Bagikan

OJK Catat Aset Industri Keuangan Syariah RI Capai Rp 2.973 Triliun

Poin Penting

Per Juni 2025 total aset keuangan syariah mencapai Rp 2.973 triliun, tumbuh 8,21% yoy.
Pertumbuhan ditopang oleh DPK Rp 738 triliun (+6,98% yoy) dan pembiayaan Rp 666 triliun (+8,4% yoy).
Penguatan literasi keuangan syariah, regulasi, dan ekosistem digital diperlukan untuk menjaga momentum.
 
 
JAKARTA, investortrust.id - Kinerja industri jasa keuangan syariah nasional terus menunjukkan kinerja positif. Per Juni 2025, total aset keuangan syariah nasional mencapai Rp 2.973 triliun atau tumbuh 8,21% year on year (yoy).
 
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mirza Adityaswara dalam acara Ijtima’ Sanawi XXI 2025 bertajuk "Penguatan Peran Pengawas Dewan Syariah dalam Mengawal Inovasi Keuangan Syariah Berkelanjutan di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta, Jumat (26/9/2025).
 
“Industri keuangan syariah telah menorehkan kinerja yang cukup baik. Total aset sebesar Rp 2.973 triliun per Juni 2025,” ujar Mirza.
 
Mirza menjelaskan, capaian tersebut membuktikan daya tahan (resiliensi) industri keuangan syariah di tengah tantangan global saat ini. Menurut Mirza, pertumbuhan tersebut juga mencerminkan kepercayaan masyarakat dan investor terhadap layanan dan produk keuangan syariah di Tanah Air.
 
Secara rinci, dari total tersebut, aset perbankan syariah mencatat aset sebesar Rp 967 triliun, pasar modal syariah Rp 1.828 triliun, dan industri keuangan non-bank syariah membukukan aset sebesar Rp 177 triliun.
 
Di sektor perbankan syariah, aset tumbuh 7,8% yoy. Pertumbuhan ini ditopang oleh penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang naik 6,98% menjadi Rp 738 triliun. 
 
“Di perbankan syariah, berdasarkan data statistik perbankan syariah, total aset perbankan syariah yang terdiri dari aset bank umum syariah, unit usaha syariah, dan BPR syariah sebesar Rp 967 triliun, tumbuh Rp 7,8% year on year,” ungkap Mirza.
 
Lebih lanjut, Mirza menyebut, DPK berhasil dihimpun sebesar Rp 738 triliun atau tumbuh Rp 6,98% yoy. Menurutnya, hal ini mencerminkan kepercayaan masyarakat yang semakin kuat terhadap layanan keuangan syariah.
 
Kemudian, pembiayaan syariah juga meningkat 8,4% menjadi Rp 666 triliun. Dari sisi kesehatan, permodalan, profitabilitas, likuiditas, hingga kualitas pembiayaan tetap berada dalam kondisi baik.
 
Lalu, kontribusi terbesar datang dari pasar modal syariah dengan total aset Rp 1.828 triliun, naik 8,4% yoy. Aset ini terdiri dari sukuk negara, sukuk korporasi, dan reksa dana syariah. 
 
Sementara itu, industri keuangan non-bank syariah turut menunjukkan kinerja positif dengan total aset Rp 177 triliun. Sektor ini mencakup perasuransian syariah, dana pensiun syariah, dan lembaga penjaminan syariah yang pertumbuhannya semakin konsisten.
 
Mirza menambahkan, momentum pertumbuhan ini harus dijaga dengan penguatan regulasi, peningkatan literasi keuangan syariah, dan dukungan ekosistem digital. Dengan semakin beragamnya produk dan instrumen keuangan syariah, masyarakat dan investor memiliki ruang lebih luas untuk berpartisipasi. 
 
Di sisi lain, Mirza membeberkan bahwa selain capaian di keuangan syariah, dari sektor pariwisata, Indonesia kini menempati peringkat kelima dunia sebagai destinasi wisata ramah Muslim. Menurutnya, capaian tersebut dapat menjadi motor penggerak baru bagi sektor pariwisata nasional.
 
"Ke depan kami melihat sektor pariwisata ramah Muslim akan menjadi salah satu penggerak utama perekonomian. Potensi ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” kata Mirza.
The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024