Hal-Hal Besar Berawal dari yang Paling Kecil
JAKARTA, investortrust.id - Kesuksesan atau pencapaian besar bisa berawal dari hal-hal kecil, bahkan mungkin yang paling kecil. Saat seseorang mengerjakan hal yang dianggap kecil, sepele, remeh-temeh, ia sesungguhnya sedang diuji untuk mendapatkan hal besar.
Seseorang baru akan “naik kelas” setelah ia berhasil menyelesaikan hal-hal kecil itu. Maka totalitas, bekerja dengan sepenuh hati, dan melakukan yang terbaik jangan hanya berlaku bagi pekerjaan besar, tapi juga pekerjaan kecil, sekecil apa pun.
“Kalau dikasih yang kecil aja nggak bisa dikerjakan sepenuh hati, gimana mau dikasih yang besar atau yang terbesar? Kepercayaan diawali dari yang kecil dulu,” kata Chief Executive Officer (CEO) yang juga founder dan owner PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), Aldo Henry Artoko kepada jurnalis investortrust.id, Zsazya Senorita MC Ramadhani, Elsid Arendra Filemon, dan Abdul Aziz di kantornya, kawasan SCBD Jl Jenderal Sudirman Jakarta, baru-baru ini.
Aldo sudah merasakan “keajaiban” filosofi tersebut. Saat memulai bisnis pembangkit listrik tenaga air (PLTA) alias hydropower, ia nyaris patah arang karena tidak ada bank yang bersedia mendanai proyek tersebut.
“Untuk membangun proyek hydropower dengan kapasitas 7,4 megawatt (MW), kami perlu investasi Rp 170 miliar. Itu mungkin tergolong proyek kecil. Tapi bagi kami, dana segitu 10-15 tahun lalu sangat besar,” tutur Aldo yang memilih bisnis hydropower karena kecintaannya terhadap alam.
Rupanya, bank-bank di dalam negeri saat itu menganggap proyek hydropower tidak layak (feasible) secara bisnis. Proyek pembangkit listrik yang memanfaatkan arus air itu pun dinilai tidak prospektif.
Maklum, waktu itu pembangkit listrik di Indonesia masih didominasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara dan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) berbahan bakar solar.
“Semua lagi euforia batu bara. Juga masih banyak PLTD. Hydropower itu diketawain lah. Apalagi saya saat itu masih sangat muda, baru berumur 26 tahun. Orang bilang, nih anak muda, ngapain bikin hydro-hydroan,” ujar Aldo.
Toh Aldo Henry Artoko tetap berkeras bahwa hydropower adalah energi masa depan. Selain ramah lingkungan dan berkelanjutan, hydropower cocok dengan kondisi geografis Indonesia. Lebih dari itu, hydropower bisa menjadi solusi bagi pemenuhan listrik di berbagai daerah, khususnya di luar Jawa, yang belum terjangkau PT PLN (Persero).
Aldo terus meyakinkan perbankan bahwa hydropower bisa berkembang di masa depan. “PLTU aja ada yang jalan, kenapa PLTA nggak bisa jalan? Ini teknologi lama kok. Sekitar 100 tahun yang lalu, hydropower sudah ada, cuma belum dikembangin aja di Indonesia,” tegas dia.
Akhirnya perjuangan Aldo berbuah manis. Ia mendapatkan pendanaan dari perbankan dengan skema 70-30 (70% dana bank, 30% dana sendiri) untuk membiayai proyek hydropower pertamanya di Jawa Barat.
Dari situ pula, kepercayaan terhadap Arkora Hydro terus meningkat, baik dari kalangan perbankan sebagai kreditur maupun dari PLN selaku pembeli listrik yang diproduksi Arkora.
Aldo bahkan berhasil membawa Arkora Hydro melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2022. “Setelah sukses yang pertama, kami punya track record bagus. Terus lanjut proyek kedua, ketiga, sekarang udah lima kontrak nih. Semoga dalam waktu dekat nambah lagi,” papar dia.
Dari perjalanan bisnis yang telah dilaluinya, Aldo yakin betul bahwa setiap orang bisa meraih impiannya jika punya niat baik dan mau bekerja keras. Paling penting, hal-hal besar dimulai dari hal kecil, bahkan mungkin yang paling kecil.
Dengan demikian, sekecil apa pun suatu pekerjaan, ia harus melaksanakannya dengan sepenuh hati, total, demi menghasilkan yang terbaik. Sebab dari sanalah kemudian peluang-peluang besar akan muncul. “Itu berlaku di corporate world, level apa pun kita,” tandas entrepreneur berusia 40 tahun tersebut.
