Di Balik LNG Bernilai Jumbo, Ada Data Laboratorium yang Dijaga Ketat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Di industri gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), kepercayaan pelanggan tidak hanya dibangun dari besarnya produksi atau panjangnya kontrak penjualan. Bagi para pembeli LNG, kualitas data laboratorium menjadi fondasi utama. Sedikit saja kesalahan membaca komposisi gas, dampaknya bisa langsung terasa pada nilai transaksi hingga jutaan dolar AS.
“Kalau ada kesalahan pada komposisi LNG di awal, itu akan langsung mempengaruhi nilai LNG dan kandungan energinya. Dampak finansialnya akan meningkat pada volume LNG yang besar,” kata Laboratory Supervisor PT Donggi Senoro LNG Mohd. Taufiq dalam pemaparan bertema “Standar Keunggulan Donggo Senoro LNG (DSLNG): Sertifikasi Laboratorium ISO 17025” di sela IPA Convex 2026 2026 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga
Bagi pelanggan, hasil pengujian laboratorium (lab) bukan sekadar angka di atas kertas. Data itu menjadi dasar menentukan kualitas, volume energi, hingga harga LNG yang diperdagangkan antarnegara. Untuk itu, laboratorium yang andal menjadi bagian penting dari rantai bisnis energi global.
Peribahasa menyebut, “ukuran yang salah akan membawa arah yang salah.” Di industri LNG, ungkapan itu terasa nyata. Kesalahan kecil dalam pengukuran komposisi gas dapat memicu kerugian finansial besar, terutama ketika transaksi dilakukan dalam volume jumbo. Untuk itu, akurasi menjadi hal yang tak bisa ditawar.
PT Donggi Senoro LNG atau DSLNG, perusahaan pengolahan LNG yang beroperasi di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, menempatkan akurasi laboratorium sebagai salah satu standar utama operasional perusahaan.
DSLNG merupakan perusahaan patungan yang sahamnya dimiliki Mitsubishi Corporation, PT Pertamina Hulu Energi melalui afiliasinya, serta Korea Gas Corporation. Fasilitas DSLNG berada di wilayah Donggi, Sulawesi Tengah, dan menjadi salah satu pemasok LNG untuk pasar domestik maupun ekspor di Asia.
Baca Juga
PGN dan PIS Tandatangani Kontrak Pengangkutan LNG Donggi Senoro
Dilansir situs resmi perusahaan dikutip Investorrust, Kamis (21/5/2026), selain mengandalkan standar laboratorium internasional, DSLNG juga dikenal sebagai salah satu fasilitas LNG strategis di Indonesia Timur. Kilang LNG Donggi Senoro memiliki kapasitas produksi sekitar 2 juta ton LNG per tahun dengan satu jalur produksi atau single train. Kapasitas tersebut memungkinkan DSLNG mengirim sekitar 36 kargo LNG setiap tahun. Pada beberapa periode operasional, produksi DSLNG bahkan mampu melampaui target hingga menembus 2,2 juta ton LNG per tahun.
"Dengan sistem single train, perusahaan akan berupaya untuk menghindari kesalahan teknis yang dapat menghambat aliran produksi. Target produksi kami satu tahun ini (2026) 2,1 juta ton. Maksimal di 2,105 juta ton,” kata Corporate Communication Manager DSLNG Adhika Paramanandana dalam acara Halalbihalal Media di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
LNG dari DSLNG dipasok ke sejumlah pembeli jangka panjang, seperti perusahaan energi Jepang Jera, Kyushu Electric, dan Korea Gas Corporation.
Secara bisnis, DSLNG membeli gas alam dari produsen hulu untuk kemudian diolah menjadi LNG sebelum dipasarkan ke pelanggan. Untuk memastikan pasokan tetap aman, perusahaan telah menandatangani perjanjian jual beli gas (GSA) dengan sejumlah pemasok, yakni PT Pertamina Hulu Energi Tomori Sulawesi, PT Medco E&P Tomori Sulawesi, dan Tomori E&P Ltd. Dari kerja sama tersebut, DSLNG menerima pasokan gas dari Blok Senoro Toili sebesar 250 juta kaki kubik per hari dan dari Blok Matindok sekitar 85 juta kaki kubik per hari.
Di sisi lain, permintaan LNG Indonesia juga masih terjaga. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat total alokasi LNG untuk kebutuhan industri domestik dan ekspor sebanyak 120 kargo untuk periode Januari-Juni 2026.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan kebutuhan LNG sepanjang semester I 2026 dipastikan sudah aman "LNG Januari-Juni udah aman. Jumlahnya kalau untuk sampai dengan Juni sekitar 120 kargo," ungkap Djoko saat ditemui di Blok Rokan, beberapa waktu lalu.
Baca Juga
Mengapa Sertifikasi ISO 17025 Penting?
DSLNG menegaskan laboratoriumnya telah kembali memperoleh akreditasi ISO 17025:2017 hingga 21 April 2030 setelah melalui proses reakreditasi pada 2025. Sertifikasi ini diberikan setelah audit berkala oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).
