Menyalakan 3 Mesin untuk Menggapai Pertumbuhan 6% di 2026
JAKARTA, investortrust.id – Beragam instrumen kebijakan, baik di bidang fiskal, moneter, dan kebijakan insentif pemerintah telah mengarahkan pada upaya mengakselerasi pertumbuhan ekonomi tahun 2026. Sejumlah indikator terbaru juga merefleksikan bahwa tahun depan bakal menjadi tahun ekspansi sehingga pertumbuhan ekonomi berpotensi menyentuh angka 6%.
Ada tiga mesin yang dinyalakan untuk mewujudkan tahun ekspansi, yakni mesin fiskal, mesin keuangan dan moneter, serta mesin investasi. Mesin investasi tidak hanya akan gencar dilakukan swasta, tapi juga ditopang oleh Danantara yang tahun depan bakal melipatgandakan dua kali belanja modal (capital expenditure). Banyak sektor usaha yang prospektif sebagai sasaran ekspansi bisnis tahun depan.
Di investasi portofolio, pasar modal bakal lebih menjanjikan di tahun depan. Bursa Efek Indonesia membidik lighthouse atau emiten jumbo untuk melantai di bursa. Tiga lighthouse afiliasi konglomerat bakal menggelar initial public offering (IPO) saham di sisa akhir tahun ini. Suku bunga yang berada dalam tren penurun dan inflasi yang terjaga menjadi atmosfer positif untuk melajunya pasar modal nasional.
Demikian benang merah seminar “Economic Outlook: Tahun 2026, Tahun Ekspansi” yang digelar Investortrust di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta, Rabu (5/11/2025). Seminar yang digelar dua sesi ini menghadirkan keynote speaker Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (Dirjen SEF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu, yang mewakili Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Para panelis dalam seminar ini adalah Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Wahyu Utomo, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Juli Budi Winantya, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman, Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal OJK Henry Rialdi, Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro, Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani, serta Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia, Katri Krisnati.
Tiga Mesin
Febrio Kacaribu menyebutkan bahwa berbagai data dan indikator memberikan bukti yang cukup membesarkan hati. “Sebab, tanpa bukti, tidak akan terbangun kepercayaan, atau trust, swasta terhadap perekonomian. Maka, evidence kita tunjukkan dari janji yang diberikan,“ kata dia.
Beberapa indiaktor positif yang menumbuhkan sentimen positif adalah yield SBN-10 tahun di posisi 5,91% atau terendah dalam 4 tahun, defisit APBN terjada di 1,56% PDB, dan pertumbuhan realisasi investasi kuartal III-2025 mencapai 13,7%. Indeks PMI Manufaktur berada dalam tahap ekspansi di 51,2 pada Oktober, neraca perdagangan surplus 65 bulan berturut-turut, ekspor ke Amerika justru melonjak pasca penaikan tarif oleh Presiden Trump, serta indeks kepercayaan kepada pemerintah yang mulai positif sejak marak demo Agustus-September.
Semua bukti dan pencapaian itu, kata Febrio, menjadi modal untuk bertumbuh lebih baik di tahun depan. Febrio melihat bahwa kuartal IV ini menjadi pertaruhan soal pertumbuhan ekonomi tahun 2025. Sebab, berbagai inisiatif ekonomi digelontorkan di antara peralihan kuartal III dan IV.
Kuartal IV-2025 akan menjadi pijakan awal pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada 2026. Pada 2025 ini, outlook pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% optimis tercapai. “Tahun 2026, target pertumbuhan 5,4% tapi bisa juga menyentuh 6%,” ujar Febrio.
Untuk itu, strategi APBN 2026, akan diarahkan dengan menggenjot belanja pemerintah lebih awal. “Kuartal I-2026 kementerian/lembaga (K/L) yang spending-nya besar akan dikoordinasikan agar realisasi belanjanya efektif. Upaya menggenjot belanja pemerintah pada kuartal I-2026 ini menjadi pembuktian,” kata dia.
Febrio menekankan perlunya tiga mesin pertumbuhan untuk terus menyala. Ketiganya adalah mesin fiskal, meskin keuangan dan moneter, serta mesin investasi. “Ketiganya harus terus menyala jika kita ingin tumbuh cepa,“ tuturnya.
