TransJakarta dengan Lintasan Terpanjang di Dunia Ini Terus Memodernisasi Diri
JAKARTA, investortrust.id -- Tanpa terasa, bus TransJakarta sudah mengaspal hampir dua dekade. Sejarah kelahiran transportasi publik masyarakat Ibukota itu diawali dari gagasan yang mencuat semenjak 2001. Namun, pengoperasian resminya baru dilakukan pada 15 Januari 2004, saat DKI Jakarta dipimpin Gubernur Sutiyoso.
Proyek penting ini dirancang oleh Pemprov DKI Jakarta dengan melibatkan lintas institusi. Salah satu lembaga yang ikut merencanakan dari awal adalah Institute for Transportastion & Development Policy (ITDP). Bechmark desain sistem transportasi TransJakarta mengacu pada TransMilenio di Bogota, Kolombia. Hal ini pula yang ketika itu memunculkan kritikan, karena Kolombia bukan dipandang sebagai negara yang sistem transportasi kotanya layak dijadikan barometer.
Pada awal beroperasi, seperti biasa, TransJakarta memicu pro dan kontra. Lumrah bahwa setiap kebijakan baru selalu ada resistensi, meski juga mendapat dukungan. Meskipun sebelum beroperasi Pemprov DKI sudah melakukan kajian dan uji coba, tentu masih ada sejumlah kelemahan dan kendala pada tahap-tahap awal.
Beberapa keluhan yang sempat mengemuka saat itu antara lain kemacetan yang ditimbulkan di jalan arteri sebelah jalur TransJakarta (busway), kurangnya bus pengumpan (feeder), rute dan halte yang masih terbatas, dan sejumlah kecelakaan yang terjadi. Namun, seiring waktu, pembenahan terus dilakukan.
Bus TransJakarta lahir dari kegelisahan tentang kemacetan lalu lintas di Jakarta yang demikian akut. Kemacetan itu bukan hanya menimbulkan polusi dan kerusakan kualitas udara di atmosfer Ibu Kota, tapi juga menimbulkan kerugian ekonomi sangat signifikan. Survey yang pernah dilakukan Kementerian Perhubungan menyebut bahwa kerugian yang ditimbulkan kemacetan di Jakarta mencapai Rp 65 triliun per tahun.
Sistem moda transportasi TransJakarta diklaim sebagai bus rapid transit (BRT) pertama di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Setelah hampir 20 tahun beroperasi, jalur Transjakarta sepanjang 256 kilo meter (km) bahkan dinobatkan sebagai sistem BRT dengan lintasan terpanjang di dunia.
Debut pertama Transjakarta diawali dengan pembukaan koridor 1 dengan rute Blok M – Jakarta Kota. Jalur ini melintasi jantung Jakarta, Jln Jendral Sudirman, Jln MH Thamrin, dan kawasan niaga Jln Hayam Wuruk dan Jln Gajah Mada. Hingga saat ini, jalur inilah yang paling padat penumpang, karena melintasi kawasan perkantoran dan bisnis utama.
Pada masa-masa awal peluncurannya, kemacetan terjadi di banyak tempat, khususnya di sepanjang jalur busway tersebut. Protes yang disampaikan para pengguna mobil pribadi, termasuk mobil umum non-TransJakarta, tak digubris oleh Pemprov DKI. Gubernur Sutiyoso juga bergeming dengan kritikan itu. Dia berkeras proyek TransJakarta harus tetap berjalan, agar masyarakat termasuk pemakai mobil pribadi beralih ke transportasi umum.
Awalnya, pengelola pertama bus TransJakarta adalah Badan Pengelola TransJakarta Busway yang dibentuk lewat Keputusan Gubernur Nomor 110/2003. Dua tahun kemudian, manajemen bus TransJakarta berubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU) TransJakarta, terhitung per 4 Mei 2006, berdasarkan Pergub DKI Jakarta No 48 Tahun 2006. Delapan tahun kemudian, pada 2014, manajemen bus TransJakarta dialihkan ke BUMD Pemprov DKI yakni PT Transportasi Jakarta (TransJakarta).
Koridor & Jumlah Penumpang
Sistem lintasan yang berlaku di TransJakarta adalah koridor. Saat ini, TransJakarta telah memiliki 14 koridor. Koridor ke-14 yang belum lama beroperasi melayani rute Pasar Senin hingga Jakarta International Stadium (JIS). Selain koridor tertua Blok M- Jakarta Kota (Koridor 1), koridor lain adalah Pulo Gadung Harmoni (Koridor 2), Kalideres- Pasar Baru (Koridor 3), Pulo Gadung-Dukuh Atas (Koridor 4), Ancol – Kampung Melayu (Koridor 5), Ragunan – Dukuh Atas (Koridor 6), Kampung Rambutan – Kampung Melayu (Koridor 7), Lebak Bulus - Harmoni (Koridor 8), Pluit-Pinang Ranti (Koridor 9), Tanjung Priok – PGC 2 (Koridor 10), Kampung Melayu – Pulo Gebang (Koridor 11), Pluit – Tanjung Priok (Koridor 12), dan Kapten Tendean-Ciledeug (Koridor 13).
