ESDM Sudah Bicara dengan Kementan soal Bahan Baku Biodiesel
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengaku sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) terkait penyediaan bahan baku pembuatan biodiesel, yaitu minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan, pemerintah sedang berupaya memenuhi ketersediaan energi nasional, salah satunya bisa dicapai dengan menggunakan substitusi dari energi. Maka dari itu, pemerintah pun mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), yang salah satunya adalah biodiesel.
"Untuk ketersediaan energi ke depan, itu tidak hanya berasal dari energi fosil, tapi kita juga akan memakai EBT, termasuk yang berasal dari bahan bakar nabati, itu berupa biosolar, bioetanol, dan biodiesel," ujar Yuliot dalam keterangannya, Kamis (31/10/2024).
Baca Juga
Kendati demikian, pengembangan biodiesel ini sempat menuai polemik. Pasalnya, CPO yang merupakan salah satu bahan baku pembuatan biodiesel juga dibutuhkan untuk sektor pangan.
Sebagai contoh adalah B40 yang merupakan biodiesel yang mengandung fatty acid methyl ester (FAME) minyak kelapa sawit sebesar 40% dalam komposisi BBM solar. Maka dari itu, koordinasi di antara stakeholder sangat diperlukan untuk menjaga ketersediaan bahan baku di sektor energi dan pangan.
“Kita juga sudah rapatkan dengan stakeholder, kalau untuk biodiesel ini kan berasal dari sektor pertanian. Dan hal ini sudah dikonsolidasikan dengan Kementerian Pertanian," jelas Yuliot.
Baca Juga
Gapki Ungkap Tantangan Pemerintahan Prabowo Kembangkan B50 hingga B100
Yuliot menyebut, pemerintah akan meningkatkan pemanfaatan biodiesel hingga B100, di mana sejak Agustus 2023 lalu, program mandatori biodiesel B35 sudah diluncurkan, dengan pencampuran 35% minyak sawit ke dalam solar.
"Pemerintah juga menargetkan B100, yang sekarang sudah itu B35 yang akan ditingkatkan ke B40, B50, B60, sampai dengan B100 ke depan," ungkap dia.
Dengan demikian, jika pemerintah ingin mengembangkan biodiesel ke level yang lebih tinggi maka tentunya akan membutuhkan pasokan minyak sawit mentah yang lebih banyak lagi.