Karena itulah, Febrio menekankan bahwa pemerintah akan mendorong kontribusi investasi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia di atas 30% guna memperkokoh struktur ekonomi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024 kontribusi investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) terhadap struktur pembentuk PDB Indonesia baru mencapai sekitar 30%, jauh di bawah konsumsi rumah tangga yang mendominasi hingga 54%.
Selama ini, investasi di Indonesia didominasi sektor swasta. Namun, kata Febrio, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah bertekad memperkuat peran investasi negara melalui optimalisasi badan usaha milik negara (BUMN) yang dikelola oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Diharapkan, investasinya difokuskan ke sektor yang memiliki nilai tambah tinggi dan menumbuhkan banyak lapangan kerja.
“Jika tahun ini belanja modal (capex) seluruh BUMN baru sekitar Rp 380 triliun, tahun depan akan lipat dua. Investasi ini diharapkan turut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi,“ tutur Febrio.
Dengan sinergi antara sektor swasta, BUMN, dan lembaga investasi pemerintah, Kemenkeu optimistis porsi investasi dalam PDB dapat melampaui 30% dan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan.
Febrio melihat pada 2026 belum ada titik cerah karena proyeksi pertumbuhan ekonomi global masih berada di sekitar 2,9%. Gejolak global dan konflik geopolitik masih akan terus terjadi.“Beberapa pihak mengatakan ini akan menjadi permacrisis alias krisis permanen,” ujar dia.
Sementara itu, guyuran likuiditas yang bakal turut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi adalah pemindahan dana pemerintah dari Bank Indonesia senilai Rp 200 triliun ke bank anggota Himbara. Menurut Febrio, realisasi penyaluran kredit dari bank-bank tersebut sudah mencapai Rp 167,6 triliun 84%. “Untuk Bank Mandiri dan BRI, realisasi serapan mencapai 100%. Bahkan mereka minta tambahan,“ ujar Febrio.
Adapun Bank BNI tercairkan sebesar Rp 37,4 triliun atau 68% dari plafon, Bank BTN Rp 10,3 triliun atau 41% dan BSI di Rp 9,9 triliun atau 99%.
Tiga Serangan
Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Wahyu Utomo mengungkapkan, kebijakan fiskal yang tepat dapat memacu pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Wahyu menjelaskan, ada tiga cara untuk mencapai hal tersebut. Pertama, ekonominya harus andal dan stabil. Kedua, sektor riil juga harus andal, yang dapat menyerap tenaga kerja formal dengan gaji memadai.
Ketiga, sektor keuangan harus berputar cepat. Wahyu menekankan bahwa sektor keuangan harus likuid dengan biaya yang lebih murah dan fungsi intermediasi bank yang berjalan dengan baik.
Peran APBN sangat penting dalam mencapai tujuan tersebut. Sebab, APBN dapat berfungsi sebagai katalis untuk sektor swasta berdaya dan sebagai pemantik untuk mencapai skala ekonomi yang lebih besar.
Wahyu mengakui penyerapan APBN masih menjadi tantangan bagi pemerintah. Hingga September 2025, realisasi belanja negara baru mencapai Rp 2.234 triliun atau 63,4% dari target. Ini adalah fenomena klasik "slow and low". Artinya, penyerapan APBN yang lambat di awal tahun akan berdampak pada rendahnya penyerapan secara keseluruhan.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah telah membentuk Satgas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP) untuk mempercepat pelaksanaan program strategis pemerintah, termasuk di dalamnya satgas debottlenecking.
Selain itu, pemerintah juga berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif dengan melakukan deregulasi dan penyederhanaan prosedur. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Wahyu menambahkan, pemerintah telah meluncurkan tiga serangan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, yaitu serangan udara, serangan tengah, dan serangan darat. Serangan udara dilakukan dengan menciptakan iklim investasi yang kondusif, sedangkan serangan tengah dilakukan dengan membuat sektor keuangan berputar lebih cepat dengan cara menaruh sebagian SAL yang dulunya di BI digeser ke bank umum.
Pemerintah telah memutuskan untuk melakukan kebijakan fiskal ekspansif guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Artinya, pemerintah mengeluarkan dana lebih besar dibanding jumlat yang ditarik, sehingga defisit APBN diperkirakan akan melebar dari 2,53% menjadi 2,68%.
