Kantong-Kantong Baru Pendapatan Jasa Marga (JSMR) yang Bikin Sahamnya Atraktif
JAKARTA, investortrust.id – Penguasa pasar jalan tol di Indonesia, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, mendapatkan kantong-kantong baru sumber pendapatan yang bakal mempertebal pundi-pundi perseroan ke depan. Beroperasinya ruas-ruas tol baru, kenaikan trafik, dan rasio utang yang semakin sehat diyakini kian memperkokoh fundamental.
Tingkat pertumbuhan kinerja keuangan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) diprediksi berlanjut didukung oleh kenaikan tarif sejumlah ruas tol bersamaan dengan peningkatan trafik kendaraan.
Sedangkan target pengoperasian ruas tol Cinere-Serpong seksi dua diharapkan menjadi ruas pendongkrak kinerja keuangan perseroan tahun depan. Pertumbuhan juga akan didukung belanja modal dan rasio utang yang terkendali dengan baik.
“Kami memperkirakan pertumbuhan kinerja keuangan perseroan akan berlanjut hingga kuartal akhir 2023. Hal ini sejalan dengan fenomena lompatan trafik kendaraan selama akhir tahun didukung libur panjang,” tulis analis Trimegah Sekuritas Alberto Jonas Kusuma dan Kharel Devin Fielim dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Jumat (15/12/2023).
Terkait kehadiran ruas tol baru, Trimegah Sekuritas menyebutkan, Jasa Marga menargetkan penyelesaian pembangunan ruas tol Cinere-Serpong seksi 2 akhir tahun ini. Ruas ini diharapkan berdampak signifikan terhadap pendapatan perseroan, karena tol ini akan menjadi konektivitas area tersebut dari Pamulang menuju Serpong dan Pamulang ke Soekarno-Hatta.
Berdasarkan kalkulasi, sebut Alberto dan Kharel, pertumbuhan pendapatan tahunan (CAGR) ruas tol Kunciran-Serpong dan Serpong-Cinere diperkirakan meningkat menjadi 26% hingga tahun 2026, dibandingkan tahun 2022 sekitar 20%. Peningkatan tersebut didukung rampungnya proyek tol seksi 2 tersebut.
Trimegah Sekuritas juga memberikan pandangan positif terhadap keberhasilan perseroan dalam mengelola belanja modal (capex) dan rasio utang dengan baik. Hal ini terlihat dari alokasi capex tahun 2024 berkisar Rp 8-10 triliun atau hampir sama dengan tahun ini.
Berbagai faktor tersebut mendorong Trimegah Sekuritas merevisi naik target laba inti perseroan tahun ini dari semula Rp 1,85 triliun menjadi Rp 2,31 triliun. Begitu juga dengan proyeksi laba inti tahun 2024 direvisi naik dari semula Rp 2,14 triliun menjadi Rp 2,69 triliun.
Hingga September 2023, perseroan berhasil mencetak lompatan laba 493% menjadi Rp 5,97 triliun didukung raihan keuntungan dari nilai wajar investasi asosiasi senilai Rp 4,01 triliun.
Hal ini mendorong Trimegah Sekuritas merevisi naik target harga saham JSMR dari Rp 4.270 menjadi Rp 5.500 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Target tersebut merefleksikan perkiraan PE ratio tahun 2024 sekitar 13,8 kali.
Sedangkan faktor pendukung lain terhadap pertumbuhan laba dan saham perseroan, terang Trimegah Sekuritas, datang dari penyelesaian divestasi 30% saham Jasamarga Transjawa Toll (JTT) dengan perkiraan nilai transaksi sebesar Rp 13 triliun.
Dana hasil divestasi tersebut rencanya digunakan untuk memangkas utang dengan target hingga Rp 7 triliun. Apabila aksi tersebut terwujud, perseroan tentu bisa memangkas biaya keuangan Rp 500 miliar.
Pandangan positif dengan revisi naik target harga saham JSMR juga datang dari Analis CGS CIMB Sekuritas, Genie Purnamasari dan Bob Setiadi. Mereka menyebutkan bahwa kenaikan tarif ruas tol, penambahan ruas tol, dan divestasi sebagian saham ruas tol akan menjadi faktor utama penopang laba bersih JSMR tahun depan. Apalagi trafik kendaraan ruas tol diperkirakan bakal terus meningkat di tahun 2024.
Divestasi
Ekspektasi berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan tersebut mendorong CGS CIMB Sekuritas merevisi naik target harga saham JSMR dari Rp 4.700 menjadi Rp 5.600 dengan rekomendasi dipertahankan add.
Genie Purnamasari dan Bob Setiadi mengatakan, penopang utama peningkatan laba bersih perseroan tahun 2024 akan datang dari kenaikan tarif sejumlah ruas tol bersamaan dengan peningkatan trafik kendaraan. Hal ini berbeda dengan adanya dukungan keuntungan dari nilai wajar investasi asosiasi.
Pertumbuhan keuntungan perseroan tahun 2024 juga akan datang dari divestasi sebagian saham Jasamarga Transjava Tollroad (JTT) dengan target semester I-2024. Divestasi tersebut diharapkan berimbas terhadap penurunan beban keuangan secara signifikan.
