Kisah Do Kwon, Si Raja Kripto “Lunatics” yang Lenyapkan US$ 2 Triliun Aset Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Do Kwon, sosok yang dulu dielu-elukan sebagai anak muda jenius dalam dunia kripto, berdiri di ruang sidang Manhattan dengan tangan dan kaki terbelenggu, mengenakan seragam tahanan berwarna kuning. Pemandangan ini kontras dengan masa jayanya ketika ia membangun ekosistem Terra yang digadang-gadang mampu menantang dominasi Wall Street.
Pengusaha asal Korea Selatan itu pernah menyebut para pengkritiknya sebagai “kecoak” dan mengeklaim ciptaannya, stablecoin algoritmik TerraUSD (UST), akan merevolusi sistem keuangan global. Namun, narasi megah tersebut runtuh pada 2022 ketika UST kehilangan patokan terhadap dolar AS dan menyeret koin pendampingnya, LUNA, ke jurang kehancuran.
Kwon telah mengaku bersalah atas dua dakwaan pidana penipuan yang merugikan investor hingga US$ 40 miliar.
Pengakuan bersalah Kwon disampaikan pada Selasa, (12/8/2025), dalam sebuah sidang yang berlangsung di pengadilan Manhattan, New York, dan dipimpin oleh Hakim Distrik AS, Paul Engelmayer. Sebelumnya, Kwon sempat menyangkal sembilan dakwaan lain pada Januari 2025, termasuk penipuan sekuritas dan pencucian uang.
Menurut laporan BBC, ia berpotensi mendapat hukuman 12 tahun penjara melalui kesepakatan pembelaan. Sebuah nasib yang dinilai “lebih ringan” dibanding Sam Bankman-Fried, mantan bos FTX, yang dijatuhi hukuman 25 tahun meski nilai kerugiannya lebih kecil.
Seorang analis menyebut kejatuhan Terra sebagai “penghancuran kekayaan terbesar dalam satu proyek dalam sejarah kripto”.
Forum Ekonomi Dunia mencatat peristiwa itu ikut menghapus sekitar US$ 2 triliun nilai aset global, memicu gelombang “crypto winter” yang melumpuhkan industri sepanjang 2022.
Tragedi ini semakin mengejutkan karena UST sempat dipandang sebagai stablecoin paling mapan setelah USDT dan USDC. Dipatok satu banding satu dengan dolar AS, UST diyakini lebih aman dari volatilitas pasar kripto. Tak kurang dari 280.000 investor menaruh kepercayaan, termasuk perusahaan ventura besar di AS dan ribuan investor ritel di Korea Selatan.
LUNA dan stablecoin UST milik Terraform Labs pimpinan Do Kwon memang sempat jadi primadona kripto. UST diklaim sebagai “algoritmik stablecoin” yang nilainya dijaga lewat mekanisme mint-burn antara UST dan LUNA.
Mekanisme mint-burn pada ekosistem LUNA–UST dirancang untuk menjaga harga UST tetap 1 US$. Jika harga UST turun, sistem membakar UST dan mencetak LUNA agar pasokan UST berkurang dan harganya naik kembali. Sebaliknya, jika harga UST naik, sistem membakar LUNA dan mencetak UST baru agar pasokan bertambah dan harga kembali stabil. Artinya, sistem akan memberi insentif ke pengguna untuk membakar UST dan menukarnya dengan LUNA senilai 1 US$ saat UST turun harganya. Sayangnya, mekanisme ini hanya bertumpu pada kepercayaan pasar tanpa cadangan aset riil.
Nah ketika mekanisme ini gagal menjaga nilai LUNA, kepercayaan pun runtuh seketika. Mekanisme algoritmik yang seharusnya menjaga kestabilan harga justru menciptakan hiperinflasi pada LUNA.
Baca Juga
Dalam hitungan hari, harga LUNA anjlok dari US$ 119 menjadi nyaris tidak bernilai. Investor kehilangan tabungan, beberapa bahkan dilaporkan nekat mengakhiri hidup karena kerugian yang tak sanggup ditanggung.