Wahyu menjelaskan, instrumen fiskal seperti pajak, PNBP, dan belanja akan dibuat ekspansif untuk mendukung kebijakan ini. Karena itu, Menteri Keuangan Purbaya menekankan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan pajak. Pemerintah hanya akan melakukan intensifikasi pajak dengan menambal kebocoran pajak dan meningkatkan kepatuhan pajak.
Dukungan Ekspansif Bank Indonesia
Bank Indonesia juga mendukung habis-habisan untuk mendorong ekspansi ekonomi lewat pelonggaran moneter. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juli Budi Winantya menjelaskan, BI telah menurunkan BI Rate sebesar 150 basis poin sejak September 2024, serta melakukan ekspansi likuiditas. Posisi Sertifikat Bank Indonesia (SRBI) yang pada awal tahun mencapai Rp 924 triliun telah menurun menjadi Rp 707,05 triliun pada 21 Oktober 2025, menunjukkan injeksi likuiditas sekitar Rp 270 triliun.
Adapun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh BI di pasar sekunder juga telah terakumulasi sekitar Rp 270 triliun.
Dalam rangka mendorong pemulihan ekonomi, BI memberikan insentif makroprudensial berupa pengurangan giro wajib minimum (GWM) bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Hingga Oktober 2025, akumulasi kredit yang terdorong melalui insentif ini mencapai hampir Rp 400 triliun.
“Dari kombinasi itu, intinya kami tetap mendorong pertumbuhan, namun memastikan stabilitas tetap terjaga,” tegas Juli.
Dengan dukungan itu, BI berharap pertumbuhan ekonomi mendekati potensi riilnya. Juli menilai, pertumbuhan ekonomi nasional berada pada level yang cukup baik, namun belum mencapai potensi maksimalnya. Karena itu, BI berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
“Bank Indonesia melihat bahwa pertumbuhan ekonomi ini masih di bawah potensialnya. Kami memperkirakan pertumbuhan di semester kedua akan lebih baik dibandingkan Semester I-2025, didukung berbagai faktor,” ujar Juli.
Manufaktur Jadi Jenderal Pertumbuhan
Sementara itu, Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Andry Asmoro menegaskan bahwa pertumbuhan di kuartal IV-2025 minimal harus 5,5%, agar target pertumbuhan tahunan 5,2% dapat terealisasi. Kalau di kuartal IV hanya tumbuh 5,5%, keseluruhan tahun 2025 hanya tumbuh 5,13%.
Andry melihat di semester I-2025 Indonesia kehilangan momentum untuk tumbuh tinggi karena merupakan periode konsolidasi. “Harusnya semester I-2026 kita sudah enggak ada lagi story konsolidasi, sudah langsung bisa ngegas," ucapnya.
Dia menyoroti bahwa Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang lebih tinggi dari 5% untuk membangun resiliensi ekonomi jangka panjang, terutama dalam menghadapi dinamika makro global hingga 2035.
Selain itu, kata dia, pertumbuhan ekonomi di atas 5% bukan sekadar angka, tetapi merupakan prasyarat untuk memanfaatkan momentum demographic dividend (bonus demografi) yang semakin menipis.
“Demographic dividend kemungkinan akan berakhir 2035, atau paling lama 2040. Saat itu, dependency ratio makin tinggi. Jika saat ini satu orang produktif menanggung 2 orang nonproduktif, nanti akan menanggung 4 orang nonproduktif,“ tegasnya.
Lebih jauh, Andry Asmoro mendesak pemerintah untuk menempatkan sektor industri manufaktur sebagai 'jenderal' dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Target pertumbuhan ekonomi sulit dicapai tanpa adanya dorongan kuat pada sektor manufaktur.
Menurutnya sektor manufaktur merupakan penyumbang terbesar bagi pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Namun, pemerintah saat ini belum banyak menyentuh sektor tersebut secara luas. "Kalau mau tumbuh tinggi, industri manufaktur harus jadi jenderalnya," kata Andry.
Sektor kedua yang mendorong pertumbuhan ekonomi, yakni pertanian, perkebunan, dan perikanan. "Kalau misalnya sektor tersebut yang sumbangannya 13,8% itu bisa tumbuh 4% saja. Itu tumbuhnya akan relatif lebih resilien ke depan. Hilirisasi di sektor pertanian atau agribisnis itu sangat besar. Ini sangat potensial," ujarnya.