ISO 17025 merupakan standar internasional yang mengatur kompetensi laboratorium pengujian dan kalibrasi. Standar tersebut diterbitkan oleh International Organization for Standardization dan International Electrotechnical Commission.
Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia (UI) sekaligus pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali dalam sebuah kesempatan pernah mengatakan kepercayaan adalah aset bisnis paling berharga, jauh lebih penting daripada keuntungan sesaat.
Pada industri LNG, standar ini bukan sekadar formalitas administrasi. Sertifikasi menjadi bukti bahwa hasil pengujian laboratorium dapat dipercaya, konsisten, dan diakui secara internasional. “Akreditasi ini sangat berperan dalam menjamin keandalan hasil LNG kami. Bagi kami, ISO 17025 sama dengan kepercayaan pelanggan terhadap hasil laboratorium,” ujar Taufiq dalam paparan yang dihadiri Investortrust.id.
Baca Juga
Geopolitik Panaskan Pasar Energi, Harga BBM hingga LNG Naik Tajam
Menurutnya, kepercayaan itu lahir dari data yang akurat dan dapat diverifikasi. Taufiq mengakui tantangan menjaga akurasi LNG tidak mudah. LNG memiliki karakteristik sensitif terhadap perubahan komposisi. Perbedaan kecil dalam pengukuran dapat memengaruhi kandungan energi atau heating value LNG yang menjadi dasar transaksi jual beli.
Untuk itu, perusahaan melakukan berbagai langkah pengendalian, mulai validasi metode pengujian, kalibrasi berkala gas chromatograph, hingga evaluasi measurement uncertainty atau tingkat ketidakpastian hasil pengukuran.
Taufiq menyebut seluruh personel laboratorium DSLNG telah mengikuti sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Kompetensi analis juga dipantau secara berkala melalui pelatihan, uji kecakapan, dan evaluasi performa. Perusahaan juga menerapkan preventive maintenance terhadap peralatan laboratorium dua kali setiap tahun. Kalibrasi instrumen dilakukan rutin setiap bulan untuk memastikan hasil analisis tetap stabil dan akurat. “Kesalahan kecil dalam pengukuran dapat menyebabkan dampak finansial yang signifikan,” kata dia.
Selain itu, laboratorium DSLNG melakukan audit internal setiap tiga bulan atau empat kali dalam setahun. Audit tersebut mencakup aktivitas pengujian LNG, pengendalian dokumen, kompetensi personel, kontrol kualitas, hingga implementasi manajemen risiko.
Data hasil pengujian juga disimpan secara ketat dan bersifat terbatas. Sistem itu diterapkan untuk menjaga kerahasiaan dan memastikan seluruh data dapat ditelusuri kembali jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk kepentingan audit maupun pertanggungjawaban bisnis. “Data yang kami punya akan kami simpan semuanya untuk traceability dan pertanggungjawaban,” jelas Taufiq.
Keunggulan dan Tantangan Sertifikasi
Sertifikasi ISO 17025 memberikan sejumlah keuntungan bagi perusahaan LNG. Dari sisi bisnis, standar ini meningkatkan kepercayaan pelanggan dan memperkuat reputasi perusahaan di pasar internasional.
Baca Juga
DEN Sebut Dampak Gejolak Timur Tengah ke LNG RI Tidak Besar, Sektor Minerba Aman
Dari sisi laboratorium, sertifikasi membantu membangun tata kelola yang lebih disiplin dan mengurangi risiko kesalahan pengujian. Sementara bagi pelanggan, hasil pengujian yang akurat memberikan kepastian terhadap kualitas LNG yang dibeli.
Namun, penerapan standar internasional juga memiliki tantangan. Perusahaan harus mengeluarkan biaya besar untuk menjaga kualitas peralatan, pelatihan personel, audit berkala, hingga pembaruan sistem dokumentasi.
Selain itu, standar yang ketat menuntut konsistensi tinggi dalam operasional sehari-hari. Jika ditemukan ketidaksesuaian dalam audit, perusahaan wajib segera melakukan corrective action atau tindakan perbaikan.
DSLNG juga melakukan uji korelasi dengan sejumlah perusahaan LNG lain di Indonesia, seperti PT Badak LNG, Kayan LNG, dan Pertamina Gas untuk memastikan kualitas hasil pengujian tetap sejalan dengan standar industri nasional.
Di tengah meningkatnya persaingan energi global, kualitas data kini menjadi sama pentingnya dengan kapasitas produksi. Industri LNG tidak lagi hanya berbicara soal siapa yang mampu menjual paling banyak, tetapi juga siapa yang paling dipercaya.
Seperti nakhoda yang mengandalkan kompas di tengah lautan, industri LNG bergantung pada akurasi data untuk menjaga arah bisnis tetap tepat. Ketika angka-angka laboratorium bisa dipercaya, maka kepercayaan pelanggan pun akan tetap terjaga.

