah ruginya jika selama ini kita hanya mengekspor produk tersebut dalam bentuk bahan mentah. Kalaupun sudah diolah, masih dalam tahap awal dengan nilai tambah rendah. Negara lain lah yang memetik keuntungan berlipat ganda.
Lagi-lagi, Indonesia terlambat menyadari dalam ikut arus pemanfaatan sumber daya yang menentukan masa depan teknologi dunia ini. ***