Selain itu, sektor perdagangan juga menyumbang pertumbuhan ekonomi cukup tinggi. Berdasarkan data yang dimiliki Bank Mandiri, Indonesia didukung oleh perilaku orang Indonesia yang suka jajan dan jalan-jalan, sebagai basis kuat konsumsi domestik.
Andry Asmoro juga menyebut sejumlah sektor lain yang sangat prospektif, yakni kesehatan, pendidikan, dan logistik.
Prospek Pasar Modal
Tentang prospek investasi portofolio, pasar modal tahun depan diprediksi juga bakal lebih prospektif. Menurut Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, pihaknya semakin aktif mendorong penawaran umum perdana (IPO), tidak hanya menunggu perusahaan datang tetapi membantu proses persiapan emiten. Iman Rachman juga mengisyaratkan bakal ada sejumlah grup konglomerasi besar yang siap melantai di pasar modal tahun depan. Tahun ini pun, masih ada tiga perusahaan berstatus lighthouse yang akan melantai di pasar modal hingga akhir tahun ini. Perusahaan lighthouse merupakan istilah untuk emiten yang memiliki kapitalisasi pasar minimal Rp 3 triliun dengan komposisi free float minimal 15%.
Hingga 23 Oktober 2025, BEI mencatat terdapat 13 perusahaan yang masuk dalam pipeline IPO. Dari jumlah tersebut, dua perusahaan memiliki aset skala kecil, enam perusahaan aset menengah, dan lima perusahaan aset besar. Selain itu, terdapat satu perusahaan yang tengah mempersiapkan aksi korporasi rights issue, serta 23 emisi obligasi.
Hingga saat ini, sebanyak 555 efek baru telah tercatat di pasar modal, melampaui target 430 efek. Jumlah investor juga bertambah 4 juta, lebih tinggi dari target penambahan 2 juta investor.
“Kita cukup optimis bahwa pasar modal kita akan terus tumbuh. Kuncinya, kalau suku bunga turun dan inflasi turun, biasanya bursa akan naik,” kata Iman.
Iman juga menilai rencana investasi besar Danantara akan memberi dorongan positif bagi pasar modal. Danantara tengah menyiapkan penempatan dana investasi sebesar US$ 10 miliar, sebagian di antaranya akan mengalir ke pasar modal. “Aliran dana baru tersebut berpotensi memperkuat likuiditas pasar dan menarik minat investor. Itu pasti positif buat kita,“ ucapnya.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) sebanyak enam kali sejak Purbaya Yudhi Sadewa resmi menjabat sebagai Menteri Keuangan, 8 September. Sebelum itu, Januari-September, IHSG hanya mencatat satu kali ATH.
“Fenomena tersebut menunjukkan peningkatan kepercayaan pelaku pasar terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini yang pro-growth. Kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi selalu memberikan sentimen positif terhadap pasar saham,“ ujar Iman Rachman.
Target besar lainnya, lanjut Iman, BEI ingin masuk dalam jajaran 10 besar bursa efek global berdasarkan kapitalisasi pasar (market cap) dan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada tahun 2030 mendatang.
Hingga November 2025, kapitalisasi pasar BEI sudah naik ke peringkat 20 dunia, sementara dari sisi transaksi harian berada di peringkat ke-17. Iman optimistis target tersebut realistis untuk dicapai.
Guna mewujudkan target tersebut, BEI tengah memperkuat sejumlah strategi, antara lain memperluas akses dan jangkauan layanan pasar modal, serta menghadirkan inovasi produk sesuai kebutuhan pasar. Dalam tiga tahun terakhir, BEI telah meluncurkan produk seperti structured warrant, single stock future, serta indeks MSCI Large Cap Hong Kong.
Selain itu, BEI memperluas kerja sama lintas bursa internasional. “Minggu lalu kita kerja sama dengan Singapore Stock Exchange, meluncurkan Depository Receipts (DR) yang underlying-nya saham-saham tercatat di BEI,” jelas Iman.
Pengembangan Derivatif
Sedangkan Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal OJK Henry Rialdi mengungkapkan, sebagai upaya untuk meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia bagi para investor, termasuk investor asing, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki beberapa strategi salah satunya pengembangan bursa derivatif.
