IBM Bocorkan 5 Tren AI Penentu Arah Bisnis di Tahun 2026, Apa Saja?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - IBM membocorkan lima tren besar kecerdasan buatan (AI) yang diprediksi membentuk lanskap bisnis dan ekonomi digital di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, pada tahun 2026. Temuan ini menegaskan bahwa AI telah bergerak dari tahap uji coba menjadi fondasi strategis bagi proses pengambilan keputusan, operasional, dan model bisnis perusahaan.
“Masa depan dimiliki oleh organisasi yang mampu beradaptasi dengan cepat. Sovereign AI akan menjadi kunci pada 2026 karena kepatuhan dan keamanan data menjadi pondasi pertumbuhan sekaligus peluang untuk memastikan arsitektur tetap aman,” kata General Manager and Technology Leader IBM ASEAN Catherine Lian, dalam media briefing di Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Salah satu tren utama adalah meningkatnya fokus negara dan korporasi pada Sovereign AI untuk memastikan kontrol penuh atas data, model, dan infrastruktur. IBM mencatat bahwa pada 2027 sekitar 80% perusahaan multinasional di Asia Pasifik akan mengadopsi strategi kedaulatan data.
Pasar sovereign cloud di kawasan ini juga diproyeksikan melonjak menjadi US$ 169 miliar pada 2028, seiring kebutuhan akan layanan cloud yang memenuhi standar keamanan, multibahasa, dan regulasi lokal. AI juga disebut akan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi bisnis.
Baca Juga
Studi IBM: Chief AI Officer Bisa Tingkatkan ROI Perusahaan Hingga 36%
Studi IBM menunjukkan 95% eksekutif global meyakini AI mampu menciptakan sumber pendapatan tambahan, sementara CEO berkinerja terbaik menilai generative AI sebagai penggerak keunggulan kompetitif. Tantangannya, terdapat kesenjangan besar antara ambisi dan implementasi, sehingga perusahaan diminta membangun roadmap yang jelas, memperkuat keterampilan talenta, serta meninjau ulang model bisnis mereka.
IBM turut menyoroti bahwa 2026 menjadi titik awal penggunaan agen AI dalam skala besar. Sistem berbasis agen ini akan menjalankan tugas secara otonom dan terintegrasi dalam alur kerja lintas fungsi.
Meski 76% perusahaan sadar butuh arsitektur terbuka dan aman, hanya sepertiganya yang memiliki kemampuan interoperabilitas memadai. IBM menilai kesiapan teknis dan pilot project kecil menjadi langkah penting sebelum meluas ke seluruh operasi.
Sementara itu, menurut riset IBM, 95% eksekutif percaya bahwa penerimaan konsumen akan menentukan keberhasilan produk berbasis AI, sementara dua pertiga konsumen akan berpindah merek jika teknologi AI disembunyikan dari mereka. Perusahaan dinilai perlu menerapkan transparansi sejak tahap desain produk, memberi kontrol data yang jelas, dan melibatkan pelanggan setia dalam pengujian awal.
IBM juga menyampaikan bahwa era quantum advantage semakin dekat seiring meningkatnya kemampuan komputasi kuantum untuk mempercepat pelatihan model AI dan simulasi kompleks. Organisasi yang siap memasuki era ini tercatat tiga kali lebih mungkin memetik manfaat dari kolaborasi ekosistem. Karena itu, perusahaan dianjurkan mengidentifikasi peluang industri, membangun kemitraan teknologi, dan melatih agen AI menggunakan data ekosistem.
Catherine menegaskan bahwa kombinasi sovereign cloud, AI agentik, AI yang terpercaya, dan komputasi kuantum akan menjadi fondasi daya saing ekonomi digital ke depan. “Kami terus mengembangkan teknologi untuk membantu pelanggan naik ke tahap bisnis berikutnya dan berinovasi secara bertanggung jawab,” ujarnya.