Aldo Henry Artoko juga percaya bahwa kesuksesan tidak ada hubungannya dengan uang. “Bagi saya, sukses itu berhubungan dengan bagaimana kita bisa ninggalin banyak manfaat bagi orang lain, bisa membangun sesuatu yang berguna bagi masyarakat sebagai legacy,” papar dia.
Aldo sendiri mengaku belum merasa sukses. “Saya baru megang ujungnya doang. Kalau saya sudah memaksimalkan potensi hydropower Indonesia, mungkin I’ve already successful,” ucap Aldo. Berikut petikan lengkap wawancara tersebut:
Perjalanan karier Anda hingga mencapai posisi sekarang?
Saya menamatkan SMA di Jakarta, di Kolese Kanisius, Menteng. Itu bisa dibilang cikal bakal karier saya karena di sana saya lumayan aktif di organisasi pencinta alam. Saya mendapat pengetahuan bahwa kelestarian lingkungan itu penting, menjaga lingkungan itu penting. Cuma, waktu itu belum berhubungan dengan bisnis.
Setelah lulus dari Kolese Kanisius, saya kuliah di Australia, ambil jurusan Mechanical and Manufacturing Engineering di University of New South Wales. Setelah lulus, saya mencari pengalaman terlebih dahulu di sana. Saya bekerja di kantor Parsons Brinckerhoff (PB) Sydney, sebuah perusahaan konsultan teknik berbasis di Amerika Serikat (AS).
Selama di Australia, saya terlibat dalam berbagai proyek infrastruktur, seperti proyek terowongan Sydney CBD, perkabelan udara - proyek Metro Sydney, dan pembangkit listrik tenaga gas. Juga proyek-proyek infrastruktur lain, seperti tunnel, mass rapid transit (MRT), dan gas power.
Waktu itu bos saya lumayan suka dengan kinerja saya, sehingga saya akan dikirim ke New York untuk ikut Young Project Manager Program. Saya pikir, kalau ke sana, bisa-bisa saya nggak pulang alias keterusan. Jadi, saya pulang ke Indonesia.
Yang mendorong Anda pulang?
Dari dulu, saya memang bercita-cita menjadi entrepreneur, sehingga saya memutuskan I probably should go home and contribute to my country.
Saat pulang, prinsip utama saya, kalau mau berbisnis carilah permasalahan yang bisa diselesaikan. Waktu itu, permasalahan yang dihadapi Indonesia adalah besarnya subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk kelistrikan. Pada 2009-2010, subsidi BBM untuk kelistrikan mencapai Rp 100 triliunan.
PLTD waktu itu banyak sekali, terutama di daerah-daerah pelosok Indonesia. Tujuan pemerintah memang mulia, yaitu ingin anak-anak di kawasan-kawasan terpencil bisa belajar dengan pencahayaan. Tapi kan biayanya besar dan membebani negara.
Nah, muncul pikiran, kenapa di Indonesia saat itu pembangkit listrik tenaga hidro belum dikembangkan? Di situlah saya mulai tergerak. Wah, kalau bisa kembangin pembangkit listrik tenaga hidro, sudah ramah lingkungan, bisa mengurangi subsidi pula. Maka mulailah saya membangun 1-2 proyek kecil.
Waktu itu belum banyak pemain di bisnis PLTA?
Hydropower sendiri kan sebenarnya sudah sangat mature. Tapi di Indonesia saat itu masih sangat-sangat langka. Maka kami pikir, kalau membangun, kami akan mendapatkan kontribusi yang lumayan dan potensinya masih besar. Apalagi di Indonesia penggunaan fossil fuel masih sangat dominan.
Secara total, kita tahu fossil fuel itu finite resource dalam arti sumber daya yang eventually bakal habis. Nah, by the rule of supply and demand eventually kalau seandainya supply semakin kecil, otomatis harganya naik.
Makanya, di dunia, negara yang sangat bergantung pada energi listrik namun sumber dayanya semakin menipis, suatu saat akan mengalami kekurangan listrik yang sangat besar. Padahal negara-negara lain sudah punya porsi hydropower atau renewable energy yang lumayan besar, bahkan sejak 2009-2010. Itulah mungkin hal-hal utama yang menggerakkan, untuk memulai di sini.
Kenapa Anda memilih PLTA?
Hydropower itu satu sumber pembangkit listrik atau energi terbarukan yang bisa terlaksana menggunakan base load operations. Contohnya ada dua, yaitu baseload operations dan intermittent.
Intermittent operations itu contohnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau solar panel. Itu bisa produksi kalau siang, kalau malam nggak bisa produksi, kecuali pakai baterai. Tetapi kalau pakai baterai kan ongkosnya mahal banget.
