Asabri Sampaikan Pemerintah Masih Berutang pada Perusahaan Rp 5,17 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Asabri (Persero) mencatat pertumbuhan aset di tahun 2024 sebesar 6,21% menjadi Rp 49,86 triliun, dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 46,94 triliun. Namun, perusahaan masih menghadapi tekanan dari sisi pendapatan dan laba bersih akibat belum diterimanya pelunasan piutang dari pemerintah terkait unfunded past service liability (UPSL) sebesar Rp 5,17 triliun.
Unfunded Past Service Liability (UPSL) adalah kewajiban pembayaran manfaat pensiun yang timbul dari masa kerja peserta sebelumnya yang belum dibayarkan oleh pemerintah sebagai pemberi kerja.
Direktur Utama Asabri Jeffry Haryadi Manullang mengungkapkan, penurunan pendapatan bersih hingga 65,77% dari Rp 7,39 triliun pada 2023 menjadi Rp 2,53 triliun di 2024 terjadi karena pada 2023 perusahaan masih memiliki piutang UPSL tersebut yang hingga kini cair.
“Sampai dengan saat ini, piutang Rp 5,17 triliun yang kami catatkan mulai 2023, belum dapat kami terima dari Kementerian Keuangan. Jika itu bisa kami terima maka akan memperkuat struktur aset dan permodalan kami dengan peningkatan investible fund yang diharapkan dapat meningkatkan hasil investasi,” ujarnya, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/7/2025).
Baca Juga
Tak Maju Pilkada NTT 2024, Fary Francis Ditugaskan Prabowo Kawal Asabri
Menurut Jeffry, laba bersih Asabri juga turun 41,49%, dari Rp 484 miliar pada 2023 menjadi Rp 283 miliar di tahun lalu. Begitupun laba komprehensif turun 68,13% menjadi Rp 163 miliar, dari Rp 150 miliar. Penurunan laba ini juga tidak lepas dari tidak adanya pendapatan dari UPSL sebagaimana di tahun sebelumnya.
“Laba bersih di 2024 Rp 283 miliar, mengalami penurunan dibanding periode yang sama 2023 sebesar Rp 484 miliar. Sementara di 2024 tidak ada pendapatan UPSL, dan UPSL-nya belum kami terima nilai rupiahnya sehingga tidak bisa kami investasikan, tidak bisa kami jadikan sumber dana untuk diinvestasikan,” katanya.
Jika piutang UPSL sebesar Rp 5,17 triliun tersebut cair, akan memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan dana investasi yang bisa dikelola perusahaan.
“Jika itu bisa kami terima maka akan memperkuat struktur aset dan permodalan kami dengan peningkatan investible fund yang diharapkan dapat meningkatkan hasil investasi,” ucap Jeffry.
Sementara itu, kinerja investasi Asabri menunjukkan tren positif. Yield on investment (YoI) meningkat dari 4,03% pada 2023 menjadi 4,94% di 2024, naik 22,48%. Hasil investasi juga naik 31,46%, dari Rp 489 miliar menjadi Rp 642 miliar. Namun, hasil tersebut masih belum cukup untuk menutup tekanan akibat belum cairnya UPSL.
Di sisi bersamaan, ekuitas perusahaan mengalami perbaikan. Dari posisi minus Rp 1,06 triliun pada 2023 menjadi minus Rp 907 miliar di 2024, membaik 15,2%. Ini melanjutkan tren positif dari posisi keuangan Asabri yang sempat mengalami defisit besar di masa lalu.
“Di 2020 itu minus Rp 13 triliun lebih, lalu pada 2023 kami berhasil memperbaiki ekuitas menjadi minus Rp 1,06 triliun, dan kami berhasil menurunkan minusnya menjadi minus Rp 907 miliar. Itu menunjukkan adanya peningkatan kenaikan ekuitas 15,20%,” ujar Jeffry.
Namun dari sisi solvabilitas, terjadi sedikit penurunan dari 125,04% pada 2023 menjadi 120,37% di tahun lalu, atau turun 3,73%.

