Rupiah Makin Merosot, Kini di Posisi Rp 16.785 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah semakin merosot terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke posisi Rp 16.785 per US$ pada Rabu (7/1/2026). Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR, rupiah melemah 0,14% dibandingkan Selasa (6/1/2026).
Pengamat komoditas dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar menilai bahwa the Fed akan menurunkan suku bunganya pada awal 2026 ini. Ketegangan geopolitik yang terus menerus, membuat kenaikan harga emas secara lebih luas.
“Investor akan mengamati dengan cermat data penggajian non-pertanian untuk Desember yang akan dirilis Jumat, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang suku bunga,” kata Ibrahim, dalam keterangan resminya, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga
Rupiah Terpeleset karena Investor Hati-hati Cermati Data Ekonomi AS
Ibrahim mengatakan kekuatan pasar tenaga kerja merupakan pertimbangan utama bagi the Fed untuk mengubah suku bunga. Akan tetapi, pasar juga mewaspadai efek invasi AS ke Venezuela. Sebab, Caracas menyebut telah setuju untuk memasok 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke AS.
Di Asia, terjadi ketegangan antara Jepang dan China. Masalah itu muncul setelah China membatasi ekspor barang-barang dengan potensi aplikasi militer ke Jepang.
Sementara itu, pemeringkat internasional seperti IMF dan Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 6%. Meski demikian, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6%.
Purbaya ingin agar belanja fiskal dapat digelontorkan lebih cepat di awal tahun. Ini disinkronkan dengan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Selain itu, Purbaya juga berupaya mengembalikan kepercayaan investor. Salah satunya, dengan perbaikan berbagai hambatan investasi melalui Satgas Debottlenecking yang dipimpinnya.
Baca Juga
Rupiah Tergelincir ke Rp 16.768 per US$, Permintaan Aset Aman Meningkat
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro melihat sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp 16.753 hingga 16.785 per US$.
Andry menyebut pergerakan rupiah ini terjadi karena investor cenderung melakukan aksi ambil untung jelang rilis data inflasi dan harga produsen China Desember yang dijadwalkan akhir pekan ini. Data cadangan devisa Hongkong untuk akhir 2025 juga akan diumumkan hari ini.
Aksi ambil untung ini juga membuat indeks saham Asia ditutup bervariasi. Indeks Nikkei naik sebesar 1,1% ke level 51,96, dan indeks Shanghai turun tipis 0,1% ke 4.086.
Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah tenor 10 tahun meningkat 0,6 basis poin menjadi 6,10%. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia denominasi dolar AS tenor 10 tahun tidak berubah di level 4,9%.

