Indocement Siap Dukung Program 3 Juta Rumah, Tunggu Kejelasan Aturan Teknis Pemerintah
Poin Penting
|
BOGOR, investortrust.id — PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menyatakan kesiapan untuk mendukung program pemerintah dalam pembangunan 3 juta rumah. Namun, perseroan menegaskan perlunya kejelasan aturan teknis dan mekanisme pelaksanaan agar distribusi dan penetapan harga dapat berjalan tepat sasaran.
Direktur Indocement Antonius Marcos mengatakan bahwa Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah meminta komitmen dukungan dari asosiasi semen terkait penyediaan pasokan. Menurutnya, industri semen siap berpartisipasi, termasuk menyediakan harga khusus, selama petunjuk teknis pelaksanaannya telah ditetapkan.
“Kami siap mendukung program 3 juta rumah. Namun saat ini kami masih menantikan kejelasan aturan main dan skema teknisnya. Bagaimana penetapan pemasok, distribusi, hingga mekanisme harganya perlu ditentukan terlebih dahulu,” ujar Antonius, Selasa (11/11/2025).
Ia menjelaskan, selama kebijakan turunan belum diterbitkan, keterlibatan produsen semen swasta dalam program tersebut masih terbatas. “Saat ini suplai semen untuk program tersebut masih relatif kecil dan sebagian besar masih ditangani BUMN semen. Begitu arahan teknisnya jelas, kami siap memperkuat pasokan,” kata Antonius.
Lebih lanjut, Indocement menegaskan bahwa semen ramah lingkungan (green cement) yang mereka produksi telah memenuhi standar teknis untuk konstruksi perumahan. “Semen hijau kami sangat layak digunakan untuk pembangunan rumah rakyat. Standar kekuatannya sudah sesuai SNI, jadi siap mendukung program tersebut,” tegasnya.
Baca Juga
Indocement (INTP) Optimistis Pemulihan Permintaan Semen Baru Terjadi 2026
Antonius menambahkan, program 3 juta rumah berpotensi menjadi katalis untuk mendorong volume penjualan semen, mengingat kapasitas industri nasional masih jauh di atas tingkat konsumsi. Kapasitas industri semen Indonesia saat ini mencapai sekitar 120 juta ton per tahun, namun konsumsi baru sekitar 60 juta ton atau 50% utilisasi.
“Utilisasi industri masih rendah. Program 3 juta rumah dapat membantu menyeimbangkan kapasitas produksi nasional,” ujarnya.
Seperti diketahui, 3 juta rumah merujuk pada program prioritas pemerintah Indonesia untuk menyediakan hunian layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Program ini mencakup 1 juta rumah baru di perkotaan dan 2 juta unit rumah untuk renovasi di pedesaan dan pesisir. Program ini dirancang untuk mengurangi backlog perumahan, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Saat ini Indocement memiliki pangsa pasar sekitar 28–29%, dengan penetrasi terbesar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan. Secara kinerja, Indocement membukukan laba bersih Rp 1,06 triliun hingga kuartal III-2025, naik tipis 0,7% dibanding periode sama tahun lalu Rp 1,05 triliun. Kenaikan laba tersebut terjadi meski pendapatan turun 3% menjadi Rp 12,91 triliun.
Total volume penjualan semen dan klinker tercatat 14,44 juta ton, turun 2% dibanding tahun sebelumnya, sejalan dengan melemahnya permintaan domestik. Indocement memperkirakan permintaan semen nasional pada 2025 masih akan tertekan sekitar 2–3%, dipengaruhi pemotongan belanja infrastruktur dan daya beli yang belum pulih.
“Kami memperkirakan permintaan mulai membaik pada 2026, didorong stimulus, penurunan suku bunga, dan lanjutan insentif di sektor properti,” kata Antonius.
Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), pasar semen domestik turun 3,1% pada kuartal III-2025, terutama dari penurunan semen curah sebesar 9,8%. Meski demikian, ekspor Indocement meningkat signifikan 124,2% menjadi 423 ribu ton.
“Pangsa pasar domestik kami berada di level 29,3% pada kuartal III-2025,” ujar Antonius.
Baca Juga
Indocement (INTP) dan Anak Usaha Bakrie (BNBR) Dirikan Bangunan Berteknologi 3DCP
Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif
Indocement juga terus mengedepankan pengelolaan sampah berkelanjutan melalui pemanfaatan Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara. Upaya ini dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah, mitra industri, dan komunitas untuk mengatasi tantangan pengelolaan sampah kota.
Beberapa kerja sama strategis yang telah dijalankan antara lain dengan Provinsi DKI Jakarta melalui pemanfaatan RDF dari TPST Bantargebang berkapasitas 625 ton/hari serta RDF Plant Rorotan berkapasitas 875 ton/hari; dengan Provinsi Jawa Barat melalui kajian pemanfaatan RDF dari TPPAS Lulut Nambo berkapasitas 700 ton/hari; serta penandatanganan MoU dengan Kota Makassar untuk pengelolaan sampah berkapasitas 300 ton/hari. Selain itu, kolaborasi juga dilakukan dengan Kota Cimahi, Bandung, Bekasi, dan Kabupaten Karawang, serta kerja sama B2B dengan sejumlah pengelola sampah industri di berbagai provinsi.
Program internal Sedekah Sampah yang diluncurkan sejak 2022 juga berhasil mengumpulkan 265.572 kg sampah anorganik selama tiga tahun. Sampah ini dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif di operasional pabrik.
Di sisi lain, dalam rangka memperingati Hari Bangunan Indonesia (HBI) 2025, Indocement menunjukkan komitmen nyata terhadap pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Indocement memulai pembangunan dan renovasi rumah tidak layak huni milik Fitri di Desa Gunungsari, Kabupaten Bogor, yang rusak akibat bencana hujan angin. Proyek ini ditargetkan selesai dalam waktu tiga bulan.
Selain membangun rumah, Indocement juga berperan aktif dalam meningkatkan kompetensi tenaga kerja konstruksi. Melalui Forum Jasa Konstruksi se-Jawa Barat yang digelar bersama Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, Indocement memberikan pelatihan hard skill dan soft skill kepada 150 peserta. Forum ini diharapkan mampu mencetak tenaga kerja konstruksi yang siap menghadapi tantangan industri.

