Metamorfosis dan Orientasi Digital Generasi Ketiga Konglomerat Indonesia
JAKARTA, investortrust.id -- Tiga konglomerat utama di Indonesia, -- Grup Salim, Grup Sinar Mas, dan Grup Djarum -- sedang berpacu dalam investasi di sektor infrastruktur digital dan berkolaborasi dengan startup. Langkah ini merupakan perubahan orientasi ke bisnis digital yang diinisiasi dan diamplifikasi oleh generasi ketiga kongomerat, untuk diintegrasikan ke dalam bisnis inti mereka ke depan.
Meskipun generasi ketiga bertanggung jawab untuk menggalang dana investasi dan berkolaborasi dengan startup, mereka masih dalam proses pengembangan kejaman analisis dalam melakukan kajian lewat fund management, dengan tetap menghormati keputusan yang diambil oleh generasi kedua yang sejauh ini tetap duduk di manajemen inti.
Kesadaran dan pemahaman generasi ketiga terhadap perusahaan Jepang tidak berbeda secara signifikan dari generasi kedua yang pro-Jepang. Namun, ketika memilih partner patungan, mereka tetap mengambil sikap yang lebih fleksibel, membuat keputusan berdasarkan karakteristik dan keuntungan yang didapat, tanpa memandang asal negara.
Demikian benang merah laporan Mitsui & Co Global Strategic Studies Institute bertajuk “Transisi di Konglomerat Indonesia”. Laporan ini menganalisis tren generasi kedua, yang berada di pusat manajemen konglomerat-konglomerat papan atas yang memegang peran dominan dalam ekonomi Indonesia, serta tren generasi ketiga, para pewaris mereka.
Dengan fokus khusus pada generasi ketiga, laporan ini bertujuan memberikan beberapa saran untuk rekomendasi bagi siapapun yang ingin berbisnis dengan konglomerat Indonesia.
Transisi
Generasi pertama konglomerat di Indonesia merupakan tokoh di balik layar yang ikut mendorong industrialisasi di bawah rezim Soeharto. Perusahaan swasta di Indonesia dibagi menjadi pribumi (Melayu) dan nonpribumi beretnis Tionghoa.
Sebagian besar konglomerat utama dimiliki oleh etnis Tionghoa dan beroperasi dalam berbagai domain bisnis. Mereka pada umumnya merupakan bisnis keluarga. Bahkan setelah perusahaan berubah menjadi perusahaan terbuka yang terdaftar di bursa saham, keluarga pendiri terus memegang kontrol.
Pendiri-pendiri konglomerat Tionghoa ini adalah para imigran dari Tiongkok daratan, bisa juga anak atau cucu para imigran tersebut. Banyak dari mereka memulai bisnis selama atau setelah Perang Dunia II dan memperoleh koneksi politik selama rezim panjang Soeharto (1966-1998).
Di bawah rezim pembangunan Soeharto, konglomerat-konglomerat Tionghoa diberi izin pembangunan dan monopoli perdagangan di berbagai sektor, mulai bidang industri berat, pertambangan, serta pertanian dan pangan untuk memperluas bisnis mereka. Bekerja di belakang layar, konglomerat-konglomerat ini mendukung pertumbuhan ekonomi cepat Indonesia dan transformasinya menjadi negara yang baru memasuki industrialisasi.
Sedangkan konglomerat generasi kedua mengubah portofolio bisnis untuk pulih dari krisis. Krisis keuangan Asia tahun 1997 dan jatuhnya rezim Soeharto tahun 1998 menghantam konglomerat-konglomerat Tionghoa. Runtuhnya nilai tukar rupiah menyebabkan utang luar negeri dalam valas melambung, dan sejumlah konglomerat menyaksikan bank yang mereka miliki ambruk atau dinasionalisasi. Hidup masyarakat umum menjadi miskin akibat kenaikan tajam harga barang impor, dan ketidakpuasan mereka mengarah pada kerusuhan anti-Tionghoa.
Namun, setelah periode transisi, stabilitas politik mulai pulih selama pemerintahan Yudhoyono (2004-2014), dan konglomerat-konglomerat Tionghoa bangkit di tengah booming sumber daya dan iklim bisnis yang menguntungkan yang dimulai pada akhir tahun 2000-an. Konglomerat-konglomerat baru yang dimiliki oleh pribumi, seperti CT Corp yang dimiliki oleh Chairul Tanjung, juga muncul selama periode ini.