Selain 14 koridor utama tersebut, ada juga rute lintas koridor atau sub-koridor yang jumlahnya sangat banyak, sehingga memberikan banyak alternatif bagi penumpang.
Jumlah penumpang yang dapat diangkut Bus TransJakarta terus bertambah. Pada 2018, setidaknya sekitar 641.000 penumpang per hari bisa diangkut di seluruh koridor. Angka ini relatif melonjak jika dibanding kapasitas tahun sebelumnya, 2017, yang hanya mampu mengangkut sekitar 300 ribuan penumpang per hari. Jumlah penumpang terus bertambah sering pertambahan jumlah armada, atau juga karena kian banyaknya halte, sekaligus kebutuhan masyarakat akan sarana angkutan umum memang bertambah.
Ada dua koridor paling padat penumpang. Pertama adalah koridor tertua Blok M – Kota. Jalur ini mengangkut penumpang lebih dari 30 juta selama periode 2019 hingga 2021. Maklum, itu adalah jalur yang membelah jantung Ibukota, melewati pusat-pusat perkantoran dan bisnis. Jalur terpadat kedua adalah Pinang Ranti – Pluit (Koridor 9), yang mengangkut hampir 30 juta penumpang pada periode 2019- 2021.
Sebelum pandemi, TransJakarta dijejali total minimal sejuta penumpang per hari. Level tersebut belum tertembus pascapandemi saat ini. Karena itulah, salah satu upaya meningkatkan penumpang menjadi sejuta per hari seperti sebelum pandemi adalah dengan cara membangun halte tambahan serta rute baru. Koridor 14 melayani rute Stasiun Pasar Senen-Jakarta International Stadium (JIS).
Armada
Untuk armada, TransJakarta memiliki 2.380 bus pada tahun 2017, kemudian meningkat jadi 3.017 pada 2018), dan bertambah jadi 3.548 pada tahun 2019. Armada bus yang dioperasikan berjumlah 4.709 unit per 2020, di mana 3.203 bus di antaranya adalah milik operator.
Dilihat dari jenisnya, TransJakarta mengoperasikan sekitar tujuh jenis. Data terbaru yang pernah dirilis meliputi jenis double decker bus (28 unit), maxi bus (276 unit), single bus (971 unit), medium bus (361 unit), articulate bus (288 unit), low entry bus (290 unit), dan mikrotrans (1.865 unit).
Dalam operasinya, Transjakarta menggandeng operator bus swasta. Baik untuk memperkuat armada Transjakarta maupun sebagai pengumpan. Mitra-mitra tersebut adalah PT Jakarta Trans Metropolitan (JTM), PT Primajasa Perdanaraya Utama (PP), PT Jakarta Mega Trans (JMT), PT Eka Sari Lorena (LRN), PT Bianglala Metropolitan (BMP), PT Trans Mayapada Busway (TMB), Perum DAMRI (DMR/DAMRI), Kopaja, Mayasari Bakti, dan Perum PPD.
Bus Listrik
Sebagai strategi untuk mengurangi polusi di Ibukota sekaligus untuk meremajakan armada, TransJakarta secara bertahap mengganti armada yang ada, yang berbahan bakar minyak (BBM0 dan gas (BBG) dengan bus listrik. Tapi pada tahap awal TransJakarta hanya mengujicoba bus listrik di rute-rute khusus, seperti rute wisata. Langkah peremajaan juga dibutuhkan lantaran DKI mulai menerapkan pembatasan usia kendaraan angkutan umum maksimum sepuluh tahun, yang diberlakukan sejak 2020.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo dalam pernyataannya akhir 2022 menyebut bahwa TransJakarta akan mengoperasikan bus listrik setidaknya 220 unit pada 2023. Tahun lalu, bus listrik yang tersedia baru 20 unit dan tahun ini ditargetkan 190 untuk yang dibiayai dari APBD DKI Jakarta.
Namun karena adanya kendala, target pengadaan bus listrik tahun ini direvisi dari 190 menjadi 100. Menurut Syafrin Liputo, penurunan target dilakukan untuk mencegah pengeluaran perusahaan lebih besar dari pendapatan. "Kita harus merevisi target agar jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang," ujar Syafrin kepada wartawan Juni lalu.
Direktur Utama PT Transjakarta Welfizon Yuza menekankan bahwa penggunaan bus listrik merupakan strategi jangka panjang guna mengurangi emisi karbon dan agar ramah lingkungan. Guna mewujudkan rencana startegis tersebut, TransJakarta mematok target bahwa separuh armadanya harus menggunakan bus listrik pada tahun 2027 dan pada 2030 seluruh armada sudah berbasis listrik.
