Mesin Pertumbuhan Baru Pendorong Performa Siloam (SILO)
JAKARTA, investortrust.id – Usai menuntaskan transformasi, PT Siloam Hospitals Tbk (SILO) menunjukkan tren pertumbuhan kinerja keuangan pesat sejak tahun 2019. Pertumbuhan tersebut diprediksi terus berlanjut didukung berbagai faktor positif yang menjadi mesin pertumbuhan baru pendorong performa Siloam dalam beberapa tahun ke depan.
Analis Sucor Sekuritas Eriza Putri menyebutkan, Siloam (SILO) memiliki sejumlah faktor pendorong pertumbuhan ke depan. Di antaranya, kehadiran UU Kesehatan yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi industri rumah sakit di Indonesia, termasuk Siloam.
Dengan UU Kesehatan yang baru, menurut dia, tenaga kesehatan akan lebih mudah didapatkan untuk pengembangan rumah sakit di luar Jawa. “Kami memperkirakan tenaga kesehatan spesialis akan semakin banyak dan mudah didapatkan dengan harga lebih kompetitif, sehingga margin keuntungan perseroan diprediksi melesat 36-37% ke depan. Hal ini juga tentu akan mempermudah perseroan untuk berekspansi,” ujar Eriza dalam riset yang diterbitkan, Senin (23/10/2023).
Pertumbuhan kinerja keuangan ke depan, terang dia, juga didukung fokus perseroan untuk penguatan Center of Excellence, khususnya ibu dan anak, orthopedik, digestive, dan onkologi. Sebagaimana diketahui, Center of Exellence telah mulai membuahkan peningkatan jumlah pasien yang berkunjung ke seluruh jaringan rumah sakit perseroan. Siloam mengoperasikan sebanyak 41 rumah sakit hingga 2022 dan sebanyak 66 klinik. Perseroan juga memiliki basis pasien beragam mulai dari pasien bayar sendiri, asuransi, hingga peserta BPJS Kesehatan.
Sucor Sekuritas memperkirakan, Siloam berpotensi menambah sebanyak 200 tempat tidur baru setiap tahun dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, Siloam berhasil mencatatkan biaya sewa sejumlah gedung rumah sakit dengan harga lebih kompetitif, dengan tarif yang berlaku merupakan persentase biaya dari setiap pendapatan.
“Kami juga melihat bahwa Siloam memiliki posisi yang baik untuk menarik pasien internasional berobat ke jaringan rumah sakit perseroan atau tak terbatas hanya bagi ekspatriat atau tourism patients. Hal ini didukung kemampuan perseroan untuk menarik tenaga medis spesialis bersamaan dengan peningkatan peralatan rumah sakit,” tegas Eriza.
Secara lebih detail, Sucor Sekuritas menganalisis bahwa pertumbuhan kinerja keuangan Siloam terlihat semakin kuat setelah transformasi dituntaskan tahun 2019. “Transformasi tersebut membuahkan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) pendapatan perseroan mencapai 11% periode 2019-2022. Bahkan, perseroan berhasil mendongkrak margin keuntungan dari 5% menjadi 7%,” kata Eriza.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Sekurtias untuk mempertahankan target pertumbuhan laba bersih Siloam tahun ini mencapai 68% dan diharapkan kembali bertumbuh sebanyak 5% di tahun 2024. Pertumbuhan juga akan didukung peningkatan peralatan rumah sakit perseroan di berbagai daerah.
Sucor Sekuritas memperkirakan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) pendapatan perseroan bakal mencapai 12% untuk lima tahun mendatang. Sedangkan margin EBIT diperkirakan mencapai 14%.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham SILO dengan target harga Rp 2.260. Saat ini, saham SILO tergolong masih murah dibandingkan kompetitornya. Target tersebut merefleksikan perkiraan PE ratio tahun ini sektiar 25,1 kali.
Sucor Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 1,20 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu sebesar Rp 710 miliar. Sedangkan pendapatan perseroan diharapkan mencapai Rp 11,85 triliun, dibandingkan pencapaian tahun lalu Rp 9,51 triliun.
Pilihan Teratas
Sementara itu, riset Mandiri Sekuritas menyebutkan bahwa performa keuangan emiten rumah sakit diperkirakan menunjukkan perbaikan sepanjang kuartal III-2023 dan diharapkan berlanjut sampai akhir tahun. Pertumbuhan dipengaruhi oleh peningkatan trafik jumlah pasien di sejumlah rumah sakit.
Di tengah tren pertumbuhan pasien, Mandiri Sekuritas menyebutkan bahwa Siloam Hospitals akan menjadi emiten rumah sakit yang paling diuntungkan atas peningkatan jumlah pasien yang berkunjung ke rumah sakit. Hal ini didukung fakta bahwa mayoritas pasien yang berkunjung ke rumah sakit Siloam adalah peserta asuransi swasta, dibandingkan pasian BPJS Kesehatan.
Sebagaimana diketahui, harga asuransi kesehatan swasta lebih tinggi dibandingkan dengan nilai klaim BPJS Kesehatan. Hal ini membuat pertumbuhan pendapatan SILO lebih tinggi dibandingkan emiten rumah sakit lainnya di dalam negeri. Tingkat pertumbuhan lebih tinggi tersebut sudah terjadi sejak kuartal IV-2022 hingga saat ini.
“Peningkatan pendapatan perseroan ditopang oleh rata-rata pendapatan perseroan dari setiap pasien yang terus bertumbuh, karena adanya tren peningkatan harga melalui pembayaran mandiri atas asuransi swasta. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah pasien yang berkunjung ke sejumlah rumah sakit perseroan melalui BPJS,” terangnya.
