Bagikan

Hidup Itu Harus "Happy"!

JAKARTA, investortrust.id - Hidup itu harus happy (bahagia), di mana pun, kapan pun, dalam kondisi apa pun, baik dalam pekerjaan, kehidupan sosial, maupun dalam kehidupan pribadi. 

Filosofi yang diterapkan Direktur Utama PT Bank Mega Syariah, Yuwono Waluyo ini mungkin terdengar dangkal dan simpel. Tapi jika digali lebih jauh, ‘hidup harus happy’ memiliki makna yang sangat dalam.

Bagi pria kelahiran Kudus, 12 Mei 1966 ini, hidup harus happy adalah perwujudan konsekuensi dan rasa syukur. Untuk mendapatkan konsekuensi itu, seseorang harus menjalani prosesnya. Agar sukses, seseorang harus bekerja keras. Agar sehat, ia harus rajin berolahraga. Agar pandai, ia harus belajar. 


“Bahkan proses menuju happy itu pun harus dilakukan dengan bahagia. Untuk menjaga kesehatan, kita harus olahraga.  Olahraganya harus menyenangkan,” ujar Yuwono Waluyo.

Di sisi lain, Yuwono percaya bahwa seseorang juga harus senantiasa mensyukuri setiap pencapaiannya sekecil apa pun. Sebab dengan rasa syukur itu, ia tidak akan ngoyo untuk mengejar sesuatu yang di luar jangkauannya. 

Filosofi hidup harus happy diterapkan Yuwono di mana pun, baik dalam pekerjaan, kehidupan sosial, maupun di rumah.  Filosofi ini terbukti ampuh menjauhkannya dari masalah dan menjadi solusi bagi berbagai persoalan yang dihadapinya.

Karena tetap happy, Yuwono menghadapi setiap persoalan  dengan kepala dingin, hati jernih, dan penuh optimisme. Ia tetap tenang dan tidak stres, yang justru akan merugikan dirinya dan orang-orang di sekelilingnya. Alhasil, Yuwono dapat mengurai dan menangani masalah secara efektif.

Baca Juga

Pembiayaan Bank Mega Syariah Tumbuh 10% Jadi Rp 7,7 Triliun di 2024

Dengan mensyukuri setiap pencapaian, Yowono juga merasa hidupnya lebih enteng. Ia tak merasa terbebani oleh pekerjaan atau masalah yang muncul kapan saja, termasuk yang berkaitan dengan materi.

Nikmatin aja. Saat punya gaji Rp 3 juta di awal bekerja dulu, gaji segitu waktu itu pas-pasan. Tapi saya bisa bahagia, kok. Jadi, bahagia itu ukurannya bukan hanya materi. Harus ada rasa syukur pastinya. Kalau nggak ada rasa syukur, ya nggak bahagia terus,” tegas dia.

Berikut wawancara lengkap wartawan investortrust.id, Bagus Kasanjanu dan Abdul Aziz dengan Yuwono Waluyo di kantor Bank Mega Syariah, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, baru-baru ini:

Direktur Utama PT Bank Mega Syariah, Yuwono Waluyo. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal  
 

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga memimpin Bank Mega Syariah? 

Sejak lulus kuliah, saya langsung meniti karier di bank. Pernah sih bekerja di perusahaan-perusahaan kecil, tapi sebentar, cuma 1-2 bulan saja. 

Saat saya lulus kuliah itu kan eranya Pakto 88 (Paket Kebijaksanaan Oktober 1988 -- paket deregulasi perbankan  era Orde Baru).

Saya masuk kuliah tahun 1984, lulus tahun 1988. Itu eranya Pakto 88. Jadi, banyak sekali lowongan di bank. Perbankan kita sedang  “lucu-lucu”-nya. Banyak yang buka officer development program (ODP).

Saya ikut itu sih. Saya ikut tes  di beberapa bank, lulus. Tapi akhirnya  saya pilih Bank Summa karena bank ini yang lebih dulu  offering, uang sakunya juga paling lumayan.

Di Bank Suma, saya ikut pendidikan, kemudian ditempatkan di cabang, beberapa kali, sebagai kepala marketing.

Saat Bank Summa dilikuidasi, saya masuk Bank Universal sebagai  auditor,  terakhir saya  di operation. Selanjutnya saya pindah ke department head, lalu  naik menjadi division head.