Sebaliknya, hydropower bisa berproduksi siang dan malam, tetapi memang ada fluktuasi untuk musim kering dan musim basah. Cuma kan siang dan malamnya tetap sama, sehingga pengaturan dari PLN lebih mudah operasionalnya.
Contohnya kalau musim kering bisa produksi 50%, musim hujan bisa produksi 100%. Tetapi bukan malam berapa, siang berapa. Fluktuasinya nggak tinggi, sehingga PLTA itu base load operations, seperti geothermal. Hanya saja, panas bumi investasinya terlalu besar untuk yang baru mulai usaha.
Jadi, ada alasan filosofis mengapa Anda memilih PLTA?
Ya, tentu. Kalau mau jadi entrepreneur atau pengusaha, kita harus tahu bahwa apa yang kita lakukan bisa memberikan value terhadap masalah yang ada. Masalah saat itu apa? Subsidinya energi tinggi dan ketergantungan terhadap fossil fuel yang finite resource masih sangat besar.
Anda mendirikan Arkora Hydro dari nol?
Dari nol, saya founder sekaligus owner. Tentunya sekarang sudah menjadi perusahaan publik (berdasarkan data BEI, pemilik saham Arkora Hydro adalah PT Arkora Bakti Indonesia 47,52%, ACEI Singapore Holdings Private Ltd 10,07%, PT Energia Prima Nusantara 26,55%, dan publik 15,69%).
Waktu mendirikan Arkora Hydro, apakah secara teknis Anda paham model bisnis PLTA?
Yes, I know dalam arti secara philosophical. Tetapi dari sisi organisasi perusahaan, saya perlu membangun tim. Makanya saat mendirikan perusahaan, saya cari partner lain.
Saya ketemu dengan yang sudah sangat berpengalaman. Nggak lama setelah saya dirikan perusahaan, beliau join untuk mendirikan perusahaan ini bareng-bareng, mulai dari dua proyek, tiga proyek, empat proyek.
Benchmark-nya dari mana?
Belum ada benchmark saat itu. Kami cuma mikir mau bangun PLTA, mulai dari satu proyek. Setelah satu, kami mulai tambah dua proyek.
Jatuh bangunnya seperti apa?
Pasti ada karena untuk mendirikan proyek pertama itu paling sulit. Kamikan belum berpengalaman membangun, mengurus perizinan, sampai akhirnya tahu harus bagaimana.
Jadi, yang pertama memang yang paling sulit. Yang kedua sedikit lebih mudah dari yang pertama. Tapi bukan berarti nggak ada masalah juga. Ada aja learning growth-nya. Tapi semakin mudah setelah kami belajar, setelah punya pengalaman.
Nggak semua pengalaman itu bisa dicatat, makanya pengalaman itu sangat-sangat berguna karena kejatuhan pertama itulah yang memberi pelajaran. Sekarang, kalau kami membangun proyek kelima, saya nggak bilang mudah, tapimemang lebih mudah dari yang pertama, kedua, ketiga.
Pengalaman-pengalaman proyek pertama itu yang paling memberi banyak pelajaran, dari sisi perizinan terutama, lalu dari sisi engineering, konstruksi, banyak sekali lah. Juga bagaimana menghadapi sosialnya yang benar.
Mengapa Anda saat itu begitu yakin Arkora Hydro bakal eksis?
Kalau nggak yakin, saya nggak akan di sini. Tetapi keraguan-raguan pasti ada. Nggak bohong lah. Semua orang pasti pernah merasa ragu-ragu, ini bisa diselesaikan nggak? Namun karena saya punya tim yang bagus, punya lingkungan yang bagus, akhirnya kami yakin bisa bareng-bareng melewati masa-masa sulit.
Untuk membangun proyek hydropower dengan kapasitas7,4 MW, kami perlu investasiRp 170 miliar. Itu mungkin tergolong proyek kecil. Tapi bagi kami, dana segitu 10-15 tahun lalu sangat besar.
Masalahnya, di zaman itu nggak ada bank yang mau mendanai. Sangat-sangat sulit. Semua lagi euforia batu bara. Juga masih banyak PLTD. Hydropower itu diketawain lah. Apalagi saya saat itu masih sangat muda, baru berumur 26 tahun. Orang bilang, nih anak muda, ngapain bikin hydro-hydroan.
Tapi Anda jalan terus?
Long story short, untungnya kami berkeras kepala, terus cobatry to break barrier. Basically at the end of the day, secara bisnis kami juga jualan ide bahwa bisnis ini bisa berkembang, kok.