Terkait dengan pengadaan bus listrik, TransJakarta telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Equipmake Holdings Plc, jagonya elektrifikasi kendaraan komersial asal Inggris dan PT VKTR Teknologi Mobilitas milik Grup Bakrie pada Agustus 2022.
Dalam kesepakatan kerja sama tersebut, kata CEO Equipmake Holdings Plc Ian D Foley, Equipmake menyanggupi pembuatan mesin bus listrik dengan teknik retrofit, yakni mengubah mesin konvensional menjadi mesin listrik. Foley mengaku perusahaannya sudah terbiasa merenovasi model demikian dan sudah dipakai oleh sejumlah negara.
Pada kesempatan VKTR listing perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pertengahan Juni lalu, Anindya N Bakrie menegaskan bahwa pihaknya akan fokus dalam pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di segmen kendaraan komersial, khususnya bus dan truk. "Berdasarkan data, kebutuhan bus di Jakarta mencapai lebih dari 10.000 unit hingga tahun 2030," kata dia di Gedung BEI, Senin (19/06/2023).
Untuk itu, VKTR membuat aliansi strategis dengan BYD Auto, produsen bus terbesar di dunia. Hingga kini, VKTR telah menyuplai 30 unit bus listrik merek BYD ke TransJakarta, dan akan segera menambah 22 unit bus lagi. VKTR juga sedang mengembangkan fasilitas perakitan bus listrik di Magelang dengan kapasitas 500 per tahun.
Tarif Super Murah
Salah satu daya tarik bus Transjakarta adalah tarifnya yang super murah. Bayangkan, kita bisa berkeliling Jakarta seharian hanya dengan merogoh kocek Rp 3.500. Bahkan khusus untuk jam 05-07 pagi, tarif yang diberlakukan hanya Rp 2.000. Tarif Rp 3.500 yang diputuskan oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta sejak tahun 2012 tersebut belum berubah hingga kini. Sebelum itu, tarif TransJakarta bahkan hanya Rp 2.000 yang berlaku sejak mulai beroperasi tahun 2004.
Sistem tiket pada halte TransJakarta sejak 2013 menggunakan kartu elektronik (e-ticketing), sebagai pengganti uang tunai. Operator koridor tidak menerbitkan kartu tersebut, melainkan menggunakan kartu prabayar yang dikeluarkan oleh sejumlah bank. Di antaranya Bank Rakyat Indonesia (BRIZZI), Bank Central Asia (Flazz), Bank Negara Indonesia (Tapcash, Kartu Aku, dan Rail Card), Bank Mandiri (e-money, e-Toll Card, Indomaret Card, dan GazCard), Bank DKI (JakCard), serta Bank Mega MegaCash.
Awalnya pelanggan hanya melakukan transaksi tiket dengan cara Tap In di Barrier Gate saat masuk ke dalam halte. Tapi sejak 17 Agustus 2016, pelanggan juga harus melakukan Tap Out saat keluar dari halte. Saldo uang elektronik hanya akan terpotong pada saat Tap In (masuk ke halte). Tidak ada perubahan tarif terkait dengan pemberlakuan Tap Out.
Pemberlakuan Tap Out bertujuan agar TransJakarta mendapatkan data mengenai lokasi tujuan pelanggan. Data ini akan digunakan untuk memperbaiki rute dan pelayanan dengan lebih maksimal sesuai dengan kebutuhan dari pengguna setia TransJakarta.
Meski tarif bus TransJakarta tidak naik sejak 2012, PT TransJakarta tetap dapat menorehkan laba. Tahun 2021 misalnya, laba bersih Transjakarta mencapai Rp 270 miliar, menurun dibanding pencapaian 2020 sebesar Rp 378 miliar.
TransJakarta terus berusaha memberikan layanan yang lebih baik bagi penumpang. Salah satu terobosan yang dilakukan adalah mengoperasikan bus khusus perempuan, yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Kartini pada 21 April 2016, oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ketika itu. Awalnya bus khusus perempuan berwarna pink tersebut hanya melayani Koridor Blok M – Kota, namun kini lebih dari 20 armada bus melayani lima koridor. Bus ini memang disediakan sebagai upaya untuk mengurangi potensi pelecehan seksual.
Pembenahan lain adalah memodernisasi halte-halte di koridor utama agar lebih indah dan nyaman bagi pengguna. Sejumlah halte di jalur Thamrin-Sudirman maupun Rasuna Said saat ini terlihat mewah dan didesain artistik.
Terlepas dari kekurangan yang masih ada, pembenahan dan perbaikan yang terus dilakukan secara konsisten terbukti mampu menjadikan TransJakarta sebagai sarana transportasi favorit warga Ibukota Jakarta dan kota-kota satelit di sekitarnya.

