Kerusakan Ekosistem Terancam, Laut Indonesia Dikepung 20 Juta Ton Sampah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyampaikan bahwa Indonesia saat ini menempati peringkat kelima sebagai negara penyumbang sampah terbesar ke laut. Direktur Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP, Ahmad Aris, menjelaskan bahwa sebagian besar sampah laut berasal dari daratan.
Dalam paparannya pada media gathering KKP di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (1/8/2025), Aris mengungkapkan bahwa volume sampah dari darat mencapai sekitar 16 juta ton per tahun, sementara sampah yang berasal dari aktivitas di laut mencakup sekitar 20% dari total volume, yakni sekitar 4 juta ton. "Jadi, ada kurang lebih 20 juta ton sampah laut yang harus ditangani per tahun," ujarnya.
Menurut Aris, jenis sampah yang masuk ke laut umumnya terbagi menjadi dua, yakni sampah organik dan sampah plastik. Keduanya memberikan dampak serius terhadap pencemaran laut, termasuk proses eutrofikasi atau peningkatan kandungan nutrien yang menyebabkan matinya plankton.
Baca Juga
Gunung Sampah 33,8 Juta Ton Jadi Solusi Energi, Ini Strategi Pemerintah
“Sampah plastik ini juga menyebabkan biota terkena mikroplastik, yang membahayakan ikan-ikan yang kita konsumsi,” lanjutnya.
Ia menambahkan, mikroplastik memiliki dampak berbahaya tidak hanya bagi manusia yang mengonsumsi ikan, tetapi juga bagi keberlangsungan ekosistem laut secara menyeluruh. Sampah plastik yang tertimbun di laut dapat merusak ekosistem pesisir, seperti terumbu karang dan lamun.
Aris juga menyoroti meningkatnya kasus biota laut mati dan terdampar, seperti hiu hingga paus, yang diduga mengonsumsi sampah plastik. Menurutnya, kerusakan ekosistem pesisir akan berdampak langsung pada kelestarian sumber daya perikanan nasional.
"Jika ekosistem rusak atau hancur, maka sumber daya perikanan kita tidak akan berkelanjutan. Begitu pula dengan aktivitas wisata bahari yang bergantung pada kelestarian laut," tegasnya.