Seluruh 10 konglomerat utama mampu mengatasi krisis dengan mengalihkan fondasi bisnis mereka dari industri berat ke industri berbasis sumber daya alam (SDA) dan industri jasa. Pemulihan ini disebabkan tidak hanya oleh lingkungan unik Indonesia, yang memiliki kelapa sawit, batu bara, dan sumber daya lainnya dengan teknologi rendah dan sedikit persaingan di pasar internasional. Tetapi juga oleh kecerdasan banyak wirausahawan generasi kedua yang dipercayakan untuk mengendalikan operasi konglomerat.
Pemerintahan Jokowi kemudian mengutamakan hilirisasi industri dan penghapusan disparitas regional, dan juga berusaha untuk merespons tren digitalisasi dan dekarbonisasi.
Tren Generasi Ketiga
Mari kita konglomerat paling kondang, Grup Salim. Grup ini mengoperasikan berbagai bisnis, mulai perkebunan kelapa sawit, penggilingan terigu, dan rantai pasokan makanan yang mencakup pengolahan pangan dan grosir untuk sekitar 19.280 toko ritel di seluruh negeri, industri berat, dan infrastruktur. Grup Salim juga berkolaborasi dengan beberapa perusahaan Jepang, termasuk Duskin (bisnis Mister Donut), The Nisshin OilliO Group, dan Seino Holdings.
Pimpinan dan CEO dari grup ini adalah Anthoni, anak ketiga dari pendiri Sudono Salim (Liem Sioe Liong), dan putra sulung Anthoni Salim, yakni Axton (43), diharapkan menjadi penerusnya. Setelah lulus dari universitas di Amerika Serikat, Axton bergabung dengan anak perusahaan Indofood, perusahaan makanan inti dari grup ini, pada tahun 2004, setelah sebelumnya berkarier di Credit Suisse Singapura. Ia diangkat sebagai direktur Indofood pada tahun 2009 dan menjabat sejumlah posisi di banyak perusahaan dalam grup tersebut.
Axton fokus pada pengembangan produk baru, termasuk berbagai camilan (snack) dengan rasa yang sama dengan mie instan Indomie, lini produk andalan perusahaan. Menariknya, alih-alih menggunakan akun media sosial resmi perusahaan, Axton justru memposting iklan produk baru melalui akun pribadinya di Twitter, Instagram, dan TikTok.
Dengan pendekatan ini, Axton ingin menyasar kaum muda, ia berhasil menarik perhatian dengan menjadi papan reklame secara pribadi. Dia juga sering membuat posting di media sosial tentang kehidupan pribadinya. Dia memiliki reputasi sebagai sosok yang ramah dan tidak terlihat seperti anak dari keluarga konglomerat kaya.
Di antara bisnis baru dalam grup ini, Axton memimpin fasilitas inkubasi, proyek e-sports, dan metaverse. Meskipun dia ditampilkan dalam rilis media, gagasan aslinya diyakini berasal dari ayahnya, Anthoni. Anthoni adalah orang yang sangat tekun, dan sejak dini, dia mulai fokus pada konten digital, dan usahanya memperoleh lisensi untuk menggunakan karakter Jepang populer Pokemon dalam bisnis.
Dia juga berhasil menarik perhatian dengan mencetak kata-kata populer di kalangan pemuda pada kemasan produk baru.
Anthoni Salim disebut-sebut sebagai penggagas investasi di pusat data, perbankan digital, dan area lain yang memiliki momentum untuk tumbuh menjadi bisnis inti.
Berikut adalah histori pengembangan bisnis Grup Salim terkini:
Tahun 2017:
● Kembali ke bisnis perbankan setelah absen 20 tahun dengan mengakuisisi Bank Ina Perdana, bank berukuran menengah
● Mendirikan fasilitas inkubasi, Block71, di Jakarta bekerja sama dengan NUS Enterprise, entitas wirausaha National University of Singapore
● Berinvestasi di PopBox Asia Services, perusahaan loker pintar
● Bermitra dengan Liquid, perusahaan otentikasi biometrik Jepang, untuk bisnis pembayaran seluler berbasis otentikasi sidik jari
● Mengakuisisi XL Planet (kerjasama antara XL Axiata di Indonesia dan SK Planet di Korea Selatan), operator situs e-commerce Elevenia, dan mendapatkan lisensi uang elektronik.
Tahun 2019:
* Mendirikan usaha patungan dengan ESL, manajer turnamen e-sports asal Jerman
● Bermitra dengan Pokemon, perusahaan perencanaan permainan Jepang (didanai oleh Nintendo), dan memperoleh hak distribusi untuk permainan kartu Pocket Monster dan produk berlisensi
● AKG Games, perusahaan game dalam grup, bermitra dengan Blizzard Entertainment, pengembang perangkat lunak game asal Amerika Serikat.
