ESDM Ungkap Hanya Ada 2 BU Produsen Bioetanol yang Penuhi Kriteria sebagai Fuel Grade
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah tengah mendorong penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, yaitu bahan bakar nabati (BBN) yang salah satunya menggunakan campuran bioetanol. Namun, pengimplementasian hal ini ternyata menemui sejumlah kendala.
Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi mengungkapkan, salah satu kendala yang muncul adalah masih sedikitnya industri bioetanol yang memenuhi kriteria sebagai fuel grade.
Dari 13 badan usaha (BU) produsen bioetanol, saat ini baru dua yang mampu memproduksi memenuhi fuel grade etanol dengan kapasitas 40.000 kiloliter/tahun.
“Nah ini kita ingin akselerasi industri juga, dari 13 industri bioetanol yang ada, hanya dua yang memenuhi kriteria untuk bisa masuk sebagai fuel grade, yang lain adalah food grade,” ujar Eniya dalam acara Green Economy Expo yang diselenggarakan Bappenas, Kamis (4/7/2024).
Baca Juga
Pemerintah Ungkap Hasil Uji Teknis dan Uji Jalan Bioetanol untuk BBN
Penggunaan bioetanol sebagai campuran bahan bakar kendaraan disebut Eniya bakal memberikan dampak besar terhadap pengurangan emisi karbon. Maka dari itu, pemerintah akan mencoba untuk mengakselerasi program ini.
“Bioetanol ini potensinya luar biasa. Bensin yang kita pakai, itu jauh lebih besar emisinya jumlahnya secara total daripada solar. Jadi dekarbonisasi itu harusnya ada di sisi bensin ini loh penggunaannya, dan ini satu-satunya yang masuk bioetanol,” jelas dia.
Program penggunaan bioetanol ini sendiri dikatakan Eniya sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi belum diterapkan secara optimal. Maka dari itu Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang merevisi Permen ESDM No. 32 Tahun 2008 yang mengatur tentang roadmap dan tataniaga bioetanol, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku dalam negeri, kesiapan infrastruktur, dan perlakuan yang sama terhadap seluruh BU BBM.
“Dari dulu program bioetanol ini sudah ada. Regulasi di Kementerian ESDM sudah banyak, bahkan sampai 2025 harusnya kita sudah capai 20% bioetanol, tetapi sama sekali sampai sekarang nol,” ungkap Eniya.
Baca Juga
Bioetanol Mau Gantikan Pertalite? Ini Respons Pengamat Energi
Dalam usulan update roadmap bioetanol diusulkan tahapan percampuran 5% pada tahun 2024 dan meningkat menjadi 10% pada tahun 2029.
Tercatat, sejak Juli 2023 telah dilakukan market trial produk Pertamax Green 95, yang merupakan bahan bakar campuran RON 92, RON 98, dan 5% bioetanol yang menunjukkan respons pasar cukup positif. Sampai Mei 2024 Pertamax Green 95 sudah dijual di 75 SPBU di Surabaya dan Jakarta.

