Membuka Tahun dengan Melemah, Rupiah dalam Ancaman Volatilitas Ekonomi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan perdana 2026. Di pasar spot, mata uang Garuda melemah 0,17% di posisi Rp 16.715 per US$.
Berdasarkan pantauan di Bloomberg, index dolar AS atau DXY bergerak melemah ke posisi 98,17. Kondisi ini mempengaruhi tekanan dolar AS ke sejumlah mata uang negara-negara mitra dagang Indonesia.
Dolar AS melemah terhadap yuan China sebesar 0,10%, yen Jepang sebesar 0,09%, ringgit Malaysia sebesar 0,03%, dan dolar Singapura sebesar 0,06%, serta sebesar 0,18% terhadap baht Thailand.
Baca Juga
Dolar AS juga melemah terhadap dua mata uang rujukan yaitu euro Uni Eropa dan poundsterling Britania Raya. Dolar AS melemah 0,13% terhadap euro dan 0,23% terhadap poundsterling.
Salah satu mata uang yang melemah terhadap dolar AS yaitu rupee India. Mata uang negara mitra dagang Indonesia ini melemah 0,17% terhadap dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro melihat pasar menavigasi perekonomian pada 2026 ini diwarnai volatilitas akibat tarif, risiko geopolitik, valuasi yang tinggi, dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS. Risalah rapat the Fed menegaskan adanya perbedaan pandangan mengenai waktu dan besaran penurunan suku bunga pada 2026.
“Namun tetap mempertahankan bias pelonggaran,” kata Andry.
Baca Juga
Perdagangan Terakhir 2025, Rupiah Pagi Ini Berhasil Menguat Melawan Dolar AS
Andry melihat imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bergerak mendekati level terendahnya dalam lebih dari tiga pekan. Ini terjadi karena investor menilai prospek kebijakan dalam risalah rapat the Fed pada Desember 2025.
Federal Open Market Committee atau FOMC menilai penurunan suku bunga kemungkinan terjadi pada 2026 ketika inflasi melandai. Meski demikian, para pembuat kebijakan terbelah ketika melihat risiko karena khawatir inflasi dapat mengakar dan memerlukan kebijakan yang lebih ketat.
Di dalam negeri, PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global turun ke 51,2 pada Desember 2025. Meski turun, indeks manufaktur Indonesia tetap menandai adanya ekspansi dari aktivitas manufaktur selama lima bulan berturut-turut. Pelemahan ini terjadi karena pertumbuhan pesanan baru dan ketenagakerjaan melambat. Di sisi lain, penjualan ekspor menurun untuk empat bulan berturut-turut.
“Tekanan kapasitas masih berlanjut, mendorong kenaikan backlog untuk bulan kedua berturut-turut,” jelas dia.

