Investor Jepang Kepincut Hunian Tapak di Tangerang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pengembang asal Jepang dilaporkan tengah menjajaki peluang investasi hunian tapak di wilayah Tangerang. Hal itu diungkapkan Senior Director of Capital Markets JLL Indonesia, Herully Suherman dalam media briefing di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
“Kalau dari Desember (2025), sekarang sekitar 2-3 investor, dari Jepang masih melihat opportunity untuk mengembangkan perumahan. Untuk daerahnya mereka melihat Tangerang,” kata Herully.
Herully menambahkan, pengembang asing umumnya membawa nilai tambah berupa perencanaan kawasan (master plan), desain, serta kekuatan merek. “Nilai lebih pengembang luar negeri dan global itu biasanya yang dibawa adalah master plan, desain, dan branding,” ujar dia.
Ia menyebut, kehadiran pengembang asing dengan reputasi global dinilai mampu meningkatkan kepercayaan pasar. “Jadi pada saat mereka berjualan dengan global developer, itu foreign developer atau investor biasanya membuat branding yang cukup memberikan confidence untuk market, untuk bisa membeli suatu produk itu sendiri,” ucam Herully.
Dari sisi segmen pasar, investor Jepang disebut mulai membidik kelas menengah hingga menengah atas, termasuk rumah dengan harga kisaran Rp 2 miliar ke bawah.
“Ya, sudah mulai masuk ke situ. Mereka melihat market dan kita juga mengikuti di market mana yang kira-kira masih ada demand untuk menjual (hunian tapak) di menengah ke atas. Jadi mereka sudah lebih teredukasi dengan demand market di Indonesia terutama di Bodetabek,” tandas Herully.
Baca Juga
PP Properti (PPRO) Apresiasi Pelanggan, Dua Konsumen Raih Hadiah Mobil Listrik BYD
Lebih lanjut, Herully menilai pengembangan infrastruktur transportasi menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan lokasi investasi dari Negeri Sakura itu, termasuk rencana pengembangan MRT Jakarta lintas Timur–Barat trase Kembangan–Balaraja.
“Betul, pengembangan transportasi dari pemerintah sangat cukup menjadi key point dari waktu mereka mau menentukan di mana mereka akan mengembangkan,” tegas Herully.
Menurutnya, selain mempertimbangkan harga tanah, investor juga melihat integrasi moda transportasi, seperti kereta rel listrik (KRL), light rail transit (LRT), dan mass rapid transit (MRT) sebagai faktor pendukung penjualan produk akhir.
“Betul, itu salah satu kunci yang sekarang yang kita advise. Jadi mereka melihat peluang-peluang ini selain tanah itu sendiri, tetapi moda transportasinya bagaimana. Itu akan bagus untuk penjualan end product mereka,” kata Herully.
Berdasarkan catatan Investortrust.id, PT MRT Jakarta (Perseroda) menjajaki kerja sama pengembangan kawasan terintegrasi di sepanjang jalur MRT East–West (Timur-Barat) Fase 2 Rute Kembangan–Balaraja bersama tujuh pengembang swasta. Penjajakan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang berlangsung di Balai Kota Provinsi Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Adapun tujuh pengembang yang terlibat dalam kerja sama tersebut, yakni PT Serpong Cipta Kreasi (Summarecon Serpong), PT Alam Sutra Realty Tbk (ASRI), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Paramount Enterprise International (Paramount Land), PT Serpong Cipta Cahaya (Summarecon Tangerang), PT Sinar Puspapersada (PT Intiland Development Tbk), serta PT Metropolitan Karyadeka Development (MKD).
Baca Juga
Ciputra Group Jalin Sinergi dengan Perbankan Jaga Momentum Pertumbuhan Sektor Properti
Gubernur Jakarta, Pramono Anung menyampaikan, nota kesepahaman tersebut mencakup pengembangan MRT Lintas Timur–Barat rute Kembangan–Balaraja antara PT MRT Jakarta (Perseroda) dan para pengembang di sekitar trase yang akan dikembangkan.
Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, kerja sama ini diharapkan dapat memperluas manfaat pembangunan transportasi massal bagi masyarakat Banten.

