Bank Danamon Bukukan Laba Rp 1,5 Triliun di Semester I 2024
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) atau Danamon membukukan laba bersih setelah pajak atau NPAT sebesar Rp 1,5 triliun pada semester I 2024. Laba tersebut merosot 4,45% year on year (yoy) atau dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 1,57 triliun.
Hal itu disampaikan Direktur Keuangan Danamon Muljono Tjandra dalam acara Konferensi Pers Virtual Paparan Kinerja Semester Pertama Tahun 2024 PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Selasa (30/7/2024).
Muljono menjelaskan, pada paruh pertama tahun 2024, Danamon juga mencatatkan pre-provision operating profit atau PPOP yang meningkat sebesar 10% year on year (yoy) menjadi Rp 4,3 triliun, dengan pendapatan operasional yang mengalami kenaikan sebesar 8% yoy atau sebesar Rp 9,4 triliun.
"Yang didukung oleh pendapatan bunga bersih yang naik 5% yoy sejalan dengan pertumbuhan kredit pada semester I 2024. Selain itu, fee based income naik 21%," ujar Muljono.
Lebih lanjut, Muljono menyebut, dalam portofolio pinjaman, total kredit dan trade finance bertumbuh sebesar 14% yoy atau mencapai Rp 183,9 triliun. Di mana, pertumbuhan tersebut ditopang oleh semua lini bisnis Danamon.
Secara rinci, segmen enterprise banking dan financial institution yang biasa dinamakan EBFI tumbuh sekitar 12% yoy atau mencapai Rp 82,7 triliun. Kemudian, kredit konsumer menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan membukukan kenaikan portofolio sebesar 32% yoy.
Lalu, segmen kredit usaha kecil menengah (UKM) tumbuh 9% yoy dan kredit pembiayaan dari Adira Finance, anak perusahaan Danamon tumbuh sebesar 15% yoy mencapai Rp 58,4 triliun.
Sedangkan dari sisi pendanaan, hingga akhir semester I 2024 ini, Danamon juga mencatat pertumbuhan total dana pihak ketiga (DPK) sebesar 15% yoy mencapai Rp 146,1 triliun dan granular funding tumbuh sebesar 10% yoy.
Selain itu, Danamon juga berhasil mempertahankan kualitas aset yang sehat, yang tercermin pada beberapa indikator kunci, meliputi rasio kecukupan pencadangan non performing loan (NPL) yang semakin kuat mencapai 263,2% dari sekitar 259,9% pada tahun sebelumnya.
"Serta rasio gross NPL konsolidasi membaik dan terkoreksi sebesar 10 bps yoy menjadi 2,2%," ungkap Muljono.