Setelah itu saya ke Bank Permata sebentar, karena merger juga. Karena merger Bank Universal, Bank Bali, dan tiga bank lainnya,  akhirnya saya kepilih untuk stay di Bank Permata.

Jadi, kalau di bank, saya sudah mengalami semua. Di Bank Mega, saya di operation, dari mulai Kepala Divisi sampai Kepala Wilayah, pindah ke bisnis lagi, baru kemudian ditugaskan di Bank Mega Syariah, sesama grup CT Corp.

Direktur Utama PT Bank Mega Syariah, Yuwono Waluyo. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal 

Apa yang Anda alami saat terjadi krisis moneter 1998?

Saya waktu itu di Bank Universal. Saat terjadi krisis moneter, situasinya sangat berat.  Inflasi melonjak 77,63%, pertumbuhan ekonomi minus 13,16%, suku bunga acuan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) mencapai 70,2%, dan nilai tukar rupiah anjlok  dari Rp 2.500 menjadi Rp 16.800 per dolar AS saat itu. Bunga kredit perbankan sangat tinggi, rata-rata mencapai 60%.

Tapi ada pelajaran yang sangat penting bahwa krisis juga mendatangkan  opportunity. Dolar kan naik sampai  Rp 16.800. Kemudian  bunga deposito sampai 65%. Naruh uang di deposito tinggal tidur aja, dapat bunga 65%. Produk ekspor kita juga jadi lebih kompetitif dan lebih menguntungkan akibat selisih kurs. 

Baca Juga

Bank Mega Syariah Perkuat Efisiensi Operasional hingga Inovasi Produk dan Layanan

Jadi, apa yang mendorong Anda bergabung dengan Bank Mega saat itu? 

Nah, mungkin ini jodoh saya juga waktu di Bank Universal. Saya waktu itu di bagian treasury. Saat itu Bank Universal dalam tanda kutip sedang sedikit bermasalah, banyak pinjem. Minjem-nya paling banyak dari Bank Mega (PT Bank Mega Tbk).

Waktu itu saya nggak kenal Bank Mega. Bank apaan tuh?  Setelah itu saya masuk Bank Mega. Ternyata saat krisis, walau nggak dikenal luas, Bank Mega sangat survive  karena dia ambil posisi bagus, dia perkuat likuiditasnya, sehingga bisa mengambil profit cukup banyak dari interbank yang rate-nya tinggi.

Jadi, Bank Mega kasih pinjaman ke bank-bank bermasalah. Bahkan Bank Mega saat itu sempat bantuin BCA. Intinya sih buat di tengah situasi krisis apa pun selalu ada peluang kalau kita jeli. 

Dari bank konvensional ke syariah, ada adaptasi?

Secara ilmu perbankan at the end  sama-sama bisnis juga kan? Penyesuaiannya tentang ilmu-ilmu syariahnya karena   tetap aja ada perbedaan, ada yang beda bagaimana men-treat bank konvensional  dan men-treat bank syariah. Apalagi di bank syariah kami ketemu nasabah-nasabah dengan ikatan emosional yang sangat kuat, sehingga kami harus siap harus berdiskusi. Pasti ada lah penyesuaian di situ.

Tapi secara general banking-nya  normal aja sih. Sama aja. Untuk normal banking-nya tentu kami harus perbaiki prosesnya. Business process-nya masih dilihat lagi, misalnya bagaimana  marketing-nya. Cuma untuk syariahnya aja kami mesti adaptasi, mesti belajar lagi, misalnya akad-akad, sertifikasi, dan lain-lain.

Direktur Utama Bank Mega Syariah, Yuwono Waluyo. Foto: ist 

Nggak, saya kan nggak hijrah. Menurut saya agamanya sama. Apalagi dulu juga tidak pernah terpikir pindah ke syariah. Sebelum ke sini (Bank Mega Syariah), saya juga banyak berdiskusi dengan  Pak CT (pemilik, pendiri, dan chairman CT Corps, Chairul Tanjung). Saya sih melihatnya something new saja.

Pandangan Anda tentang Bank Mega Syariah saat itu?

Saya mendapat informasi banyak tentang bank syariah saat itu, salah satunya bahwa bank-bank syariah itu, termasuk Bank Mega Syariah, adalah "bank bank kecil". Terus, orang-orangnya juga kebanyakan KW2 (kualitas dua) saat itu.

Itu room for improvement-nya cukup tinggi. Itu juga yang menarik sih dibanding Bank Mega yang jauh lebih besar. Masuk ke syariah itu  value-nya sudah pasti jauh lebih banyak  kalau kita bisa ngembangin.