Tahun 2020:
Perusahaan induk investasi Gallant Venture membangun pabrik sayuran untuk Singapura di Pulau Bintan bekerja sama dengan Obayashi Corporation dari Jepang.
● Bermitra dengan Google Cloud untuk mempromosikan Transformasi Digital berbasis kecerdasan buatan (AI-based DX).
● Membentuk perusahaan asuransi dan kesehatan serta pusat analisis genetik melalui usaha patungan dengan Medizen Humancare, perusahaan uji genetik asal Korea Selatan.
● Menginvestasikan dana tambahan di DCI Indonesia, penyedia pusat data utama, dan meningkatkan kepemilikan CEO Anthoni dalam perusahaan dari 3,03% menjadi 11,12%.
● Mengumumkan kemitraan yang ditingkatkan di sektor teknologi dengan Emtek Group (PT Elang Mahkota Teknologi).
● Perusahaan induk investasi Gallant Venture, bekerja sama dengan MedcoEnergi di Indonesia dan PacificLight Power di Singapura, meluncurkan proyek uji coba untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya di Provinsi Kepulauan Riau dan mengekspor listrik ke Singapura.
Tahun 2022:
* Menerima 6% saham Allo Bank, bank digital anak perusahaan di bawah CT Corp, melalui peningkatan modal.
● Mendirikan perusahaan pengembangan platform metaverse bekerja sama dengan WIR Group, pengembang teknologi realitas terdistribusi (AR) di Indonesia.
Sinar Mas Group
Konglomerat yang juga sangat sukses adalah Sinar Mas Group, dengan bisnis inti mencakup pulp kertas, keuangan, properti, agribisnis, pertambangan, dan telekomunikasi. Grup ini juga bertujuan mengembangkan layanan kesehatan dan pendidikan menjadi usaha inti. Bisnis pulp dan kertas disebut-sebut menguasai 60% aset, sedangkan perkebunan sawit sekitar 30%.
Sang pendiri, Eka Tjipta Widjaja, digantikan oleh enam putra dan satu putri (dari pernikahannya yang pertama), yang membagi kendali atas grup tersebut. Anak tertua, Teguh memegang pulp dan kertas, anak ketiga Indra Widjaja bidang keuangan, anak keempat Muktar Widjaja bidang real estat, dan anak keenam Franky Widjaja menangani perkebunan. Putra kedua, Oei Hong Leong putri tertua, Sukmawati berwiraswasta dan tinggal di Singapura. Adapun putra kelima, Elijah Frankie Djafar berwiraswasta tinggal di Shanghai.
Anak-anak Eka Tjipta dari istri kedua kini mengelola The Capitol Group.
Saat ini, semua anak melayani sebagai chairman, CEO, dan direktur perusahaan inti. Meskipun setiap bisnis independen untuk mencegah persaingan satu sama lain, terdapat kerja sama lateral yang erat karena anggota generasi kedua dan ketiga selalu berkumpul sekali sebulan untuk bertukar informasi dan mengadakan sesi studi.
Calon chairman berikutnya untuk seluruh grup awalnya adalah Jackson (42 atau 43), CEO Asia Pulp & Paper (APP). Namun, karena ia dibesarkan di China dan tidak lancar berbahasa Indonesia, serta terlibat dalam bisnis luar negeri tanpa koneksi domestik yang kuat, maka Michael JP Widjaja (38) dan Fuganto Widjaja (40) sekarang dianggap sebagai kandidat paling mungkin.
Michael adalah wakil presiden eksekutif Bumi Serpong Damai, anak perusahaan perusahaan real estat Sinar Mas Land, dan ia memimpin BSD City, proyek pengembangan perkotaan besar dengan fokus menciptakan kota pintar (smart city). Grup Sinar Mas telah melakukan kerja sama dengan lebih dari 30 perusahaan Jepang, dan aliansi perusahaan Jepang, termasuk Mitsubishi Corporation, yang berniat untuk berpartisipasi di BSD City.
Fuganto, direktur eksekutif dan CEO grup Golden Energy and Resources (GEAR), membantu dalam bisnis pertambangan yang dimiliki pamannya Franky serta dalam semua proyek keuangan selain asuransi.