CIMB Sekuritas memperkirakan kenaikan laba bersih perseroan tahun ini menjadi Rp 6,48 triliun, dibandingkan pencapaian tahun lalu Rp 2,74 triliun. Sedangkan laba bersih perseroan tahun depan diperkirakan mencapai Rp 2,77 triliun.
Prospek Saham JSMR
Trimegah Sekuritas
Rekomendasi : Buy
Target harga : Rp 5.500
CGS CIMB Sekuritas
Rekomendasi : Add
Target harga : Rp 5.600
Market Leader
PT Jasa Marga Tbk hingga saat ini masih menjadi penguasa pasar (market leader) di industri jalan tol Indonesia, sekitar 47%, dengan total panjang jalan tol Jasa Marga Group yang telah beroperasi sepanjang 1.260 kilometer (KM).
Sementara itu, total konsesi jalan tol yang dimiliki oleh Jasa Marga hingga kuartal III-2023 mencapai 1.736 KM di seluruh Indonesia. “Jumlah konsesi tersebut termasuk penambahan konsesi terbaru yang diperoleh JSMR, yaitu Jalan Tol Akses Patimban sepanjang 37,05 KM yang dikelola oleh PT Jasamarga Akses Patimban (JAP),” kata Corporate Secretary & Chief Administration Officer Jasa Marga, Nixon Sitorus.
BUMN ini merupakan pengelola jalan tol pertama dan terbesar di Indonesia yang kini memiliki 36 konsesi jalan tol, yang tersebar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Pengelolaan konsesi jalan tol ini dilakukan oleh induk perusahaan untuk 9 ruas jalan tol, subholding sebanyak 13 ruas jalan tol, dan anak perusahaan sebanyak 14 ruas jalan tol.
Selain itu, Jasa Marga juga memiliki tiga anak perusahaan penyedia jasa (service provider) yang berfokus pada bisnis pengoperasian dan pemeliharaan jalan tol yaitu PT Jasamarga Tollroad Operator (JTO), PT Jasamarga Tollroad Maintenance (JTM), dan PT Jalantol Lingkarluar Jakarta (JLJ), serta satu anak perusahaan di bisnis yang prospektif, yaitu PT Jasamarga Related Business.
Pada kuartal III-2023, kata Nixon, Jasa Marga berhasil mempertahankan kinerja positif sejalan dengan peningkatan volume lalu lintas jalan tol. Hal itu ditopang pengoperasian ruas-ruas jalan tol baru dan peningkatan mobilisasi masyarakat yang menjadi katalis positif atas kenaikan volume lalu lintas.
Peningkatan kinerja positif tercermin pada pencapaian laba bersih sebesar Rp 5,97 triliun. Dari jumlah itu, Rp 4,1 trilliun merupakan dampak dari pemenuhan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 22 tentang Kombinasi Bisnis sehubungan konsolidasi kembali PT Jasamarga Semarang Batang (JSB), PT Jasamarga Solo Ngawi (JSN), dan PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri (JNK) melalui akuisisi saham PT Lintas Marga Jawa (LMJ) oleh PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) di bulan Juli 2023.
Pendapatan usaha tercatat sebesar Rp 11 Triliun atau tumbuh 7,7% year-on-year (yoy). EBITDA mencapai Rp 6,8 Triliun, meningkat 5,7% yoy, dengan EBITDA margin sebesar 62,1%. Selain itu, Jasa Marga mencatat total aset sebesar Rp 124,9 Triliun.
Pada Oktober 2022 lalu, Jasa Marga telah melakukan divestasi Jalan Layang MBZ yang dikelola oleh PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JJC).
Adapun core profit perseroan tercatat sebesar Rp 1,86 Triliun, meningkat 84,9% yoy. “Terbukti perseroan dapat mempertahankan rasio keuangan lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” ungkap Nixon.
Saat ini, Jasa Marga memiliki beberapa proyek yang tengah berjalan yaitu, Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan, Jalan Tol Akses Patimban, Jalan Tol Yogyakarta-Bawen, Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulonprogo, dan Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi.
Untuk meningkatkan pelayanan maksimal bagi pengguna jalan tol, Jasa Marga mengembangkan Intelligent Transport System (ITS) yang berfungsi mengelola pelayanan lalu lintas jalan tol sekaligus menjadi sumber pusat informasi lalu lintas yang terintegrasi. Hal itu dapat dilihat di super-app Jasamarga Integrated Digitalmap (JID) yang dioperasikan di Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC).
Jasa Marga juga kembali melanjutkan komitmennya dalam mewujudkan pengusahaan jalan tol yang andal, aman dan nyaman, berwawasan lingkungan serta berkelanjutan. Di antaranya dicapai melalui predikat Gold Green Toll Road Indonesia untuk tiga jalan tol yang dikelolanya yaitu Jalan Tol Gempol-Pandaan, Jalan Tol Pandaan-Malang dan Jalan Tol Bali Mandara.
Perusahaan yang telah go public pada 2007 ini membangun jalan tol pertama pada 1978. Jalan tol pertama di Indonesia yang dioperasikan oleh Jasa Marga adalah jalan tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) dan menjadi tonggak sejarah bagi perkembangan industri jalan tol di Tanah Air. Jasa Marga telah memiliki 16 entitas anak, lima entitas asosiasi dan ventura bersama.

