Bagikan

TOCO Ogah 'Bakar Duit', Tantang Model Bisnis E-Commerce Indonesia

Poin Penting

TOCO hadir tanpa “bakar duit” dan menolak biaya marketing tinggi yang membebani merchant e-commerce.
Platform hanya mengenakan biaya Rp2.000 ke konsumen dan sudah capai 1 juta pengguna aktif bulanan.
Arnold sebut era baru e-commerce 2026 adalah fase koneksi, fokus pada hubungan langsung brand–konsumen.

JAKARTA, investortrust.id - CEO dan Founder TOCO, Arnold Sebastian Egg, menegaskan pihaknya membawa pendekatan berbeda dalam persaingan e-commerce Indonesia yang dinilainya selama bertahun-tahun terjebak pada promosi besar dan biaya marketing tinggi. Arnold menyebut TOCO hadir tanpa praktik “bakar duit” dan fokus membangun hubungan langsung antara brand dan konsumen.

Arnold menilai ekosistem e-commerce dalam 13 tahun terakhir mengalami distorsi akibat margin tinggi yang dipungut marketplace, mencapai 8–38%. “Itu nggak sehat buat ekonomi. Marketplace sekarang intinya advertising business, bukan e-commerce lagi,” ujarnya dalam Digital Economy and Telco Outlook 2026 yang diselenggarakan Selular Media Network di Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Pria yang sudah menjadi WNI ini menyebut, biaya besar yang dibebankan kepada merchant pada akhirnya memicu inflasi digital karena mendorong harga produk semakin mahal di tingkat konsumen.

TOCO sendiri menerapkan model berbeda dengan tidak mengenakan biaya marketing kepada penjual. Sebagai gantinya, platform ini mengenakan biaya Rp 2.000 kepada konsumen yang ia sebut sebagai “biaya parkir” untuk menutup seluruh layanan transaksi, mulai dari pembayaran hingga logistik. “Dengan Rp 2.000 itu semuanya ditutupi. Kami nggak mau main di biaya marketing,” jelasnya.

Mantan pendiri Tokobagus itu mengungkapkan selama satu tahun berjalan, TOCO tumbuh tanpa mengeluarkan biaya pemasaran. Meski demikian, platform ini sudah mencatat lebih dari satu juta pengguna aktif bulanan. “Pertumbuhannya organik. Kita nggak jualan sama sekali, tapi banyak yang datang karena mereka lagi 'bete' sama platform lain,” ujarnya.

Baca Juga

Menteri UMKM Bakal Panggil Platform E-commerce untuk Atasi Produk Thrifting

Fase ketiga industri e-commerce

Menurutnya, industri e-commerce Indonesia akan memasuki fase ketiga pada 2026, yaitu era koneksi, setelah sebelumnya berada pada era harga dan kenyamanan. Dalam fase baru tersebut, brand yang mampu membangun hubungan langsung dengan konsumen diyakini akan menjadi pemenang. “Hubungan brand dan pembeli itu putus di marketplace. Di TOCO, data dan relasi itu kita berikan kembali ke merchant,” ujarnya.

Arnold menegaskan TOCO didesain sebagai infrastruktur e-commerce, bukan sekadar marketplace. Platform ini menyediakan pembayaran, logistik, website, data, hingga fitur komunitas untuk mendukung pertumbuhan pedagang.

Pria asal Belanda itu percaya, komunitas akan menjadi fondasi penting karena pengalaman jual-beli terbaik justru berlangsung dalam jejaring yang saling percaya. “Di banyak komunitas, hubungan itu lebih penting daripada harganya,” kata Arnold.

Dengan struktur biaya yang rendah dan operasional yang efisien, TOCO pun mulai mengambil posisi berbeda dibanding pemain besar yang mengandalkan promosi. Arnold menyebut kesalahan umum industri adalah memulai dengan biaya tinggi dan kantor mewah sebelum bisnis terbukti. “Mulai sederhana dulu. Kalau sudah besar baru boleh mewah,” tegasnya.

Arnold pun optimistis TOCO dapat menjadi solusi bagi brand yang mencari pertumbuhan berkelanjutan. “Yang kita bangun bukan tembok, tapi jembatan. Marketplace harus bantu merchant membangun hubungan langsung, bukan memutusnya,” pungkasnya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024