Hampir semua generasi ketiga Sinar Mas lulus dari universitas di Amerika Serikat dan memiliki nilai-nilai yang berbeda dalam beberapa hal dari generasi kedua yang utamanya dididik di Asia. Ini paling terlihat dalam pendekatan mereka terhadap ESG. Pada tahun 2013, ketika Linda (41) bertanggung jawab atas operasi APP di Indonesia, operasi tersebut dikritik oleh LSM lingkungan dan perusahaan-perusahaan Barat karena merusak hutan hujan tropis dan menjadi sumber emisi CO2. Setelah meyakinkan ayahnya dan eksekutif lainnya, ia mengeluarkan Kebijakan Konservasi Hutan, yang menyatakan bahwa semua bahan baku untuk pulp kertas akan berasal dari perkebunan dan tidak akan ada lagi penebangan hutan alami.
Sebagai direktur eksekutif dan keberlanjutan Global Agri-Resources (GAR), Jesslyne (40) pun berfokus pada upaya menerapkan kebijakan perlindungan hutan pertama dalam industri kelapa sawit dan mencegah mempekerjakan anak di bawah umur. Adapun Michael meluncurkan proyek uji coba kendaraan otonom di BSD City untuk mengurangi emisi CO2.
Generasi ketiga berfokus pada pengembangan bisnis baru, sambil tetap terlibat dalam manajemen bisnis inti. Michael meluncurkan dana untuk berinvestasi dalam startup solusi pengembangan perkotaan. Adapun Fuganto meluncurkan bisnis farmasi, area di mana grup belum berkembang. Linda meluncurkan bisnis rumah sakit dan juga bekerja pada pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, yang merupakan prioritas pemerintah.
Grup Djarum
Bisnis inti Grup Djarum adalah tembakau dan perbankan. Bank Central Asia (BCA) yang dulunya adalah anak perusahaan Salim Group, tetapi setelah dinasionalisasi karena runtuh di-rush nasabah ketika krisis keuangan Asia, keluarga Hartono, pemilik Djarum, membeli sahamnya. Didukung oleh sumber daya keuangan berlimpah dari keluarga terkaya Indonesia, grup ini aktif berinvestasi dalam infrastruktur digital dan memiliki menara telekomunikasi serta jaringan komunikasi serat optik terbesar di negara ini.
Victor Rachmat Hartono (51) dan Armand Wahyudi Hartono (47) terlibat dalam manajemen Djarum, produsen rokok, dan BCA. Armand pernah bekerja sebagai analis untuk Global Credit Research and Investment Banking di JP Morgan Singapura.
Sedangkan Martin Basuki Hartono (49) meluncurkan perusahaan modal ventura GDP Venture pada tahun 2010 untuk mengembangkan bisnis inti baru. Perusahaan ini dikenal karena kemampuan penilaiannya.
Per Agustus 2022, perusahaan portofolio modal ventura adalah 65 perusahaan, termasuk unicorn dan soonicorn seperti super app Gojek, perusahaan medis online Halodoc, dan perusahaan e-commerce Blibli. Pada saat yang sama, Armand mendirikan Central Capital Venture di bawah BCA untuk berinvestasi di 26 perusahaan teknologi keuangan (fintech).
Meskipun suksesi dari satu generasi ke generasi berikutnya terus berlangsung, anggota generasi kedua menempatkan ajudan terpercaya di perusahaan-perusahaan kunci dan menjalankan pengaruh mereka, terutama dalam hal kesepakatan penting. Seperti juga di Sinar Mas, generasi kedua dan ketiga Grup Djarum sering melakukan pertemuan makan siang untuk berbagi informasi bisnis.
Metamorfosis
Masuknya generasi ketiga di jantung bisnis konglomerat membuat gurita bisnis kian solid. Orientasi generasi ketiga yang lebih fokus pada bisnis digital, lebih adoptif terhadap teknologi, serta memperhatikan aspek keberlanjutan (ESG) telah memberikan warna bagi wajah konglomerat Indonesia.
Dalam beberapa aspek, generasi ketiga berbeda dengan generasi kedua, beriring dengan metamorfosis perusahaan. Dibandingkan dengan generasi kedua yang menghindari perhatian publik, anggota generasi ketiga lebih aktif dalam kegiatan PR dan bersedia menjadi bintang di billboard mereka sendiri. Mereka juga sangat sadar ESG dan bekerja untuk mengatasi masalah lingkungan dan masalah hak asasi manusia, seperti buruh anak di bawah umur.
Konglomerat utama masih membangun hubungan baik dengan perusahaan-perusahaan Jepang, yan telah lama terjalin. Namun, di beberapa bisnis seperti sumber daya alam dan infrastruktur, sebagian bergantung pada perusahaan-perusahaan China. Artinya, generasi ketiga konglomerat secara fleksibel memilih mitra berdasarkan karakteristik dan keuntungan yang diperoleh, tanpa memandang asal negara.***

