Banyak Pengguna Instagram Terima 'Email' Reset 'Password', Ini Penjelasan Meta
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Meta angkat bicara setelah banyak pengguna Instagram melaporkan menerima email permintaan pengaturan ulang kata sandi (password reset) secara berulang dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini sempat memicu kekhawatiran publik terkait dugaan kebocoran data pengguna.
Menanggapi hal tersebut, Meta menegaskan tidak terjadi pelanggaran sistem maupun peretasan pada platform Instagram. Perusahaan memastikan keamanan akun pengguna tetap terjaga.
Juru bicara Meta menyatakan pihaknya telah memperbaiki celah yang memungkinkan pihak eksternal memicu pengiriman email pengaturan ulang kata sandi kepada sebagian pengguna. Celah tersebut memungkinkan email reset terkirim meski pemilik akun tidak mengajukan permintaan.
Baca Juga
Meta Sediakan Stablecoin untuk Pembayaran di Instagram dan WhatsApp?
“Kami telah memperbaiki masalah yang memungkinkan pihak luar meminta pengiriman email pengaturan ulang kata sandi untuk beberapa pengguna Instagram,” kata juru bicara Meta, dikutip dari DailyMail, Senin (12/1/2026).
Meta ingin meyakinkan bahwa tidak ada pelanggaran sistem dan akun Instagram pengguna tetap aman. Perusahaan juga meminta pengguna untuk mengabaikan email tersebut apabila tidak merasa melakukan permintaan reset.
Dugaan kebocoran data
Kekhawatiran publik meningkat setelah sejumlah pakar keamanan siber melaporkan dugaan kebocoran data yang disebut-sebut melibatkan sekitar 17,5 juta akun Instagram. Data yang diklaim beredar mencakup nama pengguna, alamat email, nomor telepon, hingga sebagian alamat fisik.
Baca Juga
Instagram Rilis Aplikasi Khusus iPad, Andalkan Reels untuk Bersaing dengan TikTok
Informasi tersebut pertama kali diungkap perusahaan keamanan siber Malwarebytes melalui platform X pada Desember 2025. Malwarebytes menyebut data itu diduga telah dibagikan kepada pelaku kejahatan siber di forum daring.
Meski demikian, laporan tersebut menegaskan bahwa data yang beredar tidak mencakup kata sandi akun. Namun, informasi pribadi tetap berpotensi disalahgunakan untuk pencurian identitas maupun penipuan finansial.