PLTU aja ada yang jalan, kenapa PLTA nggak bisa jalan? Ini teknologi lama kok. Sekitar 100 tahun yang lalu, hydropower sudah ada, cuma belum dikembangin aja di Indonesia
So this is actually old stuff. It's nothing new. Akhirnya pada suatu saat, kami bisa gol dengan bank untuk pendanaan, dapat 70%. Sisanya sebesar 30% pakai uang sendiri. Lama-kelamaan, setelah itu kami bisa sukses.
Setelah sukses yang pertama, kami punya track record bagus. Terus lanjut proyek kedua, ketiga, sekarang udah lima kontrak nih. Semoga dalam waktu dekat nambah lagi.
Cara Anda memupus keragu-raguan?
Kalau ngomong ke situ-situ pasti berhubungan dengan Tuhan. Faith, itu semua pasti ada dan penting. Tetapi setelah itu kita juga harus tahu bahwa yang turut menentukan adalah faktor logika dan kerja keras. Dalam arti, kita berpikir di luar negeri semuanya bisa jalan kok, semua sudah mulai beralih ke energi baru dan terbarukan (EBT).
Jadi, kita sebenarnya tahu ini, Indonesia semestinya dalam waktu dekat akan beralih juga ke sana. Kenapa belum? Ya mungkinada kepentingan politik dan lain-lain. Tetapi pada akhirnya, kembali ke niat baik kami, intinya bagaimana membangun pembangkit listrik yang ramah lingkungan, harganya juga bagus buat PLN.
Jadi, win-win solution. Energinya bersih, nggak ngeluarin polusi, untuk PLN juga harganya masuk. Keyakinan saya,kalau maksudnya baik dan kita mau bekerja keras, kita akansampai gitu.
Anda sudah merasa sukses?
Belum!
Definisi sukses menurut Anda?
Menurut saya, sukses itu nggak ada hubungannya denganuang. Bagi saya, sukses itu berhubungan dengan bagaimana kita bisa ninggalin banyak manfaat bagi orang lain, bisa membangun sesuatu yang berguna bagi masyarakat sebagai legacy.
Bukankah Arkora Hydro terus bertumbuh?
Arkora itu starting point. Arkora sudah bisa mempekerjakan lebih dari 350 orang, saya cukup bangga dengan itu. Dalam arti ada 350 keluarga yang kira-kira perutnya bisa diisi karena keberadaan Arkora sebagai perusahaan. Bagi saya, itu suatu kesuksesan on one hand.
Arkora harus tetap tumbuh. Visi-misi Arkora dari awal adalah bagaimana bisa memaksimalkan potensi hydropower di Indonesia. Potensi hydropower di Indonesia masih sangat besar.
Saya baru megang ujungnya doang. Kalau saya sudah memaksimalkan potensi hydropower Indonesia, mungkin I’ve already successful.
Tetapi not just that, sukses itu banyak dimensinya, misalnyakeluarga. Itu salah satu yang paling penting lah. Sukses keluarga itu gimana sih? Oh, anaknya dianggap sukses karena punya duit? Nggak juga. Bagi saya,anak itu bisa jadi orang bener, berguna buat orang lain, itu baru bisa dibilang sukses. Jangan cuma bikin macet doang. Harus berguna. Saya masih proses ke sana.
Jadi, apakah saya sudah sukses? Belum, masih banyak banget yang ingin saya achieve. Dimensinya juga masih banyak. Yang jelas, dari hydropower masih banyak banget yang ingin saya bangun supaya memaksimalkan potensinya.
Dari sisi keluarga, anak-anak saya juga masih kecil-kecil. Saya masih punya kewajiban untuk menjadikan mereka orang berguna dan menjadi keluarga baik, rukun, dan lain-lain. Itu semua part of the story.
Pelajaran hidup apa yang Anda dapatkan setelah sekian lama menekuni bisnis?
Pertanyaan yang cukup sulit karena saya masih belajar. Jadi,secara filosofi, saya ingin menjadi orang yang berguna. Jangan merugikan orang lain dan hanya menguntungkan satu pihak. Tentu kita nggak bisa membuat semua orang happy. Tetapi secara garis besar, saya inginmenjadi orang yang berguna, berdampak positif, mendatangkan manfaat bagi banyak orang.
Makanya saya suka banget kalau ada proyek yang bisa menyediakan lapangan pekerjakan bagi masyarakat setempat. Ekonomi mereka meningkat, desanya menjadi makmur. Kami senang bisa hire karyawan lokal sehingga mereka punya pekerjaan tetap.
