Benarkah Analisis Teknikal Lebih Ampuh Dibandingkan Analisis Fundamental?
JAKARTA, investortrust.id - Di pasar saham ada dua metode yang paling lazim digunakan untuk membedah harga saham, yaitu analisis teknikal dan analisis fundamental. Mana lebih ampuh, analisis teknikal atau analisis fundamental?
Tentu saja kedua metode ini tidak dapat dibanding-bandingkan. Analisis teknikal dan analisis fundamental memiliki tujuan dan metode yang berbeda. Perbedaan analisis teknikal dan analisis fundamental terletak pada objek yang dianalisis, tujuan, dan sumber datanya.
Yang pasti, investor membutuhkan analisis teknikal dan analisis fundamental untuk menentukan keputusan investasinya. Itu sebabnya, kedua metode ini dapat digunakan bersama untuk memperoleh gambaran yang lebih baik tentang situasi atau kondisi pasar.
Analisis Teknikal
Analisis teknikal adalah metode atau teknik analisis yang digunakan untuk mengamati fluktuasi harga saham berdasarkan riwayat atau siklusnya di masa lalu. Alat analisis yang digunakan umumnya terdiri atas indikator teknis dan diagram atau chart.
Baca Juga
Meski Catat ATH Dua Hari Beruntun, IHSG Sepekan Justru Anjlok, Kok Bisa?
Melalui analisis teknikal, investor bisa melihat tren atau pola pergerakan harga saham dan memprediksi harganya. Dengan menggunakan analisis teknikal, investor bisa mengambil posisi jual atau beli (entry point dan exit point). Indikator teknikal bahkan bisa memberikan gambaran tentang psikologis pasar.
Secara umum, ada dua tipe dasar indikator analisis teknikal, yaitu Oscillators dan Overlays.
Oscillators
Oscillators muncul terpisah dari grafik pergerakan harga. Oscillators menjadi bar penentu awal atau akhir dari sebuah tren. Stochastic Oscillator, MACD, dan RSI adalah contoh dasar indikator analisis teknikal.
Berdasarkan indikator Oscillator, investor dapat mengetahui posisi oversold (jenuh jual) dan overbought (jenuh beli) melalui dua garis yang berpotongan. Investor juga dapat mengetahui awal dan akhir dari sebuah tren harga saham.
Overlays
Overlays merupakan indikator dalam bentuk garis yang menunjukkan tren suatu saham naik atau turun. Overlays bisa dilihat di atas atau di bawah candle atau bar. Contoh analisis teknikal dasar Overlays di antaranya Moving Average (MA) dan Bollingers Bands.
Baca Juga
Jenis-Jenis Analisis Teknikal
1. Moving Average Convergence Divergence (MACD)
MACD termasuk indikator yang paling popular di kalangan trader karena indikator ini relatif mudah digunakan untuk menunjukkan kekuatan tren.
MACD terdiri atas dua garis, yakni garis MACD dan garis sinyal. Garis sinyal di atas titik nol mengindikasikan sedang terjadi up-trend. Sedangkan garis berada di bawah titik nol mengindikasikan sedang terjadi down-trend.
Terdapat dua jenis MACD, yaitu Crossover dan Divergence. Crossover adalah seni melihat tren garis MACD dibandingkan garis sinyalnya. Harga saham akan memasuki zona bearish jika garis MACD melintang di bawah garis sinyal. Sedangkan sinyal bullish akan terjadi jika garis MACD melintang di atas garis sinyalnya.
2. Relative Strength Index (RSI)
RSI juga termasuk indikator yang paling banyak digunakan para trader. RSI menunjukkan kondisi jenuh beli (overbought) dan jenuh jual (oversold). Selain itu, RSI bisa mengindikasikan level support dan resistance.
RSI adalah garis acuan berupa angka tengah atau nol, dengan angka standar 30 dan 70. Jika harga menyentuh atau melebihi angka 70 berarti mengindikasikan overbought. Sebaliknya, jika harga menyentuh atau di bawah angka 30, berarti mengindikasikan oversold.
3. Stochastic Oscillator
Stochastic Oscillator adalah indikator untuk mengukur harga relatif saat ini terhadap kisaran harga pada periode tertentu. Stochastic Oscillator meliputi dua garis di angka 0 dan 100.
Garis Stochastic Oscillator umumnya berwarna hijau dan merah. Jika garis hijau berada di atas garis merah berarti tren sedang naik. Jika garis hijau bersimpangan dengan garis merah, berarti tren cenderung turun.
4. On-Balance Volume (OBV)
OBV adalah analisis teknikal yang menggabungkan harga dan volume saham. Dari analisis teknikal ini, investor dapat mengonfirmasi pergerakan harga saham.
Saat OBV naik, berarti volume pembelian melebihi volume penjualan sehingga harga menguat. Saat OBV turun, berarti penjualan melebihi volume pembelian sehingga harga melemah.
5. Average Directional Index (ADX)
ADX adalah indikator untuk mengukur kekuatan dan momentum tren. Analisis ADX menggunakan garis atau angka 20 dan 40.
Baca Juga
IHSG Berpotensi Koreksi Teknikal, Cek Saham KLBF, MDKA, MIDI dan ACES
ADX ditentukan dengan garis berwarna hitam dan berada di tengah-tengah antara angka 20 dan 40. Kekuatan tren sedang menurun jika garis berada di bawah angka 20. Sebaliknya, kekuatan tren meningkat jika garis berada di atas angka 40.
6. Accumulation/Distribution Line
Accumulation/Distribution Line atau garis A/D merupakan indikator untuk menentukan aliran uang masuk dan keluar dari sekuritas. Namun, garis A/D hanya mempertimbangkan saham untuk periode tertentu.
7. Aroon Indicator
Aroon Oscillator digunakan untuk menujukkan kekuatan tren dan akurasi titik masuk atau mengidentifikasi akan dimulainya tren baru. Aroon Oscillator terdiri atas dua garis, yakni Aroon-up (warna hijau) dan Aroon-down (warna merah).
Saat garis Aroon-up memotong bagian atas garis Aroon-down atau sebaliknya, berarti ada peluang perubahan tren. Jika Aroon-down berada di angka 0 dan bersimpangan dengan Aroon-up, itu menunjukkan titik masuk dan tren akan naik. Begitu pula sebaliknya.
Sumber: Investopedia, Buku Rahasia di Balik Harga Saham (Lucky Bayu Purnomo), Buku Rahasia Harga Saham (Hari Prabowo), Buku How to Invest in Stocks & Shares (John White).

