Emas Bangkit ke US$ 5.120 karena Pelemahan Dolar dan Konfik Timur Tengah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia naik pada Rabu (5/3/2026) karena eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong permintaan aset safe haven, sementara pelemahan dolar AS membuat logam mulia lebih terjangkau bagi investor global dan membuka peluang menuju rekor tertinggi baru.
Kenaikan terjadi setelah harga emas sempat anjlok lebih dari 4% sehari sebelumnya.
Harga emas spot menguat 0,7% menjadi US$ 5.120,71 per ons, sedangkan kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup 0,2% lebih tinggi di US$ 5.134,70.
Analis menilai kombinasi faktor geopolitik dan pergerakan mata uang menjadi pendorong utama reli tersebut. Wakil Presiden sekaligus Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals Peter Grant mengatakan pelemahan dolar memberikan dukungan tambahan bagi harga emas.
“Dolar telah mengalami penurunan, yang memberikan dukungan. Secara keseluruhan, faktor-faktor makro-fundamental tetap mendukung emas. Tentu saja, selama perang dengan Iran masih berlangsung, hal itu juga akan tetap mendukung,” kata Grant.
Baca Juga
Harga Antam (ANTM) Terkoreksi Saat Emas Dunia Bersinar di Tengah Konflik AS-Iran
Ia memperingatkan volatilitas berpotensi berlanjut di tengah ketidakpastian global. “Ada risiko bahwa volatilitas akan berlanjut. Namun, saya tetap optimistis dan berpikir kita akan melihat rekor tertinggi baru sepanjang masa,” ujarnya.
Dolar AS melemah setelah menguat tajam pada sesi sebelumnya. Pelemahan mata uang tersebut membuat harga emas dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain sehingga meningkatkan permintaan.
Ketegangan Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah laporan penenggelaman kapal perang Iran oleh kapal selam AS di lepas pantai Sri Lanka yang menewaskan sedikitnya 80 orang. Situasi semakin memanas ketika sistem pertahanan udara NATO dilaporkan menghancurkan rudal balistik Iran yang ditembakkan ke arah Turki. Eskalasi tersebut meningkatkan minat terhadap emas yang dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian dan inflasi.
Ekonomi AS
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati data ekonomi Amerika Serikat. Laporan ketenagakerjaan nasional Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan jumlah pekerja swasta bertambah lebih tinggi dari perkiraan pada Februari, meski angka bulan sebelumnya direvisi turun signifikan.
Investor kini menunggu rilis laporan ketenagakerjaan resmi pemerintah Amerika Serikat pada Jumat (7/3/2026). Survei ekonom Reuters memperkirakan penambahan pekerjaan sektor non-pertanian sebesar 59.000 pada Februari, setelah naik 130.000 pada Januari. Data tersebut dinilai krusial untuk membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve yang berpengaruh terhadap pergerakan emas.
Baca Juga
30 Bulan Berturut-turut Emas Perhiasan Bayangi Inflasi Indonesia
Emas cenderung lebih diminati ketika suku bunga rendah karena tidak memberikan imbal hasil, sehingga biaya peluang memegang emas menjadi lebih kecil dibandingkan instrumen berbunga.
Kenaikan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot naik 1,3% menjadi US$ 83,07 per ons setelah merosot lebih dari 8% pada sesi sebelumnya. Harga platinum melonjak 2,8% ke level US$ 2.141,71 per ons, sementara palladium menguat 1,2% menjadi US$ 1.667,51 per ons.
Dewan Investasi Platinum Dunia atau World Platinum Investment Council menyatakan pasar platinum global menuju defisit tahunan keempat berturut-turut pada 2026. Kondisi defisit tersebut berpotensi menopang harga platinum dalam jangka menengah apabila permintaan tetap solid.