Tadinya cuma berkebun doang, sekarang bisa punyakebun sambil memperoleh salary untuk mengoperasikan power plant. Itu semua merupakan aspek-aspek yang kepuasan batin yang nggak bisa diukur pakai angka, nggak masuk ke net profit, cuma intangible.
Seluruh karyawan Arkora Hydro merasakan hal yang sama?
Itu nggak cuma saya yang merasakan. Semua anggota keluarga kami di Arkora merasakan hal yang sama. Makanya kami punya turnover employee itu very small, 1%. Mereka betah. Kalau kita bicara konsep happiness itu apa sih? Uang has something to do with happiness. Tapi kan nggak semuanya tentang uang.
Orang bakal happy kalaumerasa bisa contribute, artinya bisa berguna, berperan, dan bisa punya dampak ke sesuatu yang lebih baik. Nah, saya rasa, orang-orang Arkora merasa ‘Gue ada kontribusi nih kepada pembangunan daerah sini.’ ‘Oh, proyek itu salah satunya gue yang ngebangun, gue yang desain ininya.’ ‘Gue dulu teknisi di situ’. Itu semua happen because of our team. That gives happiness and maybe itu yang membuat our people merasa happy.
Filosofi hidup Anda?
Saya percaya bahwa kerja keras dan memberikan yang terbaik adalah kunci mencapai kesuksesan. Bekerja dengan sepenuh hati. Itu berlaku untuk semua hal, termasuk hal-hal kecil, sekecil apa pun. Kalau dikasih yang kecil aja nggak bisa dikerjakan sepenuh hati, gimana mau dikasih yang besar atau yang terbesar?! Kepercayaan diawali dari yang kecil dulu.
Jadi, kalau kita mendapat kepercayaan untuk mengerjakan hal kecil, ya lakukan sebaik mungkin. Mau sekecil atau sebesar apa pun, lakukan aja dengan sepenuh hati. Kalau kita melakukan yang terbaik pada pekerjaan kecil, kita akan diberi kepercayaan untuk melaksanakan pekerjaan yang besar.
Ini sama dengan spiritual. Tuhan kasih kita kepercayaan, pegang nih talenta, leadership. Lalu kita males-malesan, di rumah ajalah, santai-santai. Gimana Tuhan mau kasih kepercayaan yang lebih besar?
Jadi, apa pun tugas atau tanggung jawabnya, sekecil apa pun, lakukan yang terbaik. Itu berlaku di corporate world, level apa pun kita.
Meski cuma dikasih tugas data entry, ya lakukan yang terbaik. Nanti atasannya akan lihat, nih orang punya tanggung jawab. Boleh juga nih orang. Kemudian dikasih tugas yang lebih besar, naik pangkat. Begitu seterusnya.
Gaya kepemimpinan Anda?
Menurut saya, salah satu yang paling penting untuk menjadi entrepreneur adalah communication skill. Itu mutlak. Contohnya waktu saya kesulitan mencari pendanaan, cari bank. Kalau communication skill saya nggak bagus, lebih susah lagi kayaknya mendapatkan pendanaan. Begitu pula saat pembebasan lahan, melakukan pendekatan sosial ke masyarakat.
Cara Anda memilih karyawan?
Tricky sih, tricky banget, dalam arti perusahaan bagus bisa jadi rusak karena orang-orangnya nggak bener. Perusahaan jelek bisa jadi bagus kalau orang-orangnya bener. Jadi, kami mencari orang yangbisa bekerja sepenuh hati. Dikasih kepercayaan kecil, dikerjakan sepenuh hati, itu sulit banget.
Banyak sih SDM, cuma yang actually punya hati, bisa bekerja pakai hati, itu yang sedikit. And you can't see that on CV (curriculum vitae). CV-nya semua tertulis bagus, tetapi you have to trial and error kadang-kadang.
Mimpi Anda yang belum tercapai?
Ada sih, cuma it's in the head, nggak semua bisa disebutkan. ***
Biodata
Nama lengkap : Aldo Henry Artoko.
Usia : 40 tahun.
Pendidikan:
- SMA Kolose Kanisius Jakarta (angkatan 2003).
- Bachelor Degree of Engineering - University of New South Wales School of Mechanical and Manufacturing Engineering (2003-2007).
Karier:
- Direktur Utama PT Arkora Hydro Tbk (2010 - sekarang).
- Direktur Utama PT Arkora Indonesia (2009 - sekarang).
- Komisaris PT Verdanco Engineering (2009 - sekarang).
- Project Engineer Parsons Brinckerhoff (2007 - 2008).
- Intern Engineer PT Komatsu Indonesia (2005 - 2006).

