Bunga 'Stablecoin' Bisa Picu Dana Kabur dari Bank, Perang Regulasi Kian Memanas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rencana pemberian bunga pada simpanan stablecoin berpotensi mengguncang industri perbankan Amerika Serikat (AS). Citi’s Future of Finance Head Ronit Ghose, memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat memicu arus keluar dana besar-besaran dari bank, mirip dengan ledakan dana pasar uang pada era 1980-an.
Menurut laporan Financial Times, Ghose membandingkan risiko ini dengan lonjakan dana pasar uang yang tumbuh dari sekitar US$ 4 miliar pada 1975 menjadi US$ 235 miliar pada 1982. Pada periode itu, bank-bank kesulitan bersaing karena bunga deposito mereka dibatasi ketat. Data Federal Reserve (The Fed) mencatat, penarikan dari rekening bank bahkan melebihi simpanan baru sebesar US$ 32 miliar antara 1981–1982.
Senada dengan Ghose, Banking and Capital Markets Advisory Leader di PwC Sean Viergutz menilai, stabilitas bank bisa terancam bila konsumen beralih ke stablecoin berbunga.
“Bank mungkin menghadapi biaya pendanaan lebih tinggi dengan mengandalkan pasar wholesale atau harus menaikkan bunga deposito, yang pada akhirnya bisa membuat kredit lebih mahal bagi rumah tangga dan bisnis,” ujarnya, dilansir dari CoinTelegraph, Selasa (26/8/2025).
Baca Juga
Rupiah Stablecoin Seen as Key to Reducing $7.5 Billion Remittance Costs
Sektor perbankan AS kini aktif melobi regulator untuk menutup apa yang mereka sebut sebagai celah hukum. GENIUS Act memang melarang penerbit stablecoin memberikan bunga langsung kepada pemegang, tetapi larangan tersebut tidak berlaku bagi bursa kripto atau entitas afiliasi.
Bank Policy Institute bersama sejumlah asosiasi perbankan lain mendesak regulator memperketat aturan itu. Dalam surat resmi, mereka memperingatkan potensi terjadinya aliran keluar deposito hingga US$ 6,6 triliun dari sistem perbankan, yang dapat mengganggu ketersediaan kredit bagi rumah tangga dan dunia usaha.
Baca Juga
Undang-undang Baru AS Buka Peluang, Bank Raksasa Global Citigroup Masuk Bisnis Stablecoin
Namun, industri kripto menolak keras dorongan bank. Dua organisasi kripto besar menyerukan agar pembuat kebijakan menolak usulan untuk menutup celah regulasi tersebut. Mereka menilai langkah itu justru akan memihak bank tradisional, sekaligus menghambat inovasi dan membatasi pilihan konsumen.
Dukungan terhadap stablecoin justru datang dari pemerintah. Menteri Keuangan AS Scott Bessent, pada Maret lalu menegaskan bahwa pemerintahan Trump melihat stablecoin sebagai instrumen strategis untuk mempertahankan dominasi dolar AS.
“Kami akan memikirkan matang-matang rezim stablecoin, dan sesuai arahan Presiden Trump, kami akan menjaga dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan global, menggunakan stablecoin untuk mewujudkannya,” kata Bessent.