Urusan individu juga pasti ada behavior yang berubah. Pasti harus sering baca Alquran, harus mempertahankan syariahnya, salatnya jadi tepat waktu. Paling tidak, lengkap salatnya.

Kondisi Bank Mega Syariah saat ini dibanding dulu?

Saat saya masuk Bank Mega Syariah, karyawan nggak pernah naik gaji, nggak pernah dapet bonus, sehingga semua dianggap sebagai hal yang biasa aja. Kalau ditanya, kok tahun ini nggak naik gaji? Jawabnya, memang biasanya nggak naik gaji.

Dulu, persepsi orang-orang dalam memandang bank syariah dibanding bank konvensional tuh berbeda dengan sekarang. Bahkan karyawan bank syariah dianggap KW2. Pasti orang-orang lemparan semua. Tadinya saya nggak percaya itu.

Begitu saya masuk, ternyata itu memang benar. Orang-orangnya KW2 semua. Nah, karena saya ingin kehadiran saya di sini mendatangkan manfaat bagi orang-orang, saya ingin membuat perubahan bahwa orang-orang bank syariah itu punya kualitas.

Direktur Utama PT Bank Mega Syariah, Yuwono Waluyo. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal  

Upaya Anda membuahkan hasil?

Alhamdulillah sekarang berubah. Memang belum 100%, tapi sudah ada perubahan yang signifikan. Salah satunya, Bank Mega Syariah merupakan salah satu bank yang punya produk cukup lengkap.

Compare to kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) 3 dan BUKU 4 (pengelompokan bank sekarang disebut KBMI atau kelompok bank berdasarkan modal inti), kami bisa bersaing. Kami antara lain sudah punya syariah card, kartu kredit gitu lho. Punya mobile banking yang sedemikian rupa sekarang, punya produk priority banking, produk wealth. Saya sering bilang, Bank Mega Syariah tuh masuk BUKU 2 memang, tapi rasa BUKU 4.

Kami harus punya produk-produk baru dalam rangka meningkatkan jumlah customer base. Base-nya kan  customer. Customer base-nya makin naik harusnya agility kami juga makin bagus, fleksibilitas pun akan makin tinggi.  

Kinerja bisnis dan keuangan?

Waktu saya masuk ke Bank Mega Syariah, posisi saya sebagai  Direktur Operasi, Direktur IT, merangkap Direktur Bisnis. Ketika saya masuk tahun 2005, banknya masih rugi. Pada 2019 (saat Yuwono Waluyo diangkat menjadi Direktur Utama, red) masih rugi Rp 25 miliar. Setahun kemudian laba langsung positif, tapi masih kecil.  

Jadi, tahun pertama sudah positif. Tahun berikutnya mulai ada kenaikan gaji. Pada 2015 itu belum naik gaji karena saya baru masuk Juni. Terus positif di tahun 2016, itu udah ada kenaikan gaji, tapi belum ada bonus. Tahun 2020 naik gaji dan dapet bonus. Mulai agak rutin dapatnya, alhamdulillah. Naik gajinya rutin.

Dalam pikiran saya dulu, kalau kerja ya kudu meningkat. Masa  nggak naik gaji kok seneng. Dulu orang-orang sini menganggapnya biasa. Nggak naik gaji biasa aja gitu, mungkin itu rezeki dari Allah, memang rezekinya cuma segitu. Ada yang menyerah tuh.

Apa yang Anda lakukan saat itu?

Sebelum saya masuk, Bank Mega Syariah dulu mainnya di mikro. Profitability-nya dari mikro. Waktu saya masuk, bisnis mikro-nya distop. Karena banyak faktor dan lain-lain, sama OJK (Otoritas Jasa Keuangan)  juga diminta distop. Bayangkan, nggak punya bisnis kan? Padahal duit-nya dari situ.

Ada 400 cabang kira-kira saat itu. Kami berpikir keras kan? Distop, padahal kami nggak pernah punya experience untuk main di bisnis konsumer, di bisnis komersial. Di gadai pun bermasalah semua.

Baca Juga

Begini Strategi Bank Mega Syariah Optimalkan Pertumbuhan Bisnis di 2025

Akhirnya mikro-nya saya beresin, tutup cabang jadi 65 dari sebelumnya 400 cabang. Asetnya saya jualin, kredit-kreditnya saya recover. Kerja saya saat itu mirip collection saat itu. Sampai malam itu collection, cari duit, collection recovery. Barangnya masih banyak, portofolionya masih sekitar Rp 2,5 triliun, saya ganti dengan bisnis yang lain.

