Menjaga Nyawa Wayang Potehi di Tengah Gempuran Teknologi
JAKARTA, investortrust.id - Seorang lelaki maju ke depan tempat pementasan. Tangannya menyalakan korek. Api menyala. Membakar tiga dupa yang diapit dua lilin berwarna merah. Usai dupa terbakar, lilin dia nyalakan.
Dia berjalan ke belakang ruang pementasan. Di dadanya terpasang penyangga mikrofon. Tangannya beralih ke boneka kayu. Di sampingnya, seorang perempuan turut membantu. Sementara, tiga orang lainnya memainkan alat musik, ada drum bernama dongko, siauw bak, pai ban, dan simbal.
Lelaki itu seorang dalang. Dia memainkan empat sosok dewa yang turun dari gunung. Dewa kesuburan menjadi yang pertama tampil. Setelah itu berurutan, Dewa Kekayaan, Dewa Kebahagiaan, dan Dewa Kesehatan. Mereka membagikan petuah dan harapan di tahun baru China, Imlek 2576 Kongzili.
"Kami turun dari gunung. Bunga nan segar bermekaran di Bumi. Memberikan berkah keberuntungan dan umur panjang. Para dewa datang dan duduk di situ."
Itulah adegan pembuka pagelaran Wayang Potehi yang digelar di Pos Bloc, Jakarta Pusat, Rabu (29/1/2025). Pagelaran itu berjudul "Imlek yang Terlupakan."
Pertunjukan yang dimainkan Rumah Cinta Wayang (Cinwa) Depok, Jawa Barat tersebut menceritakan kisah Mikael yang tak ingin pulang ke kampung halamannya saat Imlek tiba. Tapi, sosok Mikael tak ingin mendengar celoteh yang muncul dari kakak perempuannya bernama Mila.
Saat tidur malamnya, Mikael dihantui mimpi buruk. Mikael didatangi sesosok jelmaan berkepala ular. Sosok itu memintanya untuk pulang. Untuk mengingat leluhurnya.
Dengan berbagai pertimbangan, Mikael akhirnya pulang ke kampung halaman. Meski awalnya ada rasa amarah, namun akhirnya dia menyesal. Keluarga menerimanya kembali. Memberinya kebahagiaan yang tak di dapat saat bekerja di kota.
Baca Juga
Imlek 2025: Warga Keturunan Tionghoa Puji Tingginya Toleransi Umat Beragama di Indonesia
"Imlek mengajarkan kita mengenal keluarga dan persatuan," kata sang Bapak.
Manager Tim Rumah Cinwa Depok Mila Aprilia mengatakan pertunjukan yang ditampilkan dalam durasi 20 menit tersebut memang tak menggunakan pakem Wayang Potehi yang sesungguhnya. Salah satu yang terlihat yaitu tak digunakannya bahasa Mandarin secara utuh.
Mila mengatakan kelompoknya memang kerap memainkan lakon dengan bahasa yang lebih umum. Misalnya, saat diundang sekolah internasional, mereka akan memainkan lakon dengan bahasa Inggris.
"Biasanya mereka meminta bahasa Inggris dengan campur bahasa Mandarin. Jadi kita lebih menyesuaikan (penonton)," ujar Mila saat ditemui investortrust.id.
Selain bahasa, pementasan yang digelar untuk publik terbuka itu juga tak memakai suluk. Dalam tradisi pewayangan Jawa, Suluk adalah nyanyian khas dalang yang digunakan untuk membuka adegan, menghubungkan satu adegan ke adegan lain, atau menciptakan suasana tertentu dalam pertunjukan wayang.
Sementara pada Wayang Potehi, suluk lebih berupa narasi atau nyanyian khas yang dibawakan oleh dalang sebagai bagian dari penceritaan seperti menghidupkan suasana dan memperkuat ekspresi emosi tokoh, dan kadang berisi doa atau harapan dalam cerita.
