Fundamental Emiten Kuat, Pelaku Yakin, Kini 'Time to Buy'
JAKARTA, Investortrust.id— Merespons kejatuhan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dua bulan terakhir, para pemangku kepentingan di pasar modal sepakat, saat ini adalah “time to buy”. Karena harga sebagian besar saham sudah jatuh sangat dalam. Banyak saham berkinerja bagus dan berprospek cerah sudah undervalued. Kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) selama ini lebih disebabkan oleh faktor global.
Kejatuhan IHSG di BEI bisa, kata Direktur Utama PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Garibaldi (Boy) Thohir, dilihat dari dua aspek, yakni di luar kontrol dan yang dalam kontrol kita. Faktor global dan peran investor asing adalah sesuatu yang di luar kontrol kita. Namun, ada aspek yang ada dalam kontrol kita, yakni sikap kita sebagai orang Indonesia sebagai pemilik bursa. Kondisi fundamental ekonomi Indonesia cukup bagus, demikian pula kondisi fundamental perusahaan kita.
“Saya mengimbau agar kita memiliki confidence terhadap fundamental ekonomi dan perusahaan kita. Kalau bukan kita yang percaya terhadap fundamental ekonomi kita, siapa lagi? Kondisi fundamental emiten kita bagus. Saat ini adalah time to buy,” kata Boy Thohir dalam acara dialog bertopik “Soliditas dan Sinergi Pemangku Kepentingan Pasar Modal” di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (03/03/2025). Boy juga menyatakan, jika ada kemudahan bagi emiten untuk buy back saham, pihaknya siap.
Hadir pada acara yang dibuka Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif danBursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Inarno Jayadi para manajer investasi, analis, pemimpin perusahaan sekuritas, dan sejumlah pemegang saham utama dan pemimpin perusahaan publik, yakni Preskom PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk Franky Oesman Widjaja, Direktur Utama PT Barito Pacific Tbk Agus Salim Prajogo, Presdir PT Bakrie Brothers Tbk yang juga Ketua Umum Kadin Anindya Novyan Bakrie, dan Presdir PT Indika Energy Tbk Arsjad Rasjid, dan Presdir PT BCA Tbk Jahja Setiaatmadja.
Para pembicara menyatukan tangan usai sesi talkshow pada acara Dialog Bersama Pelaku Pasar Modal dengan tema "Soliditas dan Sinergi Pemangku Kepentingan Pasar Modal" yang dihadiri Direksi BEI dan sejumlah pelaku pasar modal di gedung Bursa Efek Jakarta, Senin, (3/3/2025). Dari kiri ke kanan, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik, CEO Barito Pasific Agus Salim Pangestu, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie, Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan I. B. Aditya Jayaantara, dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Chairman & CEO Sinarmas Telecommunications and Technology Franky Oesman Widjaja, Presiden Direktur PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Garibaldi Thohir, dan Direktur Utama PT Indika Energy Tbk. (INDY) Arsjad Rasjid. Foto: Investortrust/Primus Dorimulu
Baca Juga
IHSG Tertekan, Bos Sinar Mas : "It's Time to Buy Saham, Fundamental is Good"
Dalam pemaparan tentang kondisi pasar modal, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Iman Rachman menjelaskan, kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) disebabkan oleh faktor global. Tingginya suku bunga acuan Bank Central AS (fed fund rate —FFR), kebijakan Presiden Donald Trump, dan penurunan rating saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyebabkan asing net sell.
Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan Aditya Jayaantara menjelaskan, penerapan mekanisme short selling akan ditunda hingga pasar membaik. Sedangkan mekanisme buy back saham oleh emiten tanpa melalui RUPS akan dikaji lebih dalam agar kebijakan yang diambil menguntungkan semua pihak.
Time to Buy
Saatnya langkah para pemodal lokal membeli saham yang dilepas asing didukung oleh semua pemangku kepentingan. Ketua Umum Kadin Anindya Novyan Bakrie menjelaskan, banyak saham berkinerja bagus di BEI yang sudah undervalued. Penurunan harga saham sudah terlalu dalam.
Anin mengimbau semua pihak untuk optimistis menghadapi masa depan. Jika pemerintah dan para pelaku usaha bersatu, bekerjasama, dan bersinergi dengan pemerintah, ekonomi akan bertumbuh hingga 8%. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, kinerja emiten juga membaik. Harga saham akan mengikuti. Saat ini, ketika harga saham jatuh cukup dalam, adalah saat yang tepat untuk “buy”.
Senada dengan Anin, Bos Sinarmas Group Franky Oesman Widjaja mengimbau investor institusi untuk kembali masuk pasar modal. Pada masa lalu, ada PT Jamsostek (kini berubah nama menjadi BPJS Ketenagakerjaan) yang ikut menggerakkan pasar. Saat ini, partisipasi investor institusi di pasar saham sangat minim.
