Kadin Nilai Patriot Bond Danantara Jadi Momentum Perkuat 'Green Business'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rencana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) merilis bond atau surat utang bernama Patriot Bond disambut positif oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Skema pembiayaan ini dinilai dapat mempercepat pengembangan proyek hijau, khususnya waste to energy yang relevan dengan agenda transisi energi nasional.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan, Shinta Kamdani, menegaskan penerbitan obligasi tersebut bersifat sukarela bagi pengusaha. Namun ia menilai proyek waste to energy yang akan dibiayai merupakan bentuk green business yang sangat strategis untuk Indonesia.
“Pemerintah sudah menawarkan Patriot Bond kepada banyak pengusaha dan kita melihat efek-efeknya seperti apa. Proyek ini sebenarnya proyek besar dan bagus karena berbasis waste to energy, jadi harapan kami ada yang bakal berpartisipasi,” ujar Shinta di Menara Kadin Jakarta, Rabu (27/8/2025).
Menurutnya, keterlibatan dunia usaha dalam obligasi ini dapat mempercepat realisasi proyek energi terbarukan di dalam negeri. Investasi hijau kini tidak lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan untuk menjaga daya saing produk Indonesia di pasar global.
“Ini sudah bukan pilihan karena konsumen luar negeri sekarang banyak yang mengharapkan green products. Kalau kita mau ekspor, maka produksinya harus menggunakan energi dari energi terbarukan,” jelas Shinta.
Ketua APINDO itu mencontohkan industri tekstil dan produk tekstil yang saat ini diwajibkan menggunakan sumber energi terbarukan dalam proses produksinya. Apabila tidak memenuhi standar, maka produk dalam negeri akan kesulitan masuk pasar ekspor yang semakin ketat.
Baca Juga
“Sekarang penyelarasannya kepada standar ESG itu bukan lagi pilihan, tapi sudah menjadi tuntutan pasar. Kalau kita mau menjual produk ke luar negeri, memang itu menjadi pengharapan konsumen,” tegasnya.
Ia menambahkan, tren global yang menuntut praktik bisnis berkelanjutan membuat transformasi ke arah industri hijau semakin mendesak. Indonesia, kata Shinta, tidak boleh tertinggal dalam perubahan rantai pasok internasional yang semakin berbasis lingkungan.
“Bagaimanapun juga sekarang (industri hijau) itu bukan pilihan dari produsen saja, tapi juga sudah pilihan daripada demand konsumen. Jadi, kalau kita mau tetap kompetitif, kita harus beradaptasi dengan standar tersebut,” ujarnya.
Dengan adanya Patriot Bond, Shinta pun menilai Danantara memberikan alternatif pendanaan yang dapat menarik minat pelaku usaha untuk masuk ke sektor energi hijau. Kadin pun berharap semakin banyak pengusaha yang terlibat agar Indonesia dapat memperkuat posisinya dalam transisi energi global.