Value yang Anda tanamkan kepada para karyawan?

Simpel aja. Saya bilang  kepada para karyawan,  kalau udah kerja bertahun-tahun lo nggak ada kemajuan, berada di tempat yang sama, ngerjain itu-itu aja, kemudian gaji lo nggak naik, lo ke laut aja deh. Ya ngapain?  Nggak ada value yang nambah, materi juga nggak bertambah, terus mau apa?!

Hubungan Anda dengan para karyawan?

Saya nggak ada jarak sih dengan karyawan, biasa aja.

Direktur Utama PT Bank Mega Syariah, Yuwono Waluyo. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal  
 

Prospek perbankan syariah ke depan?

Dibilang berat ya pasti berat. Apalagi kondisi eksternal juga challenging banget. Tapi potensi perbankan syariah di Indonesia sangat besar. Perbankan syariah butuh  supporting, baik dari regulator maupun dari komunitas. Malaysia bisa maju karena itu. Proses literasinya juga.

Malaysia itu proyek-proyek APBD-nya ada yang sudah  appointed ke bank-bank syariah. Kalau di kita kan ke bank konvensional dulu, syukur-syukur bank syariah dapat bagian. Challenge-nya banyak. Makanya perbankan syariah itu kan hanya tumbuh if ada bank yang konversi.

Populasi muslim kita jauh lebih banyak dari Malaysia. Faktanya kan tetap aja orang yang rasional jauh lebih banyak dibanding orang-orang dengan ikatan emosional. Nasabah Bank Mega Syariah banyak yang nonmuslim, nggak bicara emosional dong, tapi bicara rasional.

Bagaimana Anda menyeimbangkan hidup?

Dulu rajin touring. Sekarang saya lebih sering padel (jenis olahraga baru, perpaduan antara tenis, squash, bulu tangkis, dan pimpong). Saya main padel  dengan para karyawan. Padel itu yang mainnya nggak ada orang tua, saya doang ternyata, he, he, he...

Siapa tokoh idola Anda?

Saya belajar banyak dari Pak Chairul Tanjung. Beliau sangat detail. Ilmunya banyak, komplit.

Terus, orang yang memotivasi saya, nyemangatin saya, itu Pak Nuh (mantan Menteri Pendidikan, Mohammad Nuh yang sekarang menjabat sebagai Komisaris Utama Bank Mega Syariah).

Pak Nuh setiap pagi menelepon saya. Beliau tanya, “Bapak sehat? Semangat terus ya?” Itu doang, tapi buat saya meaning-nya luar biasa.

Anda pernah jatuh sampai titik nadir?

Saya rasa sih enggak ya kalau sampai titik terendah. Poin saya kan hidup itu kudu bahagia.

Definisi Anda tentang kebahagiaan?

Penerjemahannya banyak. Misalnya kalau ingin bahagia harus sehat. Kalau ingin sehat harus berolahraga. Olahraga juga harus menyenangkan supaya bahagia. Kalau saat berolahraga kita tertekan atau terpaksa, gimana bisa bahagia?

Dalam perjalanan hidup, merasa “lelah”, kecewa, terpuruk,  itu pasti ada, itu manusiawi.  Yang penting bagaimana respons kita aja. Kalau kita kecewa, terpuruk, terus mau ngapain? Mau kecewa terus, mau “lelah” dan terpuruk terus? Buat apa?

Makanya kalau saya sih nikmatin aja. Saya bikin simple aja, hidup tuh harus bahagia, bahagia itu harus bener-bener bisa menikmati yang pengen saya jalanin. Yang nggak saya jalanin, ya udah, lepas aja, menyesuaikan aja semuanya. Itu semua bermuara di rasa syukur. Syukurin aja.

Direktur Utama PT Bank Mega Syariah Yuwono Waluyo. Foto: Dok pribadi. 

Contoh kebahagiaan menurut versi Anda?

Bahagia menurut saya ya bisa berkumpul guyub dengan para karyawan. Kebetulan karyawan sering main ke rumah, saya juga rutin berolahraga dengan mereka. Itu membuat saya bahagia.

Faktor materi bagaimana?

Kalau urusan punya duit, kita alhamdulillahin aja. Ada masa-masa seseorang sulit mengatur keuangan. Ada masa-masa itu. Ya kembali lagi, dinikmatin aja, dinikmatin. Bersyukur.

