Edukasi Finansial Ala Allianz Indonesia: Ringan, Interaktif, dan Bikin Melek Keuangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Suasana FinExpo 2025 di Tunjungan Plaza, Surabaya, Jawa Timur, terlihat riuh dan berwarna. Di antara deretan booth pelaku jasa keuangan yang memamerkan layanan terbaiknya, ada satu area yang tampak selalu ramai, yakni booth Allianz Indonesia.
Bukan karena diskon besar-besaran atau hadiah mencolok, melainkan karena pendekatan yang mereka bawa, yaitu belajar tentang proteksi dan asuransi dengan cara yang ringan, interaktif, dan menyenangkan.
Lewat permainan edukatif, simulasi keuangan, dan sesi konsultasi langsung dengan agen, Allianz Indonesia mengajak pengunjung memahami pentingnya menyiapkan masa depan finansial.
Salah satu fokusnya melalui Asuransi Allianz Future Income, produk perlindungan yang memberikan kepastian pendapatan di masa depan, serta perlindungan bagi keluarga.
Langkah ini menjadi bagian dari dukungan Allianz Indonesia terhadap Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2025, yang digelar oleh Otoritas jasa Keuangan (OJK) dengan tema nasional ‘Inklusi Keuangan untuk Semua, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju’.
Menurut Direktur & Chief People & Culture Officer Allianz Life Indonesia Nina Ashani Hatumena, pendekatan edukatif seperti ini bukan sekadar kegiatan promosi, melainkan strategi untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap asuransi.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa literasi keuangan tidak harus kaku. Saat orang bisa belajar lewat pengalaman menyenangkan, pesan tentang pentingnya perlindungan finansial akan lebih mudah diingat,” ujarnya dalam keterangan media, Kamis (30/10/2025).
Di sisi bersamaan, OJK terus mendorong perluasan akses keuangan bagi masyarakat yang berperan penting dalam mendorong perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan. Sebab, tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat yang semakin tinggi akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah.
“Sektor jasa keuangan memiliki potensi yang mampu melipatgandakan perekonomian, bahkan dapat menjadi beberapa kali lebih besar dari PDRB (produk domestik regional bruto) daerah apabila literasi dan inklusi masyarakat terus meningkat,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, saat membuka Puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2025, Jumat (24/10/2025).
Baca Juga
Allianz: Asuransi Bukan Beban, tapi Solusi Lindungi UMKM dari Risiko Bencana
Dengan penguatan literasi dan perluasan inklusi keuangan masyarakat, maka utilisasi produk keuangan akan semakin produktif, sehingga peran industri jasa keuangan akan semakin besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
”Jadi kami harapkan dengan literasi dan inklusi yang besar menjadi modal dasar kita, sekarang kita bergerak kepada kemanfaatan atau utilisasinya yang lebih tinggi lagi,” ucap Mahendra.
Setali tiga uang, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan, peningkatan literasi dan inklusi keuangan merupakan langkah strategis dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan menegaskan pentingnya prinsip ‘no one left behind’ dalam kemudahan akses keuangan yang setara.
“Dalam setiap program literasi dan inklusi keuangan, tidak boleh ada satupun kelompok masyarakat yang tertinggal, termasuk penyandang disabilitas dan masyarakat di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar),” ujarnya.
Friderica menyatakan, ada tiga hal penting yang bisa mendorong tingkat literasi dan inklusi keuangan di dalam negeri, yaitu edukasi keuangan yang tepat sasaran, inklusi keuangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, serta sinergi dan kolaborasi yang harus terus diperkuat.
Data OJK mencatat, kegiatan BIK 2025 sukses menjangkau 180 desa tertinggal yang tersebar di 73 kabupaten/kota di wilayah 3T. Hal ini mencerminkan komitmen kuat seluruh pihak dalam memperluas jangkauan layanan keuangan formal, serta mendorong kepercayaan publik terhadap sektor jasa keuangan.
Edukasi Finansial yang Berkelanjutan
Kehadiran Allianz di FinExpo bukan upaya sesaat. Dalam satu tahun terakhir, perusahaan mencatat telah menjangkau lebih dari 1 juta masyarakat melalui berbagai program literasi keuangan, baik secara tatap muka maupun daring (dalam jaringan).
Program-program tersebut hadir dengan beragam format, mulai dari pelatihan interaktif hingga webinar yang disesuaikan dengan karakter tiap kelompok masyarakat, mulai dari pelajar hingga pekerja profesional.
