Chief Economist Mandiri: Volatilitas Tinggi Berlangsung Hingga 2026
JAKARTA, investortrust.id - Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Andry Asmoro mengingatkan agar perbankan mengantisipasi volatilitas pasar global yang masih tinggi sepanjang tahun 2025 ini. Bahkan kemungkinan besar, volatilitas pasar yang tinggi akan berlangsung hingga tahun depan, yang bisa berdampak terhadap aliran modal dan harga komoditas.
Salah satu pemicu kian tingginya volatilitas perekonomian global adalah imbas dari kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. "Kalau kita sama-sama lihat perbandingan Trump 1.0 ke 2.0, itu terlihat sekali, volatilitasnya sangat tinggi, volatilitas nilai tukar juga sangat tinggi. Kemudian arah suku bunga juga, kalau kita lihat di market, istilah anak sekarang sangat galau," katanya dalam Focus Group Discussion (FGD) “Road To Investortrust Best Bank 2025”, dikutip Senin (16/6/2025).
Menurut Andry, pasar sebelumnya memiliki ekspektasi terkait adanya pemangkasan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) di awal tahun ini. Namun kemudian ekspektasi tersebut meleset sehingga menimbulkan kegamangan di pasar keuangan global.
Ia memproyeksikan kegamangan ini akan berlanjut pada semester kedua tahun ini bahkan tidak menutup kemungkinan hingga tahun depan. Sedangkan untuk tahun 2025 ini Andry mengungkap bakal ada perlambatan ekonomi global.
Dampak berikutnya, perlambatan ekonomi global itu akan memengaruhi aliran modal dan harga komoditas. "Persaingan negara-negara untuk memperbutkan capital flows itu semakin tinggi. Era easy money itu sudah relatif lewat, sekarang itu mayoritas investor akan sangat-sangat picky untuk menempatkan instrumennya ke negara mana," ungkapnya.
Ekonom Bank Mandiri itu menjelaskan, di tengah volatilitas tersebut, para investor akan melihat negara yang memberikan implikasi pertumbuhan yang relatif lebih baik.
"Makanya kalau Pak Presiden (Prabowo) punya target pertumbuhan yang tinggi ya memang relevan sebenarnya. Karena kita lihat juga negara maju, negara berkembang semua berlomba untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi," sambungnya.
Baca Juga
Ekonom Bank Mandiri Sebut Tingginya Yield US Treasury Imbas Risiko Kebijakan Trump
Andry Asmoro menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi kemudian akan berimbas terhadap ekspektasi pertumbuhan kinerja emiten yang juga tinggi. Kinerja emiten yang relatif tinggi bakal memicu ekspektasi terhadap tumbuhnya capital inflows.
Adapun dalam konteks lainnya, ia menyebut volatilitas yang semakin tinggi ini akan berimbas pada melambatnya perekonomian negara-negara adidaya seperti AS dan China. Dengan melambatnya perekonomian kedua mesin ekonomi dua tersebut, secara tidak langsung akan berimbas pada penurunan harga komoditas ekspor utama Indonesia seperti CPO dan batubara.
"Kalau ekspektasi penurunan permintaannya turun, tentu saja bagi perusahaan-perusahaan yang tadinya mendapatkan revenue tinggi, sekarang juga akan slowing down," tuturnya.
Baca Juga
Ekonom Bank Mandiri Ungkap Daya Beli Masyarakat Saat Ini, Turun atau Naik?

