Harga Minyak Naik Lagi, Selat Hormuz Jadi Sorotan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak dunia menguat lebih 1% pada Senin (9/2/2026) setelah otoritas transportasi Amerika Serikat (AS) memperingatkan kapal berbendera negaranya untuk menjauhi wilayah Iran saat melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman, sehingga memicu kembali kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Badan Administrasi Maritim Departemen Perhubungan Amerika Serikat (Marad) menyampaikan imbauan tersebut menyusul meningkatnya risiko keamanan di jalur pelayaran strategis itu, termasuk insiden terbaru pada 3 Februari. Lembaga pemerintah ini meminta kapal berbendera AS berlayar lebih dekat ke Oman saat menuju arah timur di Selat Hormuz.
Harga minyak mentah berjangka Brent naik US$ 0.99 menjadi US$ 69.04 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) acuan AS menguat US$ 0.81 ke level US$ 64.36 per barel pada penutupan perdagangan.
Kenaikan harga terjadi setelah peringatan itu kembali menyoroti potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Sekitar 1/5 konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Oman dan Iran. “Risiko Iran tidak dapat sepenuhnya diredam selama kapal perang AS berada di lokasi mereka saat ini,” kata analis SEB, Bjarne Schieldrop dilansir CNBC.
Baca Juga
Harga minyak sempat melemah pada awal sesi perdagangan, memperpanjang penurunan pekan sebelumnya setelah Amerika Serikat dan Iran berjanji melanjutkan pembicaraan tidak langsung. Kedua pihak sebelumnya menggambarkan diskusi awal sebagai positif.
Namun, situasi kembali memanas setelah pada Sabtu (7/2/2026) menteri luar negeri Iran menyatakan negaranya akan menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah jika negaranya diusik. Pernyataan tersebut muncul di tengah peningkatan kehadiran angkatan laut AS di kawasan dalam beberapa pekan terakhir.
“Sangat sulit untuk menilai bagaimana perkembangannya. Kita mengamati dari hari ke hari, sekarang menunggu tanggal yang pasti untuk putaran kedua pembicaraan,” kata analis minyak UBS, Giovanni Staunovo.
Investor juga memantau kebijakan Barat untuk menekan pendapatan Rusia dari ekspor minyak yang digunakan mendanai perang di Ukraina. Komisi Eropa mengusulkan larangan menyeluruh terhadap layanan yang mendukung ekspor minyak mentah Rusia melalui jalur laut.
Perubahan permintaan global
Sumber industri menyebutkan kilang-kilang di India, yang sebelumnya menjadi pembeli terbesar minyak mentah Rusia, menghindari pembelian untuk pengiriman April. Perubahan ini berpotensi memengaruhi aliran perdagangan energi global.
Jika India sepenuhnya menghentikan pembelian minyak dari Rusia, “ini akan menjadi perkembangan positif yang berkelanjutan,” kata analis pasar minyak Sparta.
Baca Juga
Pertamina Sangsanga Temukan Minyak 520 Bph di Area Sumur Lama Kutai Kartanegara
Sementara itu, produksi di Kazakhstan juga menjadi perhatian pasar. Ladang minyak Tengiz yang dipimpin Chevron dilaporkan telah pulih hingga sekitar 60% dari kapasitas puncak dan menargetkan produksi penuh pada 23 Februari.
Pemulihan produksi dari proyek energi besar tersebut berpotensi menambah pasokan global di tengah ketidakpastian geopolitik, sehingga pergerakan harga minyak dalam waktu dekat masih sangat dipengaruhi dinamika keamanan kawasan dan kebijakan energi negara-negara besar.

