Masih Didominasi Asing, BCA Siap Perbesar Kredit di Sektor Hilirisasi Nikel
LABUAN BAJO, investortrust.id - Hilirisasi nikel berpotensi memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia. Menangkap potensi tersebut PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA selaku bank swasta nasional terbesar menyatakan dukungannya melalui penyaluran pembiayaan.
“BCA mendukung hilirisasi. Pertumbuhannya juga sangat baik dan kami juga merasa hilirisasi itu memberikan value added yang positif dan tentu sebagai perbankan nasional, mungkin khususnya kami swasta, tentu kami melihat bagaimana pertanggung jawaban dari perusahaan tersebut,” kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn di sela-sela kegiatan Bakti BCA di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dikutip Jumat (18/10/2024).
Adapun dalam penyaluran pembiayaan, emiten dengan kode saham BBCA tersebut tentunya akan melihat kelayakannya dan sejauh mana manfaat dari kredit yang akan disalurkannya tersebut. Apalagi menilik kian pesatnya pertumbuhan ekosistem industri mobil listrik (electric vehicle/EV) di Tanah Air.
“Dilihat dari segi lingkungan, kemudian untuk membuka lapangan kerja, tentu efek-efek itu kami pelajari dengan sangat sama-sama. Kami memiliki growth yang menurut kami signifikan. Akhirnya saya harus cek lagi, tapi itu juga merupakan bagian dari kebersamaan kami dengan semangat pemerintah agar memberikan value added bagi ekonomi kita,” ujarnya.
Baca Juga
Hera menambahkan, BCA juga amat terbuka soal peluang penyaluran kredit yang lebih besar ke sektor hilirisasi nikel. “Kami sangat terbuka. Kami sangat terbuka untuk debitur, untuk masyarakat yang memang membutuhkan pembiayaan dari BCA, kita bisa duduk bersama. Dan tentu sepanjang itu memang sesuai dengan kebutuhan, baik itu kebutuhan masyarakat sendiri, ekonomi secara nasional, tentu BCA sebagai perbankan nasional akan masuk ke sana,” ungkap ia.
Sebagai informasi, per Agustus 2024 penyaluran kredit BCA tumbuh sebesar 16% secara tahunan menjadi Rp 843 triliun. Di mana, pertumbuhan total kredit tersebut salah satunya ditopang oleh penyaluran kredit ke sektor hilirisasi sumber daya mineral, utamanya pada sektor yang tengah menjadi fokus pemerintah.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa 85% industri penghiliran atau hilirisasi nikel di dalam negeri masih dikuasai oleh asing. Hal ini berkaitan dengan perbankan luar negeri yang lebih berminat untuk mendanai proyek hilirisasi nikel di Indonesia dibandingkan dengan perbankan dalam negeri.
Baca Juga
Pembiayaan Hijau BCA Capai Rp 200 Triliunan, Potensinya Kian Menggiurkan
Namun, Bahlil mengatakan, pemerintah tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi kedaulatan bank dalam negeri untuk membiayai industri hilirisasi.
“Untuk industrinya, itu saya jujur mengatakan dikuasai 85% oleh asing. Andaikan pun ada (bank dalam negeri), equity-nya besar 30%-40%. Pertanyaan saya, pengusaha siapa yang punya uang 30%-40% untuk menjadi equity? Andaikan pun ada, pengusahanya itu lagi, itu lagi, itu lagi. Kalau tidak bapaknya, anaknya, kalau tidak anaknya, cucunya, kalau tidak keponakannya. Nah, kita kan tidak mau seperti ini,” ujar Bahlil baru-baru ini.

