Bagaimana Dunia Melihat Tiga Proxy Iran
Poin Penting
|
Oleh: Primus Dorimulu
Chief Executive Officer Investortrust.id
“Selama perang bisa dijalankan tanpa menyatakan perang, perdamaian hanya akan menjadi jeda, bukan tujuan. Dan selama proxy menjadi alat strategi, korban akan selalu datang dari mereka yang tidak pernah ikut mengambil keputusan.
JAKARTA, Investortrust.id — Dunia melihat Hamas di Palestina, Hezbollah di Lebanon, dan Houthi di Yaman bukan semata-mata sebagai tiga kelompok bersenjata terpisah, melainkan sebagai bagian dari arsitektur pengaruh Iran di Timur Tengah yang dibangun sejak lama untuk memperluas daya tekan Teheran tanpa selalu berperang secara langsung. Council on Foreign Relations mencatat bahwa jaringan mitra bersenjata Iran dipakai untuk memperkuat pengaruh regionalnya dan menekan Amerika Serikat, Israel, serta sekutu-sekutu Washington di kawasan. Dalam praktiknya, jaringan itu memberi Iran kemampuan perang asimetris: Teheran tidak harus menembakkan semua rudalnya sendiri untuk menciptakan ketidakstabilan, karena tekanan dapat dilakukan lewat Gaza, Lebanon, Laut Merah, Irak, dan jalur-jalur maritim yang vital bagi energi dunia.
Secara historis, cara pandang dunia terhadap tiga proxy itu selalu terbelah antara dua lensa. Lensa pertama adalah lensa keamanan: banyak negara Barat dan sebagian negara Arab melihat kelompok-kelompok ini sebagai instrumen bersenjata Iran yang merusak kedaulatan negara lain, memperpanjang konflik, dan memelihara zona perang permanen. Lensa kedua adalah lensa politik dan emosional: di sebagian dunia Arab dan Global South, kelompok-kelompok itu kerap dibingkai sebagai bagian dari “poros perlawanan” terhadap Israel, terutama karena isu Palestina masih menjadi luka geopolitik dan kemanusiaan yang hidup. Itulah sebabnya simpati publik internasional sering jatuh pada korban sipil Palestina atau Lebanon, sementara simpati itu tidak selalu identik dengan dukungan terhadap strategi proksi Iran.
Baca Juga
Dari sudut geografi, tiga proxy Iran membentuk sabuk tekanan yang hampir sempurna terhadap Israel dan jalur perdagangan dunia. Hamas menekan dari Gaza di sisi selatan Israel, Hezbollah membuka front utara dari Lebanon, sedangkan Houthi berada di Yaman pada salah satu simpul pelayaran global terpenting di sekitar Laut Merah dan Bab el-Mandeb. Ketika jaringan ini aktif serentak, dunia tidak hanya berbicara soal keamanan Israel atau ambisi Iran, tetapi soal stabilitas energi, asuransi pelayaran, harga logistik, dan inflasi global. Gangguan di Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia—telah berkali-kali menunjukkan bagaimana satu titik konflik dapat mengguncang ekonomi global.
Dari perspektif politik Timur Tengah, dunia Arab sendiri sesungguhnya tidak satu suara terhadap Iran. Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan Bahrain berada di spektrum yang paling keras, melihat Iran dan jaringan proxy-nya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan kawasan. Namun di sisi lain, negara-negara seperti Qatar, Oman, Turki, dan Mesir lebih memilih jalur de-eskalasi, bukan karena mereka pro-Iran, tetapi karena mereka memahami bahwa perang berkepanjangan akan menghancurkan stabilitas ekonomi dan sosial kawasan. Bahkan negara-negara yang selama ini berada dalam orbit pengaruh Iran, seperti Irak dan Suriah pun kini menunjukkan sikap lebih berhati-hati, tidak sepenuhnya siap terseret dalam konflik terbuka.
Dalam kerangka militer, keberadaan proxy membuat perang menjadi sulit diakhiri secara tuntas. Negara bisa menandatangani gencatan senjata, tetapi medan perang tetap hidup melalui aktor-aktor nonnegara. Inilah yang terlihat dalam perang 2026, ketika negosiasi berlangsung di satu sisi, sementara serangan di Lebanon, gangguan di Selat Hormuz, dan ketegangan di Gaza terus berlanjut di sisi lain. Bahkan pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon ikut menjadi korban, menunjukkan bahwa konflik ini telah melampaui batas-batas yang selama ini dianggap aman dalam sistem internasional.
Dari sisi etik, dilema dunia menjadi semakin tajam. Di satu sisi, penggunaan proxy dianggap melanggar prinsip kedaulatan dan memperpanjang penderitaan. Di sisi lain, konflik yang melibatkan Israel dan Palestina tetap memunculkan simpati besar terhadap korban sipil, menciptakan narasi yang tidak selalu sejalan dengan analisis geopolitik. Dunia akhirnya terjebak antara dua realitas: realitas kekuatan dan realitas kemanusiaan.
Baca Juga
Dow Futures Anjlok Lebih 400 Poin Dipicu Eskalasi Baru Konflik AS-Iran
Dari sisi ekonomi, dampaknya sangat nyata. Gangguan energi, lonjakan harga minyak, ketidakpastian pasar, hingga tekanan inflasi global adalah harga yang harus dibayar dunia akibat konflik yang diperluas oleh jaringan proxy. Perang ini tidak lagi milik Timur Tengah; ia telah menjadi beban global yang dirasakan dari Asia hingga Eropa.
Pertanyaannya kemudian menjadi semakin mendasar: apakah damai bisa tercipta selama sistem proxy tetap dipelihara? Jawabannya, setidaknya dalam pengalaman sejarah modern, cenderung pesimistis. Selama aktor nonnegara bersenjata tetap digunakan sebagai alat strategi negara, setiap kesepakatan damai akan selalu rapuh. Satu serangan kecil dapat menggagalkan diplomasi besar. Satu insiden lokal dapat memicu krisis global.
Damai tidak akan lahir dari meja perundingan selama perang masih dijalankan dari bayang-bayang. Dan selama proxy tetap menjadi alat, dunia hanya akan berpindah dari satu krisis ke krisis berikutnya, tanpa pernah benar-benar keluar dari perang. (PD)