Selain itu, OJK juga menyoroti pentingnya ketersediaan dana (availability of funds) bagi perekonomian nasional. Meski dana domestik terus tumbuh, namun peran dari investasi asing masih tetap krusial untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi hingga 8% sebagaimana yang ditargetkan Presiden Prabowo Subianto.
“Pasar modal ini memiliki potensi yang cukup besar. Kalau kita lihat source of financing dari traditional institutional yang sudah ada seperti perbankan, potensi pertumbuhannya itu masih lebih rendah dibandingkan dari pasar modal,” kata Henry.
Oleh karena itu, kata dia, OJK berupaya meningkatkan likuiditas dan memperbesar pasar modal nasional, sekaligus memperbaiki kualitas emiten serta pelaku pasar. Penguatan infrastruktur digital juga menjadi bagian dari strategi tersebut.
“Kita akan menggunakan information technology yang digitalisasi dalam beberapa mekanisme framework dari pasar modal, termasuk integrasi data antara bursa dan data yang ada di OJK sendiri,” ucap Henry.
Perbaikan Daya Beli
Dalam pandangan pengusaha, peran pemerintah tetap penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani Shinta mengingatkan bahwa kunci pertumbuhan kuartal IV-2025 ini adalah belanja pemerintah dan konsumsi domestik. Momentum Natal dan Tahun Baru juga dapat dimanfaatkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
Shinta mengungkapkan, sisi permintaan atau daya beli menjadi salah satu hal yang terpenting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal iru dapat didorong melalui program insentif yang dikucurkan oleh pemerintah. "Pemerintah sudah mengeluarkan insentif 8+4+5, yang bisa membantu untuk nge-boost," terangnya.
Shinta menilai terdapat perbaikan-perbaikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, termasuk pada kuartal III yang mencapai 5,05%. Itu sejalan dengan kondisi Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang berada dalam fase ekspansi, di level 51,2 pada Oktober 2025.
Shinta juga menyoroti penetapan besaran upah minimum provinsi (UMP) tahun 2026 yang akan berpengaruh terhadap dunia usaha. Dia berharap keputusan penetapan formula UMP 2026 adil bagi para pekerja dan pengusaha, jangan disamaratakan. “Jangan mengagetkan para pengusaha seperti tahun UMP 2025 sebesar sebesar 6,5%,” tuturnya.
Hilirisasi Freeport
Adapun terkait hilirisasi yang digadang-gadang sebagai salah satu ujung tombak investasi ke depan, PT Freeport Indonesia (PTFI) memastikan akan melanjutkan komitmen investasinya pada 2026 dengan nilai sekitar Rp 15 triliun.
“Langkah ini merupakan bagian strategi jangka panjang perusahaan untuk memperkuat hilirisasi industri tembaga dan mendukung peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Investasi yang kami lakukan diselaraskan dengan tujuan utama pemerintah, yaitu hilirisasi,“ Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia, Katri Krisnati.
Ia menjelaskan, sumber daya tembaga Freeport yang telah teridentifikasi masih sangat besar yakni mencapai 3 miliar ton yang bisa ditambang hingga 2041. Selain itu, terdapat cadangan tambahan sekitar 1,5 miliar ton yang berpotensi dieksplorasi lebih lanjut.
Freeport Indonesia komit terhadap program hilirisasi mineral nasional. Itu sebabnya, seluruh produksi konsentrat tembaga atau 100% dari tambang Papua kini sudah bisa diolah sepenuhnya di dalam negeri, yakni dengan beroperasinya smelter baru Freeport di Gresik dan ekspansi PT Smelting. Smelter Gresik mampu memproses 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun dan ekspansi PT Smelting menambah kapasitas 1,3 juta ton per tahun. Hasil produksi dari dua smelter tersebut mencapai 800.000 ton katoda tembaga setiap tahun.
Katri juga menginformasikan bahwa dari total penerimaan negara dari Freeport 80 triliun tahun lalu, Rp 12 triliun di antaranya disalurkan ke pemerintah daerah. Dampak ekonomi Freeport terhadap PDB nasional mencapai 0,75%, sementara bagi Papua Tengah mencapai 77%, dan Kabupaten Mimika 91,16%. (Tim Investortrust.id)