Potensi pasar modal Indonesia, kita Franky, besar sekali. Perlu ada literasi bagi investor untuk bisa memahami dengan lebih baik investasi di saham. Tidak semua saham yang tercatat di BEI layak dikoleksi. Tapi, ada banyak saham yang bagus. “Saya setuju dengan Pak Boy bahwa saat ini time to buy bagi saham berkinerja bagus yang harganya sudah jatuh cukup dalam,” jelas Franky.
Baca Juga
Ketum Kadin Sambut Positif Wacana 'Buyback' Saham Tanpa Menunggu RUPS
Para pemimpin perusahaan publik setuju buy back saham yang diwacanakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI. “Saya kira tidak perlu dikaji lagi, melainkan langsung diputuskan saja bahwa buy back saham oleh emiten tanpa lewat RUPS itu perlu,” kata Presiden Komisaris PT Amman Mineral Internasional Tbk Agoes Prodjosasmito yang juga Wakil Presiden Direktur PT Bumi Resources Tbk dan Presiden Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk.
Meski mendukung buy back saham oleh emiten tanpa melalui RUPS, Jahja Setiaatmadja mengimbau OJK agar mempersiapkan regulasi lebih detail. Karena bisa jadi, mekanisme buy back dimanfaatkan oleh emiten nakal yang menjual saham pada harga tinggi di pasar perdana mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan sahamnya pada saat harga murah. Jika praktik ini terjadi, tata kelola pasar modal nasional akan mendapat citra buruk dan kepercayaan pasar akan memudar.
Mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Agus Salim Pangestu, yakin pertumbuhan ekonomi 8% bisa tercapai. Selama beberapa tahun terakhir, laba perusahaan Grup Barito tumbuh di atas 10%. Dia yakin, badai yang dalam dua bulan terakhir menghempaskan harga saham akan berlalu. “Ini bukan pengalaman pertama. Kita sudah pernah melewati beberapa badai seperti ini,” ungkap putra taipan Prajogo Pangestu ini.
Soliditas pemangku kepentingan
Dalam menghadapi tekanan global, para pemangku kepentingan di pasar modal Indonesia harus lebih solid dan bersinergi. Franky Widjaja menyarankan agar pertemuan para pemangku kepentingan lebih sering diadakan.
Di luar tekanan global, demikian Iman Rachman, persepsi para manajer investasi dan investor dalam negeri terhadap pasar modal sangat menentukan. Kejatuhan IHSG tidak lepas dari penilaian para manajer investasi. Meski emiten mencetak laba, para manajer investasi menyatakan, laba yang diraih di bawah ekspektasi mereka.
“Penilaian seperti ini membentuk persepsi para investor. Ketika asing jual, pemodal lokal terkena panic selling,” kata Iman. Persepsi yang memicu panic selling itulah yang paling ditakuti. Kondisi pasar akan bertambah buruk jika mekanisme short selling dilegalkan.
Dengan mekanisme short selling, pemodal bisa menjual saham yang tidak dimiliki dengan harapan untuk bisa membeli kembali pada harga lebih rendah. Namun, ketika saham yang dijual tidak turun, pemodal panik karena didera kerugian. Mereka harus membeli saham pada harga lebih tinggi. Pada pasar yang sedang bergejolak, short selling lebih banyak merugikan pemodal.
Pelaksanaan short selling, kata Inarno Jayadi, sudah pasti ditunda hingga pasar tidak lagi bergejolak dan regulasi sudah benar-benar siap. Di sejumlah bursa dunia, short selling dilakukan dengan regulasi yang sangat ketat. Di saat pasar bullish, short selling membantu meningkatkan transaksi saham. Tapi, pada saat pasar bearish, short selling justru membuat harga saham semakin tergulung.
Ketika diskusi sedang berlangsung, perdagangan saham di BEI ditutup pada level 6.519,66, naik 3,97%. Para pemangku kepentingan berharap, IHSG akan terus naik. “Mudah-mudahan, dengan soliditas dan sinergi antarpemangku kepentingan, harga saham kembali berjalan normal. Harga saham mencerminkan kondisi fundamentalnya,” tambah Boy.
Kontribusi besar
Selama periode 2013 hingga 2024, total dana masyarakat yang dihimpun melalui pasar modal Indonesia mencapai Rp 2.426,39 triliun. Dana ini berasal dari tiga instrumen utama, yakni initial public offering (IPO) Rp 259,22 triliun, right issue Rp 798,4 triliun, dan emisi obligasi: Rp 1.368,77 triliun.
Pada tahun 2024, total dana yang dihimpun dari pasar modal mencapai Rp 259, 25 triliun, terdiri atas IPO Rp 14,35 triliun, right issue Rp 34,4 triliun, dan emisi obligasi Rp 210,5 triliun. Pada tahun 2023, total dana masyarakat yang dari pasar modal mencapai Rp 305,71 triliun.
“Kontribusi pasar modal terhadap perekonomian sangat besar. Oleh karena itu, berbagai kebijakan yang mampu menopang kemajuan pasar modal akan didukung penuh,” kata Inarno.

