Bagikan

Pos Indonesia Layak Jadi Induk Holding Logistik Nasional, Ini Alasannya

Poin Penting

PT Pos Indonesia memiliki jaringan distribusi terluas nasional (4.800+ titik layanan) yang menjadi aset strategis untuk memimpin konsolidasi logistik.
Transformasi bisnis PT Pos dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kesiapan memimpin holding, termasuk peluncuran layanan kargo internasional.
Ekuitas merek dan kepercayaan publik PT Pos yang kuat menjadi modal penting untuk membangun holding logistik nasional yang kredibel.

JAKARTA, investortrust.id - Keputusan Danantara menempatkan PT Pos Indonesia (Persero) sebagai induk Holding Logistik Nasional merupakan langkah strategis yang rasional dan tepat waktu. Setidaknya ada tiga alasan mengapa Pos Indonesia layak menjadi induk Holding Logistik Nasional.

"Langkah Danantara membentuk Holding Logistik Nasional dengan PT Pos Indonesia sebagai induk adalah keputusan yang sangat strategis dan tepat waktu,” kata pengamat ekonomi makro, Piter Abdullah di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Piter merespons pernyataan Kepala Badan Pengaturan BUMN yang juga Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria kepada media massa mengenai rencana konsolidasi BUMN sektor logistik dengan PT Pos Indonesia sebagai entitas induk.

Selama ini, menurut Piter Abdullah, BUMN logistik beroperasi secara terpisah dan kurang terkoordinasi. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka saling berkompetisi di segmen pasar yang sama.

Baca Juga

Pos Indonesia Buka Layanan Kargo Internasional, Permudah Kiriman Pekerja Migran Indonesia, Haji, dan Umrah

"BUMN logistik kita berjalan sendiri-sendiri, overlap dalam coverage, bahkan berkompetisi satu sama lain. Ini jelas tidak efisien. Konsolidasi adalah keniscayaan jika kita ingin punya national champion yang bisa bersaing dengan pemain global seperti DHL," ujar Piter.

Direktur Program dan Kebijakan Center for Policy Studies Prasasti itu memaparkan tiga alasan mengapa pemilihan PT Pos Indonesia sebagai induk Holding Logistik Nasional merupakan keputusan yang rasional dari perspektif manajemen strategis.

Pertama, PT Pos memiliki aset jaringan distribusi terluas di Indonesia. "PT Pos punya aset jaringan terluas, yakni 4.800 lebih titik layanan yang tidak dimiliki BUMN logistik lainnya. Ini infrastruktur yang tidak bisa dibangun dalam waktu singkat," tutur dia.

Kedua, kata Piter, penunjukan tersebut merupakan momentum transformasi yang telah dijalankan PT Pos dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kesiapan perusahaan untuk memimpin konsolidasi.

"Transformasi yang dilakukan PT Pos dalam tiga tahun terakhir menunjukkan readiness mereka. Lihat saja launching kargo internasional mereka bulan ini. Itu bukan langkah inkremental, tapi leap yang signifikan,” tandas dia.

Baca Juga

Pos Indonesia Terbitkan Sukuk Ijarah Senilai Rp 1 Triliun

Ketiga, menurut Piter, PT Pos memiliki ekuitas merek (brand equity) dan kepercayaan publik yang telah terbangun selama puluhan tahun. “Aset intangible ini penting dalam membangun kepercayaan stakeholder terhadap holding yang baru terbentuk,” tegas dia.

Dampak ke Ekonomi Digital

Piter Abdullah mengungkapkan, dari perspektif ekonomi makro, konsolidasi perusahaan-perusahaan logistik pelat merah terhadap pertumbuhan ekonomi digital dan inklusivitas ekonomi nasional memiliki potensi sangat besar. "Dari perspektif ekonomi makro, konsolidasi ini punya multiplier effect yang besar,” ucap dia.

Piter menegaskan, logistik adalah tulang punggung (backbone) ekonomi digital. “Maka ketika pelaku UMKM di daerah terpencil seperti Papua atau Maluku dapat mengirim produk mereka ke Jakarta atau bisa mengekspor dengan mudah dan terjangkau, itu menjadi game changer bagi inklusivitas ekonomi,” papar dia.

Baca Juga

Pos Indonesia dan SiCepat Ekspres Melepas Kiriman Perdana Layanan Logistik Terintegrasi

Piter menambahkan,PT Pos dengan jaringannya yang masuk hingga ke kecamatan-kecamatan terpencil dengan kapabilitas kargo internasional yang baru diluncurkan, bisa menjadi enabler bagi jutaan UMKM yang selama ini kesulitan akses logistik," ujar Piter.

Dony Oskaria sebelumnya menjelaskan, Danantara segera melakukan konsolidasi terhadap entitas BUMN di sektor logistik, di mana PT Pos Indonesia (Persero) ditunjuk sebagai induknya.

Saat ini terdapat 21 perusahaan logistik pelat merah, meliputi BUMN induk hingga anak usaha, yang sedang dalam proses integrasi. “”Yang menjadi anchor-nya yaitu PT Pos,” ujar Dony.

Konsolidasi, menurut Dony, dilakukan karena mayoritas perusahaan logistik tersebut tak memiliki model bisnis yang berkelanjutan. Malah, dari 21 entitas logistik, 20 perusahaan di antaranya masih membukukan kerugian.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024