Berbagai faktor tersebut mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan saham SILO sebagai pilihan teratas untuk emiten rumah sakit dengan target harga Rp 2.980. Dengan harga penutupan saham SILO Rp 2.200, Senin (23/10/2023), terbuka potensi lompatan harga saham SILO sebanyak 35,45% dalam beberapa bulan ke depan. Sedangkan saham HEAL direkomendasikan beli dengan target harga direvisi turun dari Rp 1.900 menjadi Rp 1.620.
Mandiri Sekuritas memperkirakan laba bersih SILO bakal meningkat dari Rp 696 miliar menjadi Rp 1,05 triliun pada 2023. Sedangkan pendapatan diperkirakan naik dari Rp 7,39 triliun menjadi Rp 8,45 triliun.
Prospek saham SILO
Sucor Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga: Rp 2.260
Mandiri Sekuritas
Rekomendasi : Buy
Target harga: Rp 2.980
Dorong Efisiensi
PT Siloam International Hospitals Tbk (Siloam, SILO) adalah jaringan rumah sakit swasta terdepan di Indonesia dan telah menjadi benchmark (nilai standar) pada pelayanan kesehatan berkualitas di Indonesia. Tim medis Siloam terdiri atas 2.700 dokter umum dan dokter spesialis, serta 10.000 perawat dan staf pendukung lainnya dan telah melayani hampir 2 juta pasien setiap tahunnya.
Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan medis berkelas dunia, strategi bisnis Siloam yang berdasarkan prinsip skala ekonomis memungkinkan setiap unit rumah sakitnya untuk beroperasi dengan biaya yang lebih rendah. Dengan demikian, visi perusahaan untuk mewujudkan pelayanan kesehatan berkualitas internasional di Indonesia yang dilandasi dengan belas kasih Tuhan dapat menjadi platform bagi Siloam untuk merespons transformasi sosial yang dinamis di Indonesia.
Memulai bisnis pada tahun 1996, saat ini Siloam Hospitals mengelola dan mengoperasikan 41 rumah sakit, terdiri dari 15 rumah sakit di kawasan Jabodetabek dan 26 rumah sakit yang tersebar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Ambon. Siloam Hospitals Group juga mengoperasikan 68 Siloam Center.
Siloam Hospitals merupakan pelopor akreditasi Joint Commission International (JCI) untuk rumah sakit di Indonesia. JCI merupakan lembaga akreditasi internasional berpusat di Amerika Serikat yang fokus pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.
Sementara itu, Presiden Direktur Siloam, Benny Haryanto menyatakan, selama semester I-2023, Siloam melanjutkan momentum pertumbuhannya dan membukukan pertumbuhan pendapatan dan EBITDA sebesar dua digit dari tahun ke tahun. Pencapaian ini didorong oleh peningkatan volume pasien dalam prosedur operasi kompleks yang menyebabkan Average Revenue per Day (ARPD) lebih tinggi.
"Siloam terus menunjukkan ketangguhannya dan membukukan hasil keuangan dan operasional yang signifikan pada kuartal kedua tahun 2023. Manajemen terus mendorong efisiensi dan profitabilitas di setiap rumah sakit dan berhasil mengatasi faktor musiman selama dua kuartal terakhir,” kata Benny saat mengumumkan kinerja keuangan semester I-2023 beberapa waktu lalu.
Melalui keberhasilan implementasi strategi Siloam 5.0 yang kuat, Siloam berhasil mengatasi faktor musiman pada kuartal 1 dan 2 tahun 2023. Siloam berhasil mempertahankan payer mix yang optmial. Sekitar 83% dari total pendapatan berasal dari pasien pribadi dengan lebih dari 50% pendapatan berasal dari klien korporasi dan asuransi. Kontribusi pendapatan dari BPJS stabil di sekitar 18%.
Saluran digital Siloam yang meliputi fitur Live Chat, WhatsApp, dan tele-chat dari MySiloam App terus menunjukkan pertumbuhan signifikan dan mencatat lebih dari 300 ribu pemesanan rawat jalan atau berkontribusi sekitar 19% dari total rawat jalan di semester I-2023. Aplikasi MySiloam telah diunduh lebih dari 1,7 juta kali dan mencatat lebih dari 1,3 juta sesi per Juni 2023.
“Siloam juga telah berinvestasi secara signifikan dalam kemampuan digitalnya untuk memberikan akses yang lebih mudah bagi pasien serta meningkatkan pengalaman berobat di rumah sakit kami. Melalui upaya-upaya gabungan ini, para pemegang saham dapat mengharapkan pertumbuhan bisnis yang tinggi,” ujar Benny.
Siloam mencatat peningkatan volume rawat inap dan rawat jalan. Pada semester I-2023, jumlah pasien rawat inap meningkat 28,6% menjadi 71.645 pasien serta hari rawat inap 226.204 hari atau meningkat 20,3% (yoy). Adapun 910.407 pasien menjalani rawat jalan pada semester I atau meningkat 27,5%.
Siloam menorehkan laba bersih sebesar Rp 516 miliar pada semester I-2023 atau meningkat 142,5% (yoy). Jika dibandingkan dengan faktor musiman yang sama pada kuartal ke-2, pendapatan, EBITDA, dan laba bersih menunjukkan CAGR positif sebesar 13%, 35,3%, dan 301,2% dari
Kuartal II-2019 hingga kuarta; II-2023. Perseroan juga terus menerapkan inisiatif efisiensi biaya sepanjang tahun 2023 dan telah menghemat sekitar Rp 58 miliar pada semester I-2023. (Hari Gunarto)
."