Jaksa menuding Do Kwon, kala itu berusia 33 tahun, membangun “dunia keuangan yang berdiri di atas kebohongan serta teknik manipulatif dan menyesatkan”. Tuduhan itu mengubah citra Kwon dari raja kripto menjadi penjahat di mata publik, terutama di negeri asalnya.
Sebelum tragedi itu, Do Kwon memang dikenal pongah. The New York Times mencatat bagaimana ia kerap menantang arus, menyebut para pengkritiknya “kecoak”, dan percaya diri bahwa ekosistem Terra akan mengguncang dunia keuangan.
Para penggemar sempat menyebut dirinya “raja Lunatics”, merujuk pada komunitas fanatik pendukung LUNA.
Perjalanan Kwon sebenarnya dimulai dengan cemerlang. Lahir dari keluarga terpandang di Seoul, ia menempuh pendidikan di sekolah elit Daewon Foreign Language High School sebelum melanjutkan studi teknik komputer di Stanford. Ia sempat bekerja di Microsoft dan Apple, lalu memilih pulang ke Korea Selatan pada 2018 untuk mendirikan Terraform Labs.
Kariernya melesat berkat komunikasi agresif di media sosial. Bloomberg menulis bahwa karismanya menarik perhatian investor dan menjadikannya salah satu tokoh paling disorot di dunia kripto. Namun semua itu runtuh ketika kepercayaan terhadap UST menguap.
Setelah keruntuhan Terra, Kwon hidup bak buronan. Korea Selatan mengeluarkan surat perintah penangkapannya pada 2023, sementara Interpol menerbitkan red notice. Ia melarikan diri dari satu negara ke negara lain, membawa perangkat elektronik dan paspor palsu. Disruption Banking menyebut Kwon “hidup bak oligarkus buangan”.
Montenegro Jadi Akhir Pelarian Kwon
Pelarian itu berakhir di Montenegro, ketika Kwon mencoba terbang ke Uni Emirat Arab menggunakan paspor Kosta Rika palsu.
Ia ditangkap, lalu diekstradisi ke Amerika Serikat. Dari sosok yang dulu dielu-elukan, ia kini hanya tampak “lebih tua dan lelah” di hadapan publik. Tak cuma Paman Sam, Korea Selatan pun menginginkan agar Kwon bisa diekstradisi dan diadili di negeri asalnya, mengingat korban yang tak sedikit di Korea. Sejumlah pemegang aset UST bahkan dilaporkan mengakhiri hidupnya karena putus asa seluruh asetnya hilang dalam hitungan hari.
Sebagai bagian dari kesepakatan pengakuan bersalah, Kwon menyerahkan lebih dari US$ 19 juta hasil aktivitas kriptonya. Namun urusannya belum selesai, karena ia masih menghadapi dakwaan di Korea Selatan.
Banyak pihak menilai kegagalan Terra-UST bukanlah kecelakaan semata. Model stablecoin algoritmik terbukti rapuh karena hanya bertumpu pada kepercayaan pasar tanpa dukungan aset riil. Begitu kepercayaan itu hancur, sistem ambruk dalam hitungan hari.
Lebih jauh, jatuhnya LUNA menimbulkan efek domino. Beberapa hedge fund besar bangkrut, ribuan investor kehilangan dana, dan kepercayaan publik terhadap dunia kripto merosot tajam. “Crypto winter” menjadi kenyataan yang memukul keras industri di seluruh dunia.
Kini, Do Kwon lebih dikenal sebagai simbol kegagalan dan arogansi dalam dunia kripto ketimbang sosok visioner.
Kata-katanya sendiri pada 2022 kepada Coinage seolah menjadi ironi: “Saya tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi pada saya jika ini gagal.”
Di balik jeruji besi, ia punya banyak waktu untuk merenungi kalimat itu.

