Kredit Korporasi Melonjak 18,45%, Sektor UMKM Tumbuh 7,3%
BATAM, investortrust.id – Daya pemulihan pelaku bisnis di Indonesia berbeda-beda setelah pandemi Covid-19. Sektor korporasi terbukti lebih cepat pulih, sementara sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) cenderung ada lagging time. Alhasil, kredit sektor korporasi tumbuh cukup kencang mencapai 18,45%, sedangkan kredit UMKM bertumbuh 7,3% pada April 2024.
“Pertumbuhan kredit korporasi yang tinggi menunjukkan sinyal positif bahwa minat investasi mulai meningkat pascapemilu,” kata Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mirza Adityaswara dalam forum group discussion bertema “Perkembangan Sektor Jasa Keuangan Terkini dan Kebijakan OJK dalam Menjaga Stabilitas Sektor Keuangan” di Batam, Sabtu (8/6/2024).
Mirza menjelaskan, secara rata-rata, pertumbuhan kredit perbankan pada April 2024 mencapai 13,09% dibanding periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Dia melihat bahwa usai Pemilu, pelaku bisnis korporasi mulai investasi dan mengeluarkan belanja modal, termasuk pembelian barang. Pelaku bisnis yang sebelumnya bersikap wait and see kini sudah mulai ekspansi.
Mirsa menyatakan, perbaikan fungsi intermediasi perbankan terjadi pada April 2024 dibanding pertumbuhan kredit pada Maret 2024 yang hanya 12,4 (yoy). Secara nominal, kredit perbankan pada April 2024 mencapai Rp 66,05 triliun atau naik 0,91% secara bulanan (month to month/mtm).
Rinciannya, kredit modal kerja meningkat 13,25 (yoy) atau bertambah Rp 45,88 triliun selama April. Sedangkan jika dilihat secara sektoral, dua sektor yang menikmati pertumbuhan tertinggi adalah sektor pertambangan dan transportasi yang masing-masing sebesar 10,67% dan 10,44%.
Disparitas Pemulihan
Henry Rialdi, Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan SJK Terintegrasi menambahkan, disparitas pemulihan sektor bisnis terjadi karena lingkungan suku bunga tinggi memengaruhi pola kredit. Dalam kondisi seperti sekarang, sektor korporasi memilih untuk meminjam dana perbankan yang relatif lebih murah dibanding menerbitkan obligasi untuk ekspansi bisnis.
Selain itu, lingkungan suku bunga tinggi juga menyebabkan trade-off dalam setiap kebijakan atau instrumen yang dikeluarkan otoritas. Dia menyebutkan, ketika otoritas berupaya mendorong kredit perbankan, di sisi lain ada sejumlah instrumen yang menawarkan yield menarik sehingga dana bank pun tertarik ke instrumen tersebut. “Karena itu jangan harap kredit secara nasional bertumbuh hingga 15-16% per tahun. Tapi konsekuensi dan shifting seperti itu sudah kita sadari dan dibahas di KSSK (Komite Stabilitas Sektor Keuangan),” kata Henry.
Lebih lanjut Mirza menyatakan, secara umum kondisi perbankan hingga April cukup solid dan resilien dengan berbagai indikator kesehatan yang baik. Sebagai gambaran, margin bunga bersih (NIM) perbankan tercatat sebesar 4,56% serta return on asset (ROA) sebesar 2,51%. “ROA di atas 2% itu luar biasa. Bank-bank di negara lain umumnya ROA di bawah 2%. Itulah mengapa perbankan Indonesia sangat menarik dan tetap diincar asing,” tegas Mirza.
Sedangkan kredit bermasalah (NPL) masih terjaga dengan NPL gross sebesar 2,33% dan NPL net 0,81% per April. Loan at risk (LAR) relatif masih tinggi sekitar 11,04% dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 25,62%, jauh di atas batas bawah 10%.
Kredit restrukturisasi masih tersisa sekitar Rp 207 triliun yang tersebar di 830 ribu nasabah. “Kredit restrukturisasi tersebut sudah jauh menurun dibanding puncak saat Covid sebesar Rp 830 triliun,” kata Mirza.
Mirza menyebut pula bahwa perekonomian global tahun ini masih dibayangi ketidakpastian. Likuiditas di pasar keuangan global masih ketat karena suku bunga tinggi sebagai dampak higher for longer yang diterapkan Bank Sentral Amerika (The Fed), sehingga potensi turbulensi masih ada.
“Pertumbuhan ekonomi global cenderung sideways dengan divergensi yang tinggi, dibayangi inflasi di AS yang persisten, risiko stagflasi di Eropa, dan perlambatan ekonomi China,” lanjut Mirza.
Baca Juga