“Misi kami sederhana, membantu masyarakat lebih percaya diri dalam mengelola keuangan mereka,” kata Nina.
Literasi dan edukasi finansial yang dilakukan Allianz Indonesia merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam implementasi prinsip environmental, social, and governance (ESG), dan sustainability.
Dengan begitu, perusahaan asuransi ini turut mendukung pencapaian sustainable development goals (SDGs). Melalui upaya ini, Allianz mendorong terwujudnya ekosistem keuangan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat luas.
Hal tersebut juga sejalan dengan komitmen Allianz Indonesia dalam menggenjot literasi dan inklusi mengenai asuransi di masyarakat yang saat ini masih terbilang rendah.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, indeks literasi asuransi nasional masih berada di level 45,45%, jauh di bawah perbankan yang tercatat 65,50%. Bahkan dibanding industri pergadaian dan perusahaan pembiayaan masih kalah dengan masing-masing 54,74% dan 46,66%.
Sementara, tingkat inklusi perasuransian berada di angka 28,50%. Lagi-lagi jauh di bawah perbankan yang berada di angka 70,65%.
Edukasi dan literasi keuangan yang dilakukan Allianz Indonesia secara masif akhirnya berbuah manis. OJK memberi penghargaan di ajang Financial Literacy Award 2025 untuk kategori Pelaku Usaha jasa Keuangan dengan Program Literasi Keuangan Teraktif untuk industri asuransi.
“Penghargaan ini menjadi bukti nyata komitmen Allianz Indonesia dalam mendukung peningkatan literasi keuangan dan asuransi berbasis keberlanjutan,” ujar Ketua Yayasan Allianz Peduli sekaligus Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia Ni Made Daryanti, awal September lalu.
Melihat hiruk-pikuk pengunjung yang berlalu lalang di FinExpo 2025, situasi booth Allianz Indonesia menunjukkan satu hal sederhana namun penting, yakni belajar keuangan tidak harus rumit. Dengan cara yang tepat, literasi bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan dan pada akhirnya menjadi bekal untuk hidup yang lebih tenang dan terlindungi.
Baca Juga
Antisipasi Meningkatnya Potensi Bencana, Allianz Utama Dorong Pentingnya Punya Perlindungan Properti
Asuransi Tak Sekadar Melindungi
Allianz terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki proteksi, dengan menawarkan berbagai pilihan perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan.
Akhir September lalu, Allianz Life Indonesia meluncurkan produk asuransi jiwa dwiguna (endowment) teranyarnya yaitu, Allianz Future Income. Lewat produk baru ini, perusahaan ingin menunjukkan bahwa asuransi tak hanya berfungsi saat risiko datang. Lebih dari itu, bisa menjadi bagian dari strategi keuangan jangka panjang.
Country Manager & Direktur Utama Allianz Life Indonesia Alexander Grenz mengatakan, produk ini tidak hanya memberikan perlindungan dari risiko, tapi juga memastikan rencana keuangan tetap berjalan sesuai jalur.
“Allianz senantiasa memberikan nasabah rasa tenang dengan beragam proteksi untuk masa depan yang lebih terlindungi,” ujarnya, dalam keterangan pers, akhir September 2025.
Dengan manfaat berupa pendapatan berkala di masa depan, produk ini dirancang untuk membantu masyarakat mencapai tujuan finansial dengan lebih pasti. Entah itu untuk menyiapkan dana pendidikan anak, tabungan pensiun, atau cadangan hidup di masa depan.
Sejalan hal tersebut, prospek bisnis dari produk dwiguna sendiri ke depannya diyakini masih cerah, dan semakin digandrungi masyarakat. Ketua Financial Planning Standards Board (FPSB) Indonesia Tri Djoko Santoso melihat adanya pergeseran penjualan produk di sejumlah perusahaan asuransi, dari sebelumnya unit link beralih ke produk tradisional seperti dwiguna.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK Ogi Prastomiyono mengungkapkan, di 2024 unit link masih menyumbang pangsa 28% dari total premi asuransi jiwa. Namun, di pertengahan tahun ini porsinya semakin menyusut.
“Posisi Juli 2025, pendapatan premi dari lini usaha ini (unit link) sebesar Rp 23,45 triliun dengan porsi sekitar 22,67% yang diindikasikan adanya pergeseran kepada produk-produk tradisional, seperti endowment (dwiguna),” katanya, pertengahan September lalu.