Kalau urusan duit, alhamdulillah saya sekarang punya duit karena posisi dan lain-lain. Istri saya juga cukup menunjang, bahkan mungkin lebih kaya dia dibanding saya, ha, ha, ha….

Tapi kan ini berproses semuanya. Nikmatin aja. Saat punya gaji Rp 3 juta di awal bekerja dulu, gaji segitu waktu itu pas-pasan. Tapi saya bisa bahagia, kok. Jadi, bahagia itu ukurannya bukan hanya materi. Harus ada rasa syukur pastinya. Kalau nggak ada rasa syukur, ya nggak bahagia terus, nggak akan ada habis-habisnya.

Intinya bagaimana mengelola keinginan, emosi, dan rasa syukur?

Kita harus berusaha serileks mungkin. Kalau situasi dan kondisi mengharuskan kita marah, ya silakan marah. Tapi hanya pada saat-saat tertentu aja, bukan tiap saat marah-marah terus.

Baca Juga

Dorong SDM Unggul dan Berdaya Saing, Bank Mega Syariah Umumkan 100 Penerima Beasiswa Generasi Berkah

Cara Anda merespons masalah?

Tergantung masalahnya. Biasanya kalau ada case baru, saya harus tahu dulu semuanya, sampai sedetail-detailnya supaya keputusannya nggak salah.

Misalanya yang berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM). Ada yang tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya.  Kalau pun saya marah, saya beri punishment, tetap harus ada unsur memotivasinya. Salah satu kebahagiaan juga untuk memotivasi orang.

Direktur Utama Bank Mega Syariah, Yuwono Waluyo. Foto: ist 

Anda sudah merasa sukses?

Dari sisi karier belum lah. Harusnya masih pengen ngapain-ngapain lagi, makanya saya mainnya sama anak-anak muda supaya awet muda, he, he, he.. Tapi kalau sukses itu diukur dari kebahagiaan, saya sih udah cukup bahagia.  

Definisi sukses menurut Anda?

Sukses itu ketika keluarga membutuhkan kita, ketika banyak orang membutuhkan kita, ketika kita memberikan manfaat kepada orang lain.  

Juga ketika value kita bertambah. Makanya kita harus terus menambah value.  Jangan sampai merasa udah jadi CEO (chief executive officer), oh gue yang paling hebat nih, sehingga  nggak ada yang gue cari lagi.

Setiap orang punya value, sekecil apa pun. Jangan salah, office boy (OB) itu value-nya besar. Kesannya cuma bersihin ruangan, padahal  impact-nya bagi  bisnis sangat besar. Contoh, gimana kalau cabangnya kotor, nggak dibersihin?  Para karyawan pasti nggak merasa nyaman saat bekerja. Motivasinya turun, produktivitas turun, hasil kerjanya tidak berkualitas. Nasabah juga males datang ke kantor. Itu impact-nya.

Apa kesimpulan dari seluruh perjalanan hidup Anda sejauh ini?

Hidup itu ya harus dinikmatin. Hidup kan berjalan terus. Nggak mungkin kan kita menghindari hidup? Hidup harus terus berjalan, toh masalah tetap harus dihadapi. Maka kita harus struggle dalam segala kondisi. Carilah sesuatu yang memang bisa bermanfaat bagi orang lain dan bagi kita sendiri. ***

Biodata

Nama lengkap: Yuwono Waluyo.

Tempat/tanggal lahir: Kudus, Jawa Tengah, 12 Mei 1966.

Pendidikan:

* S1 - Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana, Jakarta.

* Diploma - Fakultas Sastra Inggris, Universitas Indonesia (UI), Jakarta.

* Master in Business Administration (MBA)  - Asian Institute of Management, Manila, Filipina (2009).

Karier:

* 1990-1993: PT Bank Summa International.

* 1993-2002: PT Bank Universal Tbk - jabatan terakhir Treasury and Trade Finance Operation Division Head.

* 2002-2003: PT Bank Permata Tbk - jabatan terakhir Trade Finance Operation Development Head. 

* 2003-2015: PT Bank Mega Tbk - Kepala Divisi Operasi, jabatan terakhir Regional Manager wilayah Jawa Barat. 

* 2015-2019: PT Bank Mega Syariah - Direktur Operasional dan Teknologi Informasi. 

* 2019 – sekarang: Direktur Utama PT Bank Mega Syariah.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024