Suluk Wayang Potehi salah satunya berisi kalimat berbahasa mandarin Hokkian untuk mengenalkan karakter yang ditampilkan atau istilahnya sun lan pek. Kalimat ini memang diselipkan saat pementasan, namun sebagian besar diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Kalimat sun lan pek untuk pendekar yang pernah dicatat oleh maestro Wayang Potehi, almarhum Sehu Sesomo antara lain,
1. Ngo sie ing hong hu hau atau aku seorang pendekar.
2. Ui cing ta bwa put peng atau aku pembela kebenaran.
3. Ngo haw sun hu buo atau kuhormati kedua orang tuaku.
4. Tie sia ui cing atau senang membela kaum lemah.
Dwi Woro Retno Mastuti dalam buku Potehi Gudo menjelaskan beberapa kalimat pembuka di antaranya, perkenalan untuk tokoh Kang Sin, Gadis Miskin, Dewa, Murid Dewa, Menteri Masuk Istana, Raja, Liong Ong, dan Ing Hiong.
Mila mengatakan pakem Wayang Potehi merujuk ke komunitas Tionghoa di Semarang. Dari kota ini, pakem dirawat oleh komunitas Tionghoa di Surabaya.
Selain bahasa mandarin yang kental dan suluk, Wayang Potehi klasik juga menggunakan cerita-cerita yang berasal dari dataran China. Misalnya, cerita pada tokoh yang paling terkenal dalam kisah klasik tersebut yaitu Sie Jin Kwie. Salah satu penulis cerita wayang potehi di Rumah Cinwa Depok Garuda Indonesia Susetyo atau Garin menjelaskan setidaknya terdapat dua seri cerita perjalanan Sie Jin Kwie.
“Jadi ada cerita Sie Jin Kwie Ceng Tang dan Sie Jin Kwie Ceng Sen. Ceng Tang menceritakan perjalanan Sie Jin Kwie ke Timur dan Ceng Sen menceritakan perjalanan ke barat,” kata Garin.
Baca Juga
Aliansi Tionghoa Indonesia Puji Prabowo sebagai Tokoh Pluralisme
Pada kisah Ceng Tang, Sie Jin Kwie diceritakan melamar menjadi prajurit kerajaan. Tapi, setelah tiga kali melamar dia mendapat penolakan. Dia akhirnya masuk militer dengan karir awal sebagai koki.
“Saat Dinasti Tang berperang melawan Korea, Sie Jin Kwie menjadi prajurit yang unggul dan menyelamatkan kaisar. Kemudian diangkatlah dia menjadi jenderal,” ujar dia.
Setelah menjadi jenderal, Sie Jin Kwie berperang ke Barat menyerang Kerajaan Sie Liang Kok. Selain Sie Jin Kwie, cerita lain yang bisa dimainkan dalam pementasan wayang potehi kisah yaitu Sam Kok atau Tiga Kerajaan.
Garin mengatakan cerita Wayang Potehi yang memiliki kisah laga biasanya dapat dimainkan selama durasi 45 menit hingga 1 jam. Pementasan yang hanya berlangsung 20 menit untuk menjaga pemahaman penonton.
Mila mengatakan pementasan yang baru digelar memang untuk memperkenalkan pertunjukan wayang potehi ke publik secara luas. Ini dilakukan agar keberagaman wayang yang dimiliki masyarakat Indonesia dapat terus bertahan terutama untuk teman-teman muda.
Meski demikian, Mila mengakui adanya kesulitan menjalankan kesenian tradisi ini. Sebab, mayoritas dari pelaku dan anggota yang tergabung di Rumah Cinwa Depok berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan pekerja.
“Yang sebenarnya waktunya habis untuk melakukan kesibukannya masing-masing. Selain itu, peminat (penontonnya) yang kadang kurang,” ucap dia.
Potehi, sebuah akulturasi
Dwi Woro Retno Mastuti, dalam bukunya, menggambarkan wayang potehi menjadi semacam miniatur Opera Peking. Di China, terdapat dua kelompok wayang. Pertama, boneka dua dimensi yang terbuat dari kulit. Kedua, boneka tiga dimensi yang terbuat dari kayu. Di wilayah asalnya, Wayang Potehi dimainkan di China selatan.
Merujuk asal usulnya, Wayang Potehi merujuk pada model boneka tiga dimensi yang terbuat dari kayu. Penampakan ini mirip dengan wayang golek. Dia menggambarkan Wayang Potehi lahir dari sebuah akulturasi budaya Jawa dan China.
Wayang Potehi tiba ke Nusantara ketika transaksi perdagangan dari China masuk ke pesisir utara Pulau Jawa. Pendatang asal China masuk melalui Serang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Rembang, Lasem, dan Tuban.
