Lanjutkan Tren Pertumbuhan, Begini Jurus Bisnis BSI di 2025
JAKARTA, investortrust.id - Sebagai upaya untuk terus melanjutkan tren pertumbuhan bisnis di 2025, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) akan fokus mendorong sejumlah hal, misalnya transaction banking, optimalisasi dana murah atau current account and saving account (CASA), serta pengembangan bisnis emas dan pembiayaan konsumer.
“Tentunya kita akan terus melanjutkan inisiatif strategis dan fokus utama pada transaction banking. Ini adalah mesin utama dalam mendapatkan funding murah atau low cost fund,” ujar Direktur Utama BSI Hery Gunardi, dalam konferensi pers kinerja 2024 BSI secara daring, Kamis (6/2/2025).
Untuk itu, lanjut dia, BSI akan memperkuat jaringan anjungan tunai mandiri (ATM) yang saat ini mencapai 5.000 unit, meningkatkan jumlah pengguna aplikasi BYOND by BSI, serta memperbanyak merchant QRIS (quick response code Indonesian standard) dan EDC (electronic data capture) di berbagai lokasi strategis.
Baca Juga
BSI Profit Surges 22.83% to $441 million in 2024, Driven by Loan Growth and Fee Income
Bank berkode saham BRIS ini juga tengah menyiapkan platform baru untuk transaction banking wholesale yang ditargetkan akan diluncurkan dalam waktu dekat.
“Kemudian yang kedua adalah unlock the new business model, yaitu kita tumbuh pada produk emas. Kita memiliki potensi besar di emas, kemudian tabungan haji, dan bancassurance,” kata Hery.
Untuk emas, ia menjelaskan, BSI memiliki potensi bisnis yang besar pada lini ini. Tercermin dari pertumbuhan pembiayaan emas yang mencapai Rp 12,8 triliun per Desember 2024, naik hampir 80% secara year on year (yoy).
“Tahun ini kita terus mendorong capability untuk priority banking atau wealth management yang sudah mulai kelihatan mendatangkan bisnis bagi BSI,” ucap Hery.
Selain itu, di tengah ketatnya likuiditas BSI juga akan fokus pada optimalisasi CASA melalui berbagai produk tabungan, seperti tabungan Wadiah, tabungan bisnis, dan tabungan haji. Di mana, porsi tabungan mencapai 42,92% dari total DPK BSI di 2024.
“Untuk tabungan, kami akan menumbuhkan tabungan haji karena sifatnya lebih jangka panjang dan ini adalah wadiah," katanya.
Dari sisi pembiayaan, dikatakan Hery, fokus pihaknya saat ini adalah menggenjot pembiayaan konsumer, terutama juga menggali potensi bisnis baru dari produk pembiayaan berbasis emas, cicil emas, maupun gadai emas. Lalu juga akan fokus di segmen griya dan mitraguna.
Baca Juga
Tumbuh 15,25%, BSI Salurkan Pembiayaan Berkelanjutan Rp 66,50 Triliun di 2024
“Kemudian peningkatan kualitas pembiayaan akan tetap dipertahankan. Artinya, kita menjaga kualitas itu untuk mencegah peningkatan dari sisi biaya CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) kita jaga,” ujar Hery.
“Seperti kita lihat bahwa NPF (non performing finance) gross posisi Desember 2024 sebesar 1,90%, itu cukup rendah, mungkin one of the lowest in the market. Kemudian NPF nett juga telah mencapai angka di bawah 1% yang lebih kecil,” sambung dia.
Sekadar informasi, hingga penghujung 2024 BSI mampu mencetak laba Rp 7 triliun triliun, tumbuh 22,83% dibanding tahun 2023 sebesar Rp 5,70 triliun. Salah satu pendorong kenaikan laba karena pembiayaan yang disalurkan perseroan tumbuh 15,88% (yoy) menjadi Rp 278 triliun di tahun lalu.