Baca Juga
“Lasem berkembang menjadi pusat niaga yang dikuasai orang Tionghoa. Dari Lasem, mereka menyebar ke daerah pedalaman Jawa Timur,” tulis Dwi.
Potehi, dalam pelafalan Hokkian, berasal dari kata poo yang berarti kain, tay yang berarti kantong, dan hie yang artinya wayang.
Dwi Woro menjelaskan Wayang Potehi pada mulanya hanya untuk mengisi waktu luang para tahanan yang telah divonis mati. Lakon yang dimainkan mengisahkan cerita kepahlawan, sejarah, kerajaan, dan kehidupan para dewa.
“Dalam perjalanan waktu, fungsi hiburan tersebut berkembang menjadi fungsi ritual,” tulis Dwi.
Tak heran jika Wayang Potehi kerap menjadi sarana ritual di kelenteng. Tetapi, menurut Dwi, ketika Wayang Potehi dimainkan di luar kelenteng fungsinya berubah menjadi sarana kritik sosial dan penyampaian ajaran moral.
Tetapi, perkembangan Wayang Potehi sempat terhambat di Indonesia. Pascageger 1965, Wayang Potehi tak berkembang. Puncaknya, larangan pementasan Wayang Potehi muncul pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China.
“Hal itu membuat Wayang Potehi tidak dapat diapresiasi secara intensif,” tulisnya.
Pascareformasi, pementasan potehi mendapat angin segar. Inpres Nomor 6 Tahun 2000 menjadi penanda kembalinya kesenian ini.
Tantangan merawat
Ibarat sebuah bunga, indah dilihat namun dapat mati jika tak dirawat. Wayang Potehi kini ada di persimpangan jalan. Di tengah gempuran penggunaan gawai, Wayang Potehi terus menjaga nyawanya.
Rumah Cinwa Depok menjadi bagian tak terpisahkan dari proses merawat budaya ini. Mila mengatakan terus memainkan Wayang Potehi sebagai pengingat bagi generasi selanjutnya mengenai keberadaan budaya tradisi ini.
Proses yang dilalui tak mudah. Beberapa punggawa Rumah Cinwa Depok terus mempelajari dasar Wayang Potehi. Mereka mengikuti beberapa pakem klasik.
“Baru kita bisa mengkreasikan itu ke dalam bentuk kontemporer,” ujar Mila.
Mila menjelaskan proses kreasi kontemporer sempat menjadi tantangan. Sebab, proses ini pernah menimbulkan dialektika bagi pengikut gaya konvensional di Rumah Cinwa Depok. Beruntungnya, setelah sepuluh tahun berdiri, arah untuk mengembangkan cerita kontemporer ini terus berlanjut.
Sementara itu, menurut Garin dari sisi cerita akan terus mengembangkan pementasan sesuai penonton. Bagi penonton muda, cerita wayang potehi dapat dibuat lebih segar, interaktif, dan gembira. Misalnya, cerita-cerita mengenai shio.
“Kalau penontonnya umum atau dewasa, kita bisa memasukkan cerita klasik dengan sempalan-sempalan (yang mudah dipahami) jadi nggak saklek banget,” kata dia.
Selain cerita yang lebih dekat dengan penonton muda, Mila mengatakan Rumah Cinwa Depok juga mulai aktif di media sosial. Mereka menggunakan platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube untuk mendekatkan ke penonton digital.
Harapan di Imlek
Mila mengatakan Imlek 2025 ini akan menjadi kemerdekaan baru bagi dia dan tim Rumah Cinwa. Ini karena dalam beberapa tahun sebelumnya sempat terjadi kembimbangan mengenai arah pengembangan wayang potehi.
“Karena ini bukan mata pencaharian seperti para maestro potehi, kita ingin Potehi menjadi berkah yang kita teruskan untuk generasi selanjutnya,” kata dia.
Ke depannya, Mila ingin Wayang Potehi Indonesia dapat mendunia dan dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia. Keinginan ini muncul karena Wayang Potehi yang dimainkan di Indonesia masih menggunakan kreasi kayu. Sedangkan di Taiwan, dia menyontohkan, Wayang Potehi menggunakan bahan resin.
“Insyaallah, kita akan berangkat ke Taiwan, pada Agustus. Nanti di akhir tahun kita mau (pentas) di Penang, Malaysia,” kata dia.

